Secret Gym: Rahasia Aldo Terbongkar (Ep.10)

Secret Gym Episode 10: Rahasia Tarkam Terbongkar

Beberapa hari setelah Aldo resmi menjadi cleaning service, rutinitas di Gym Iron Bull Exclusive sudah mulai terbentuk. Aldo setiap hari muter gym dengan sapu dan kain pel di tangan, celana pendek hitam bolongnya selalu siap ditarik ke samping kapan saja. Sudah puluhan kali lubang itemnya dikencingi dan dicreampie di berbagai sudut gym, di rak barbel, depan cermin, bahkan di pinggir kolam rendam.

Pagi itu gym masih sepi. Rian dan Riko sedang membantu Aldo membersihkan lantai. Aldo lagi nungging dalam sambil mengepel kolam rendam ketika pintu gym terbuka. Galih, Andi, dan Cakra masuk sambil tertawa keras.

“Eh Bang Riko! Lo tahu nggak siapa yang lo rekrut sebagai cleaning service?” seru Galih dengan nada excited.

Riko mengangkat alis. “Aldo? Memang kenapa?”

Andi langsung menunjuk Aldo yang masih nungging. “Dia piala tarkam terkenal di desa kami! Tahun lalu kami lawan timnya di turnamen antar desa. Setelah menang, Aldo yang jadi hadiah malam itu. Kami gantian ngewe dia di gudang lapangan sampe subuh!”

Cakra menambahkan, “Boolnya emang juara. Dua kontol sekaligus muat. Makanya sekarang lubangnya item bolong parah gitu. Dia piala bergilir tim pemenang tarkam!”

Riko langsung berhenti kerja, matanya membelalak lalu perlahan menyeringai lebar. “Serius? Aldo, lo nggak cerita yang bener ke gue!”

Aldo masih dalam posisi nungging, wajahnya memerah tapi lubangnya malah berkedut pelan. “Iya Bang… gue emang sering jadi hadiah setelah pertandingan…”

Riko tertawa puas sambil menampar pantat montok Aldo keras. “Anjir, jackpot! Rahasia tarkam terbongkar di saat yang pas. Malam ini kita adain acara spesial, Tarkam Night Reunion!”

Berita menyebar seperti api di grup kuli. Malam itu gym diprediksi akan meledak.


Pukul 20.30 WIB, Iron Bull Exclusive sudah penuh sesak. Hampir 32 kuli datang, banyak yang membawa teman baru setelah mendengar kabar tentang “piala tarkam asli yang sekarang jadi cleaning service”. Lampu neon sengaja dibuat lebih redup, suasana gym terasa lebih panas dan vulgar.

Riko berdiri di tengah matras utama bersama Rian dan Aldo. Aldo sudah memakai seragam cleaning service lengkap — kaos polo hitam ketat dan celana pendek bolong super pendek.

“Malam ini spesial!” seru Riko keras. “Cleaning service kita, Aldo, ternyata mantan piala tarkam Desa Sejahtera! Malam ini dia bakal ceritain semuanya sambil nungging di depan kalian. Siapa yang mau denger cerita sambil nyobain lubang piala asli?”

Sorak kasar dan tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. Aldo ditaruh di tengah matras. Dia membungkuk sangat dalam, kedua tangan menarik pipi pantat montok itemnya lebar-lebar hingga lubang bolongnya menganga maksimal. Bagian dalam yang lembek merah gelap terlihat jelas, masih sedikit basah sisa pemakaian siang tadi.

“Cerita, Aldo. Detail semua,” perintah Riko sambil jongkok dan menjilat pinggir lubang Aldo rakus.

