
Malam itu Gym Iron Bull Exclusive sedang berada di puncak keramaian. Hampir 25 kuli memadati ruangan, aroma keringat, kencing, dan sperma memenuhi udara. Riko nungging di depan cermin besar sambil dientot dua kuli sekaligus. Rian berada di rak handuk, mulutnya penuh kontol sambil lubangnya dikencingi Andi. Aldo, si cleaning service piala tarkam, sedang nungging paling dalam di pinggir kolam rendam sambil mengepel lantai. Lubang itemnya yang bolong lebar sudah penuh peju dan terus meluber setiap kali ada yang creampie.
Tiba-tiba pintu gym terbuka dengan suara keras. Semua orang menoleh.
Seorang pemuda masuk dengan langkah percaya diri. Tingginya 178 cm, tubuhnya sangat berotot dan terdefinisi sempurna — bahu lebar, dada bidang tebal, six-pack yang terpahat jelas, lengan berurat tebal, dan pantat bulat montok yang terbalut celana training hitam ketat. Kulitnya putih cerah khas Chindo, rambut silver ash yang stylish, dan wajahnya tampan dengan rahang tegas serta bibir tipis. Usianya baru 21 tahun.
Riko langsung membeku. “Boss… Kevin?”
Kevin Tan, pemilik sah Gym Iron Bull Exclusive yang selama ini jarang muncul karena mengurus bisnis keluarga di Singapura, berdiri di tengah gym dengan tatapan tajam. Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan — celana bolong, lubang-lubang yang menganga, dan aroma sex yang sangat pekat.
“Apa-apaan ini?” tanya Kevin dengan suara dingin tapi tenang, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Riko buru-buru bangkit, kontolnya masih menetes. “Boss… ini… kami bisa jelasin—”
Kevin mengangkat tangan, memotong ucapan Riko. Ia berjalan mendekati Aldo yang masih nungging di pinggir kolam rendam. Tanpa bicara banyak, Kevin jongkok di belakang Aldo, lalu menarik kedua pipi pantat montok item itu lebar-lebar dengan kedua tangannya yang besar dan kuat.
“Fuck… lubang ini sudah hancur total,” gumam Kevin sambil tertawa pelan. Dua jarinya langsung masuk dengan mudah, diikuti jari ketiga dan keempat. Suara kecipak basah terdengar jelas. “Item legam, pinggirannya tebal, dalamnya lembek banget… kayak spons yang sudah ditidurin ratusan kali. Lo yang piala tarkam dari desa itu ya?”
Aldo mengangguk gemetar, suaranya serak. “Iya… Boss Kevin…”
Kevin memutar jarinya dalam-dalam, merasakan dinding lubang Aldo yang becek dan panas. “Bagus. Sangat bagus.” Ia menarik jarinya keluar, lubang Aldo tetap menganga lebar, peju putih kental menetes ke lantai.
Kevin berdiri, melepas kaosnya perlahan. Tubuh muscle-nya yang sempurna terpampang di bawah lampu neon. Dada bidang, perut six-pack, dan garis V yang tajam membuat semua kuli menelan ludah. Ia menurunkan celana trainingnya hingga lutut, memperlihatkan kontolnya yang sudah setengah tegang dan pantat putih montok yang sangat indah.
Lalu, di depan semua orang, Kevin membungkuk dalam-dalam, menarik kedua pipi pantatnya sendiri lebar-lebar. Lubangnya terlihat pink cerah, agak longgar, dan berkedut lapar — ciri khas hyper bottom yang sudah sering dipakai.
“Gue Kevin Tan, pemilik gym ini,” katanya dengan suara tegas. “Dan gue juga hyper bot. Selama ini gue main di Singapura dan Bangkok. Sekarang gue pulang… dan gue mau ambil alih gym gue sendiri.”
Suasana gym langsung meledak. Sorak kasar dan tepuk tangan memenuhi ruangan.
Kevin tersenyum mesum. “Malam ini gue declare sebagai Takeover Night. Semua aturan lama dicabut. Gue mau ngerasain sendiri apa yang kalian lakukan di gym gue.”