Aldo mengerang pelan, suaranya sudah serak nafsu. “Di desa… setiap ada pertandingan tarkam besar, gue selalu ditunjuk jadi hadiah tim pemenang. Gue nungging di tengah lapangan tanah atau gudang setelah pertandingan selesai. Satu tim… biasanya 9 sampai 13 orang… gantian ngewe gue sampe pagi. Mereka suka tampar pantat gue sampe biru, ludahin lubang gue, masukin dua kontol sekaligus, bahkan kadang tiga jari sekaligus sambil gue disuruh goyang pantat…”

Andi maju ke depan, tertawa keras. “Bener Bang! Malam itu gue yang pertama ngewe dia. Lubangnya item banget, montok, tapi udah longgar parah meski baru pertama kali buat kami. Kami creampie dia bergantian, terus kencingin sampe perutnya agak kembung. Pagi harinya dia masih nungging minta tambahan!”

Ejekan kasar beterbangan dari para kuli.

“Piala tarkam jadi cleaning service!” “Pantat desa montok, tapi lubangnya pelacur kelas atas!” “Item legam gini enak banget buat diisi!”

Galih tidak sabar. Dia langsung berdiri di belakang Aldo dan menyodok kontol tebalnya masuk sekaligus. “Ini lanjutan dari malam di gudang desa!” Hentakan brutal langsung dimulai. Suara plok-plok basah keras memenuhi gym.

Aldo mengerang keras, “Ahh… dalemin Bang Galih… rusakin bool piala lo lagi… gue suka kasar!”

Riko dan Rian ikut bergabung tanpa menunggu lama. Rian langsung berdiri di depan Aldo, menggenggam kontolnya yang sudah ngaceng keras, lalu memasukkannya ke mulut Aldo yang terbuka lebar karena erangan. Aldo langsung melahapnya rakus, lidahnya menjilat batang kontol Rian sambil mengisap kuat-kuat. Suara gluk-gluk basah keluar dari mulutnya setiap kali Rian mendorong pinggulnya ke depan.

Di belakang, Riko jongkok tepat di bawah lubang Aldo yang sedang dientot Galih. Lidahnya menjilat rakus pinggiran lubang yang meregang mengitari kontol tebal Galih. Riko menjilat dengan lapar, mengecap campuran ludah, cairan dalam Aldo, dan keringat Galih. Sesekali lidahnya ikut masuk ke samping kontol Galih, membuat lubang Aldo semakin becek dan licin.

“Enak banget rasanya,” gumam Riko di antara jilatan. “Lubang piala tarkam ini lembek dan panas di dalam. Tiap kali Galih dorong, dinding dalamnya keluar masuk kayak lagi ngisep kontol.”

Tak lama kemudian, Cakra dan Andi maju dengan mata penuh nafsu. Mereka sudah tidak sabar. Galih menarik kontolnya keluar sebentar, memberi ruang. Cakra dan Andi langsung mendekat bersama, kontol mereka yang tebal dan berurat saling berdempetan di depan lubang item Aldo yang sudah menganga lebar.

“Gue duluan,” kata Cakra sambil menyodok masuk. Begitu kontolnya masuk, Andi langsung ikut mendorong. Dua kontol tebal masuk bersamaan dengan mudah ke dalam lubang Aldo yang sudah sangat dower.

“Anjir… longgar banget!” ejek Cakra sambil tertawa kasar. “Masuknya kayak masuk mentega! Lubangnya nggak lawan sama sekali, langsung nganga lebar nerima dua kontol sekaligus!”

Mereka berdua mulai menghantam keras secara bergantian dan bersamaan. Suara plok-plok basah yang keras dan mesum memenuhi seluruh gym. Tubuh Aldo yang kekar bergoyang hebat setiap kali dua kontol itu menghantam dalam-dalam. Rian di depan semakin cepat menggoyang pinggulnya, kontolnya masuk keluar mulut Aldo hingga air liur Aldo menetes deras ke lantai.

Aldo mengerang liar meski mulutnya penuh, suaranya teredam, “Lebih kenceng Bang… tampar pantat gue… gue biasa diginiin tim tarkam!”

Tamparan demi tamparan mendarat keras di pantat montok Aldo yang sudah memerah terang. Galih, Cakra, dan Andi bergantian menamparnya dengan telapak tangan kasar mereka. Setiap tamparan membuat pantat Aldo bergoyang dan lubangnya berkedut mengisap dua kontol yang sedang mengisinya. Beberapa kuli lain yang menonton ikut meludahi lubang Aldo setiap kali ada sedikit jeda, ludah mereka bercampur dengan cairan yang sudah becek di dalam, membuat lubangnya semakin licin, basah, dan berbusa.

Aldo dipindah-pindah posisi tanpa ampun. Pertama doggy di tengah matras, lalu dibawa ke depan cermin besar. Di sana ia disuruh nungging sambil pura-pura mengepel lantai dengan satu tangan, sementara dua orang tetap menghantam lubangnya dari belakang. Pantat montok itemnya terpantul jelas di cermin, memperlihatkan betapa longgar dan rusaknya lubangnya.

Posisi terakhir malam itu, Aldo dibawa ke pinggir kolam rendam. Ia disuruh mengepel pinggiran kolam sambil tetap nungging dalam-dalam. Galih, Cakra, dan Andi bergantian double penetration di sana, suara plok-plok basah bercampur dengan bunyi air kolam yang tergenang. Aldo hanya bisa mengerang dan goyang pantatnya minta lebih kasar, matanya sudah berkabut total, pikirannya hanya penuh kenikmatan menjadi piala tarkam yang kini jadi milik seluruh gym.

Pukul 23.45 adalah puncak acara malam itu. Lampu neon gym sengaja diredupkan, suasana semakin panas dan pengap. Riko berdiri di tengah matras dengan senyum puas, suaranya menggelegar.

“Waktunya Circle Creampie Tarkam Massal! Semua kuli berbaris rapi. Malam ini lubang piala tarkam asli kita bakal dibanjiri peju kota sampai meluber!”

Aldo ditaruh persis di tengah matras utama, posisi nungging paling dalam. Kedua lututnya lebar, punggungnya melengkung, pantat montok itemnya terangkat tinggi. Rian dan Riko nungging di kanan kirinya sebagai “tim pendukung”, siap menarik pipi pantat Aldo lebih lebar setiap kali ada yang creampie. Lubang bool Aldo yang sudah sangat rusak menganga lebar, pinggirannya tebal dan item gelap, bagian dalamnya merah lembek penuh campuran ludah, kencing, dan peju sebelumnya.

Semua kuli berbaris rapi membentuk antrian panjang. Yang pertama maju adalah Andi.

“Terima peju kota, piala desa!” teriak Andi sambil menyodok kontolnya yang sudah ngaceng maksimal ke dalam lubang Aldo. Hanya butuh dua hentakan kasar sebelum ia mengerang dan menyemburkan peju panasnya dalam-dalam.

Aldo langsung mengerang keras, suaranya sudah pecah dan penuh nafsu, “Ahh… panas Bang Andi! Isi dalem… penuhin bool cleaning service gue… lebih banyak lagi Bang… gue mau peju semua kuli!”

Rian dan Riko langsung menarik kedua pipi pantat Aldo lebar-lebar, memperlihatkan lubang yang berkedut menelan peju Andi. Peju putih kental langsung meluber sedikit keluar dari pinggiran.

Kuli kedua, Galih, maju sambil tertawa kasar. “Liat tuh piala tarkam! Tadi sok jantan di desa, sekarang nungging minta diisi peju kota kayak pelacur murahan!” Ia mendorong kontol tebalnya masuk, menghantam beberapa kali lalu creampie dengan kuat. Aldo menggoyang pantatnya liar, meminta lebih dalam.

“Terus Bang Galih! Rojok bool gue… isi sampe penuh… gue suka peju kuli kekar… jangan pelan-pelan Bang, gue mau kasar!”

Cakra maju berikutnya. “Wah si Aldo binal banget! Lubang itemnya nganga minta tambah. Piala tarkam kok jadi sperm toilet gym sekarang?” Ia creampie dengan banyak erangan, pejunya yang banyak membuat lubang Aldo semakin penuh dan meluber deras.