Kevin langsung mendekati Aldo dengan tatapan lapar. Kontolnya sudah ngaceng keras, tebal, dan berurat, ujungnya mengkilap precum. Tanpa pemanasan, ia menyodok kontolnya dengan satu hentakan kuat dan dalam ke dalam lubang item Aldo yang sudah bolong parah.
“Aaahh!” Aldo mengerang keras, tubuh kekarnya yang item legam bergoyang hebat.
“Lo piala tarkam ya? Sekarang lo jadi piala gue,” kata Kevin dengan suara serak sambil langsung menggoyang pinggulnya ganas. Pinggul putih Kevin menghantam pantat montok item Aldo keras-keras, menghasilkan suara plok-plok basah yang nyaring dan mesum memenuhi seluruh gym. Setiap hantaman membuat lubang Aldo yang sudah sangat longgar semakin becek, peju lama bercampur dengan precum Kevin keluar-masuk di pinggiran lubang yang tebal dan gelap.
“Enak banget… longgar parah… itemnya bikin gue gila,” erang Kevin sambil menampar pantat Aldo berkali-kali dengan telapak tangan besarnya. Bunyi tamparan keras “plak! plak! plak!” bergema. Pantat montok Aldo yang item legam langsung memerah terang, meninggalkan bekas tangan Kevin yang putih.
Aldo hanya bisa mengerang liar, “Boss… dalemin… kontol Boss besar… rusakin bool piala lo… ahh… enak Bang!”
Rian dipanggil maju. Kevin menjentikkan jari tanpa menghentikan hantamannya ke lubang Aldo. “Lo, satpam desa. Maju sini. Masukin kontol lo ke mulut gue.”
Rian mendekat dengan ragu tapi nafsu. Kevin langsung membuka mulutnya lebar, menelan kontol Rian hingga pangkal dalam satu gerakan. Ia mengisap dengan rakus, lidahnya menjilat batang dan kepala kontol Rian sambil tetap menggoyang pantatnya ke belakang, menyetubuhi Aldo dengan brutal.
“Lo satpam desa yang baru rusak ini? Mulut lo enak juga… isap lebih dalam!” perintah Kevin di sela-sela isapan, suaranya teredam tapi penuh dominasi. Rian menggoyang pinggulnya, fucking mulut Kevin yang hangat dan basah. Air liur Kevin menetes deras ke lantai.
Riko tidak luput dari perhatian. Kevin melirik Riko yang sedang berdiri di samping sambil menatapnya dengan nafsu. “Riko, sini. Jilat lubang gue. Bersihin sambil gue dientot.”
Riko langsung patuh. Ia jongkok di belakang Kevin, menarik pipi pantat putih montok Boss-nya lebar-lebar, lalu menjulurkan lidahnya ke lubang pink yang sudah agak longgar. Lidah Riko menjilat rakus, masuk ke dalam lubang Kevin yang berkedut haus.
Saat itu Galih dan Andi maju. Mereka sudah tidak sabar melihat lubang pink Kevin yang indah. Galih menyodok kontolnya ke dalam lubang Kevin dari belakang, mendorong Riko sedikit ke samping. Kevin mengerang keras di mulut Rian, “Ya… masukin… rusakin lubang boss kalian!”
Tak lama kemudian Cakra ikut bergabung. Kevin benar-benar hyper bottom. Ia meminta double penetration dengan suara memohon yang mesum, “Double! Masukin bareng… dua kontol sekaligus di lubang gue! Gue mau diisi semua!”
Galih dan Cakra menyodok kontol mereka bersamaan. Lubang pink Kevin yang sudah agak longgar berhasil menelan dua kontol tebal sekaligus. Kevin menggigil hebat, matanya melotot karena kenikmatan, tapi ia tetap menggoyang pantatnya liar ke belakang, meminta lebih kasar.
“Lebih dalem! Rusakin lubang boss kalian!” teriak Kevin dengan suara serak penuh kenikmatan, mulutnya masih penuh kontol Rian. “Gue mau diisi semua! Double lagi… triple kalau bisa! Hantam lebih kenceng… gue hyper bot… gue suka dihancurkan!”
Plok-plok basah semakin keras dan cepat. Kevin berada di tengah spitroast dan double penetration sekaligus. Tubuh muscle-nya yang putih berkilau keringat, six-pack-nya menegang setiap kali dua kontol menghantam prostatnya. Ia terus mengendalikan semuanya — pinggulnya menghantam Aldo, mulutnya mengisap Rian, dan lubangnya melahap dua kontol besar milik Galih dan Cakra.
Para kuli lain yang menonton hanya bisa menelan ludah dan memegang kontol mereka sendiri, menunggu giliran.
“Boss Chindo-nya gila… hyper banget!” “Lubang pinknya muat dua kontol dengan mudah!” “Piala tarkam item vs Boss pink muscle… ini pertarungan lubang terbaik!”
Kevin semakin liar. Air liurnya menetes, erangannya semakin pecah, tapi ia terus memohon, “Jangan berhenti… isi gue… tampar pantat gue… gue mau dihancurkan malam ini!”
Sesi semakin liar. Kevin dipindah-pindah posisi, doggy di matras, nungging di depan cermin sambil mulutnya melayani kontol Riko, bahkan di pinggir kolam rendam sambil Aldo dan Rian menjilat lubangnya bergantian.
Pukul 01.15 adalah puncak malam. Kevin memerintahkan keempatnya, dirinya, Riko, Rian, dan Aldo nungging berjejer di tengah matras utama. Kevin berada di tengah sebagai “Main Boss Hole”.
“Semua kuli berbaris rapi!” perintah Kevin dengan suara tegas namun penuh nafsu. Ia masih dalam posisi nungging paling tengah, pantat putih montoknya terangkat tinggi, lubang pinknya sudah agak longgar dan berkedut lapar setelah di-double penetration tadi. Di kanan kirinya, Riko, Rian, dan Aldo ikut nungging berjejer, siap menjadi tempat pembuangan massal.
“Malam ini gue mau lubang gue, lubang Riko, lubang Rian, dan lubang piala tarkam ini dibanjiri peju kalian semua! Jangan ada yang ditahan! Isi sampe meluber!”
Sorak kasar langsung meledak di seluruh gym. Puluhan kuli membentuk antrian panjang, kontol mereka sudah ngaceng keras penuh semangat. Yang pertama maju adalah Galih.
Galih langsung menyodok kontol tebalnya ke lubang pink Kevin dengan brutal. “Anjir Boss! Lubang putih montok lo ternyata pelacur kelas atas!” Ia menghantam keras beberapa kali lalu mengerang, menyemburkan peju panasnya dalam-dalam.
Kevin menggoyang pantat putihnya liar dan agresif, menekan lubangnya sendiri supaya kontol Galih masuk lebih dalam. “Isi boss lo! Creampie dalem… penuhin lubang gue yang pink ini! Ahh… panas Bang… lebih banyak lagi!”
Peju putih langsung meluber keluar dari pinggiran lubang Kevin yang rapat. Tapi Kevin malah menggoyang pantatnya lebih cepat, seolah meminta peju berikutnya.
Andi maju berikutnya, tertawa kasar. “Liat tuh Boss Chindo muscle! Badannya kekar gini, six-pack, pantat montok, tapi lubangnya minta diisi sperma kuli kampung! Hyper bot beneran lo!”
Andi creampie dengan kuat, tangannya menampar pantat Kevin keras hingga memerah. Kevin malah semakin gila, suaranya pecah penuh kenikmatan, “Ya… tampar lagi! Isi lubang gue! Gue mau 20 creampie malam ini! Jangan pelan-pelan, rojok dalem-dalem Boss lo!”
Cakra, Luki, dan beberapa kuli lain bergantian maju. Setiap kali ada yang creampie, Kevin menggoyang pantatnya seperti pelacur profesional, memutar pinggulnya, mengatup lalu menganga lubangnya untuk menelan peju sebanyak mungkin. Lubang pinknya semakin penuh, peju putih kental mulai mengalir deras ke paha putihnya yang berotot.
“Boss Chindo muscle ternyata bot gila!” ejek salah seorang kuli. “Lubang putih montoknya enak banget, kayak vagina! Putih, pink, rapat, tapi sekarang udah bolong!” “Piala tarkam item vs Boss pink… sama-sama rusak parah! Yang satu item legam, yang satu putih mulus, tapi sama-sama jadi toilet sperma!”
Kevin semakin binal dan tanpa malu. Matanya berkabut nafsu, lidahnya terjulur, air liurnya menetes. “Lebih banyak… creampie lagi Bang! Gue mau semuanya! Isi lubang gue sampe penuh… sampe meluber ke lantai! Gue hyper bot… gue suka diisi banyak… gue suka dihina… sebut gue pelacur boss! Ahh… ya gitu… hantam lebih kenceng!”
Di sampingnya, Rian, Riko, dan Aldo juga terus diisi tanpa henti. Rian mengerang sambil digoyang-goyangkan pantatnya, “Isi gue juga Bang… bool satpam desa ini milik kalian!” Riko lebih kalem tapi tetap mendesah nikmat setiap kali peju baru masuk. Sementara Aldo, si piala tarkam, justru paling liar kedua setelah Kevin — ia menggoyang pantat itemnya ganas sambil berteriak, “Creampie bool item gue… bandingin sama lubang pink Boss!”
Para kuli semakin gencar mengejek:
“Boss Kevin paling murahan! Badan mahal, lubang murah!” “21 tahun udah jadi cum dump gym! Enak ya punya gym sendiri tapi jadi pelacur di dalamnya!” “Lubang pinknya udah banjir peju… masih minta tambah! Benar-benar haus kontol!”
Kevin semakin kalap. Setelah hampir 15 creampie di lubangnya, ia masih menggoyang pantatnya liar, suaranya sudah serak dan parau, “Belum cukup… masih kurang! Isi lagi… gue mau 25 creampie! Penuhin perut gue peju… buat gue keguguran sperma besok pagi! Gue boss kalian… tapi malam ini gue pelacur terbesar di gym ini!”
Peju putih semakin banyak meluber dari lubang Kevin yang tidak bisa menutup lagi. Cairan kental menetes deras ke matras, membuat genangan putih di bawah pantat montoknya yang memerah.
Kevin menoleh ke belakang dengan senyum mesum dan tatapan gila nafsu, “Siapa lagi? Maju semua… jangan ada yang bolong… boss lo masih lapar!”
Setelah hampir 40 creampie dan beberapa ronde kencing massal, keempat lubang mereka sudah banjir parah. Kevin, Riko, Rian, dan Aldo jongkok berjejer di depan cermin besar, menarik pipi pantat masing-masing lebar-lebar. Peju putih kental menetes deras ke lantai dari lubang mereka yang menganga.
Kevin tersenyum puas sambil napasnya tersengal, tubuh muscle-nya berkilau keringat dan peju.
“Mulai besok, gym ini resmi berubah jadi Secret Sex Club Iron Bull. Renovasi besar akan dilakukan minggu depan — tambah VIP room, glory hole, sling, dan dark room. Riko jadi General Manager. Rian tetap Satpam Utama. Aldo jadi Head Cleaning Service sekaligus Resident Cum Dump. Dan gue… akan lebih sering datang main di sini.”
Kevin menatap ketiganya dengan tatapan dominan tapi mesum.
Keempatnya tertawa mesum sambil lubang mereka masih menetes peju. Malam itu ditutup dengan Kevin, Riko, Rian, dan Aldo berendam bersama di kolam rendam yang sudah penuh campuran kencing dan sperma, saling berpelukan dan berciuman di bawah lampu neon yang redup.
END OF SEASON 1
File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)
📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)




Users Today : 11
Users Last 30 days : 1162
Total Users : 1905
Views Today : 31
Views Last 30 days : 4235
Total views : 7644
Who's Online : 2