Aldo semakin gila. Matanya sudah berkabut nafsu total, suaranya tidak malu-malu lagi. “Lebih banyak Bang… creampie lagi… penuhin bool gue sampe meluber ke lantai! Gue cleaning service… tugas gue nerima semua peju kalian… rojok dalem-dalem… gue ketagihan Bang!”

Kuli demi kuli maju bergantian. Ada yang menampar pantat Aldo sambil creampie, ada yang meludahi lubangnya sebelum memasukkan kontol, ada pula yang mengejek keras:

“Desa kirim piala, kota yang nikmatin!” “Bool montok item gini cuma buat jadi tempat pembuangan sperma!” “Liat dia goyang pantatnya… bener-bener pelacur tarkam!” “Semalam di desa cuma satu tim, sekarang hampir 30 orang pada gantian. Longgar permanen nih lubang!”

Aldo semakin liar dan binal. Setiap kali peju baru masuk, ia menggoyang pantatnya kuat-kuat, menekan lubangnya sendiri supaya kontol masuk lebih dalam. “Ahh… ya Bang… isi lagi… creampie bool gue… gue mau semua… jangan ada yang tersisa! Penuhin sampe perut gue kembung peju… gue suka… gue suka banget jadi pelacur gym!”

Riko dan Rian ikut menambah ejekan sambil menjaga posisi Aldo tetap terbuka lebar. Riko menampar pantat Aldo, “Dengar tuh, piala desa. Semua kuli pada mau nunggingin lo tiap hari mulai sekarang.”

Setelah 27 kuli creampie berturut-turut, lubang Aldo sudah benar-benar banjir. Peju putih kental mengalir deras seperti air terjun kecil dari lubang yang tidak bisa menutup lagi. Bagian dalamnya terlihat penuh, meluber ke paha dan lantai matras. Aldo masih menggoyang pantat pelan, suaranya lemah tapi penuh nafsu, “Masih kurang Bang… ada yang mau tambah lagi? Gue masih lapar… rojok bool gue lagi…”

Para kuli yang melihat pemandangan itu tertawa keras dan semakin bergairah. Beberapa yang sudah creampie pun kembali antri untuk ronde kedua.

Peju putih kental meluber deras dari lubang yang sudah tidak bisa menutup. Setelah 27 creampie berturut-turut, lubang Aldo seperti sungai kecil yang mengalir peju. Riko memerintahkan Aldo jongkok di depan cermin besar, menarik kedua pipi pantatnya paling lebar mungkin.

“Lihat semuanya!” seru Riko bangga. “Ini lubang piala tarkam asli yang sekarang resmi jadi milik gym. Item, bolong permanen, becek peju kental, dan siap diisi kapan saja. Mulai besok, Aldo akan keliling gym setiap sore dan malam dengan seragam cleaning service. Kalian boleh pakai dia sesuka hati — jilat, kencing, creampie, double, atau bahkan fisting.”

Aldo, dengan napas tersengal dan tubuh gemetar, menambahkan dengan suara serak, “Gue… gue milik kalian semua sekarang. Dari piala tarkam desa… jadi pelacur cleaning service gym Iron Bull…”

Para kuli bertepuk tangan kasar dan tertawa puas. Beberapa kuli yang masih bergairah langsung melakukan kencing massal ke lubang Aldo yang menganga lebar. Cairan kuning bercampur peju putih mengalir deras ke lantai, membuat Aldo harus segera “membersihkan” dengan mulutnya di bawah perintah Riko.

Malam itu berakhir menjelang pukul 02.30. Aldo, Rian, dan Riko bertiga jongkok berjejer di depan cermin besar, lubang mereka semua rusak parah dan penuh cairan lengket. Riko menepuk pundak Aldo dengan puas.

“Rahasia tarkam lo sudah terbongkar total. Mulai sekarang, lo bukan cuma cleaning service biasa lagi… lo adalah piala utama gym ini.”

Aldo menoleh ke Rian, matanya penuh kepuasan dan nafsu yang semakin dalam. “Gue… gue mau terus di sini, Bang.”

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *