Kos Panas: Alvin dan Reza Makin Berani (Ep.3)

Beberapa hari setelah Reza pertama kali berhasil merusak lubang Alvin, nafsu keduanya semakin liar dan sulit dikendalikan. Reza kini mulai berani menggoda Alvin di tempat-tempat semi-publik di dalam kos.

Malam itu pukul 11 lewat, Reza mengirim chat singkat: Reza: “Kamar mandi lantai 2, bilik paling ujung. Sekarang. Jangan pakai baju.”

Alvin yang sudah tidak sabar langsung keluar kamar hanya memakai celana pendek tipis tanpa baju. Begitu masuk bilik kamar mandi, Reza sudah menunggu dengan kontol setengah ngaceng.

Tanpa basa-basi, Reza membalik tubuh Alvin menghadap dinding, menurunkan celana pendeknya, lalu memaksa Alvin nungging. Dia meludahi lubang Alvin dua kali dan langsung menekan kepala kontol 26 cm-nya yang besar ke lubang yang masih agak sempit.

“Aaahh… Mas… pelan dulu…” desah Alvin.

“Pelan apaan, lonte taik!” Reza menutup mulut Alvin erat dengan telapak tangannya, lalu mendorong pinggulnya kuat.

Blesss!

Separuh kontol masuk kasar. Reza mulai menggenjot cepat dan pendek. Plok! Plok! Plok! Plok!

Baru beberapa menit, tiba-tiba pintu kamar mandi utama terbuka. Langkah kaki masuk ke bilik sebelah. Suara orang buang air kecil terdengar jelas dari dinding tipis.

Alvin langsung panik, tubuhnya menegang hebat. Reza yang merasakan itu malah tersenyum mesum dan terus menggenjot pelan tapi dalam, tangannya semakin erat menutup mulut Alvin.

“Shhh… diem lo, lonte haus kontol,” bisik Reza di telinga Alvin. “Ada orang di sebelah. Kalau lo berisik, kita ketahuan.”

Orang di bilik sebelah mulai buang air besar, suara “krrrrt… krrrrt” terdengar jelas. Alvin gemetar ketakutan, tapi lubangnya justru semakin mencengkeram kontol Reza. Reza sengaja menggoyang pinggulnya pelan, membuat kepala kontolnya menggesek titik sensitif Alvin berulang kali.

Air liur Alvin menetes dari sela jari Reza. Matanya melotot karena campuran takut dan kenikmatan yang gila. Reza menampar pantatnya pelan sambil terus mengentot diam-diam.

Beberapa menit kemudian, orang itu selesai, mencuci tangan, dan keluar. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Reza langsung melepaskan tangannya dan menggenjot Alvin dengan brutal.

Plok! Plok! Plok! Plok!

“Ahh… ahh… Mas Reza… hampir ketahuan… enak banget…” erang Alvin.

Reza menampar pantat Alvin keras. “Lonte bangsat! Lo semakin basah pas takut ketahuan. Dasar exhibitionist murahan!”

Reza menyemburkan pejuhnya di dalam lubang Alvin, lalu memasukkan dua jarinya untuk menahan sperma agar tidak keluar. “Tahan di dalam. Balik ke kamar lo begini.”


Keesokan harinya, Alvin semakin berani. Dia mulai keluar kamar hanya memakai celana pendek super pendek yang ketat, dada montok putihnya terekspos, paha mulusnya bergoyang setiap kali berjalan. Setiap ada penghuni kos lewat, Alvin sengaja membungkuk atau jongkok di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar.

Puncaknya terjadi sore hari. Alvin pura-pura membersihkan lantai kamarnya sambil nungging tinggi di kasur. Pintu kamar terbuka lebar. Bool mulus Alvin yang pink dan masih sedikit becek bekas entotan Reza semalam terpampang jelas ke lorong.

Beni, Cakra, dan Dika yang lewat langsung berhenti. Mereka menatap pantat montok Alvin yang menggoda dengan mata lapar. Alvin sengaja menggoyang pantatnya pelan, lubang boolnya terbuka sedikit, seolah mengundang tatapan mereka.

Reza yang mengamati dari kejauhan tersenyum lebar. Alih-alih marah, dia justru sangat terangsang melihat Alvin yang semakin murahan.

Malam harinya, Reza masuk ke kamar Alvin dengan kontol sudah ngaceng.

“Lo berani banget ya, lonte taik,” kata Reza sambil melepas bajunya. “Nungging di depan pintu terbuka biar bool dower lo dilihat Beni sama Cakra? Lo emang mau jadi lonte kos sekarang?”

Alvin berlutut, wajahnya memerah tapi matanya penuh nafsu. “Maaf Mas… tapi Alvin suka dilihat… Alvin haus kontol…”

Reza tertawa puas. “Gue suka lo semakin binal. Malam ini gue hajar bool dower lo sampai lo jerit-jerit.”

Reza mendorong Alvin ke kasur dan langsung merimming lubangnya dengan rakus. Lidahnya menjilat dan mengebor dalam-dalam. Alvin mendesah liar, pinggulnya mendorong ke belakang.

Setelah lubang Alvin basah kuyup, Reza mengentotnya dengan brutal di berbagai posisi. Mulai dari doggy, lalu Alvin naik ke pangkuan Reza dan naik turun seperti pelacur, kemudian telentang dengan kaki ditindih ke dada, dan terakhir berdiri sambil memegang pintu kamar yang sengaja dibuka sedikit.

Plok! Plok! Plok! Plok!

“Uhh… ahh… Mas Reza… lebih keras… hajar lonte bangsat lo ini!!” jerit Alvin tanpa malu lagi.

Reza menampar pantatnya keras. “Pelan lo berisik, lonte haus kontol! Bayangin kalau Beni lewat dan denger lo jerit begini. Dia pasti langsung pengen ngentotin bool dower lo yang murahan ini!”

Alvin semakin gila. “Iya Mas… liat aja… Alvin mau dilihat… mau jadi lonte umum Mas Reza… ahh… entot terus!!”

Reza menggenjot tanpa ampun sampai akhirnya dia crot berkali-kali di dalam lubang Alvin. Pejuh panas memenuhi perut Alvin hingga meluber deras.

Sebelum pergi, Reza memasukkan dildo 17 cm ke lubang Alvin yang penuh sperma.

“Tahan sperma gue di dalam malam ini. Besok pagi gue cek. Kalau ada yang bocor, gue suruh lo nungging di teras biar semua orang liat bool dower lo yang penuh pejuh gue.”

Reza meludahi wajah Alvin, “Cuihhh!”, lalu menepuk pipinya.

“Terus goda cowok-cowok lain. Gue suka liat lo semakin murahan. Tapi ingat, bool dower lo ini milik gue dulu. Nanti kalau gue bosan, baru gue bagi ke yang lain. Mengerti, budak sex gue?”

Alvin mengangguk lemas, tubuhnya remuk, wajah penuh ludah, lubang penuh sperma, tapi senyum puas di bibirnya.

“Iya Mas… Alvin budak sex Mas Reza… siap jadi lonte kos kapan pun Mas mau…”

Reza tersenyum puas lalu keluar kamar, meninggalkan Alvin yang terbaring lemas dalam kepuasan yang semakin dalam.

Setelah Reza keluar kamar, Alvin terbaring lemas di kasur selama beberapa menit, napasnya masih tersengal. Lubang boolnya terasa penuh dan hangat, dildo 17 cm masih tertancap rapat menahan sperma Reza di dalam perutnya.

Tapi nafsu Alvin belum padam. Malah semakin membara.

Dengan tangan gemetar karena sisa kenikmatan, Alvin meraih pangkal dildo dan perlahan mencabutnya dari lubang boolnya. Begitu dildo keluar, lubangnya yang sudah longgar menganga lebar, dan langsung meluber keluar pejuh kental Reza yang putih pekat.

“Uhh… banyak banget…” desah Alvin mesum.

Dia menatap dildo yang benar-benar belepotan sperma Reza — batangnya licin mengkilap, bahkan ada benang-benang putih kental yang menetes. Tanpa ragu, Alvin membawa dildo itu ke mulutnya dan langsung menjilatnya rakus.

“Slurrpp… enak… pejuh Mas Reza…” gumamnya sambil menjilat dari pangkal hingga kepala dildo, membersihkan setiap tetes sperma dengan lidahnya.

Alvin semakin binal. Dia memasukkan dildo itu ke mulutnya dalam-dalam hingga tersedak, lalu mencabutnya dan langsung menempelkannya kembali ke lubang boolnya yang menganga.

Blesss!

Dildo masuk kembali ke lubangnya yang becek. Alvin menggenjotnya beberapa kali, lalu mencabut lagi dan langsung memasukkannya ke mulutnya, menjilat dan mengisap sperma Reza yang bercampur dengan cairan lubangnya sendiri.

Bool → Mulut → Bool → Mulut.

Aksi ass-to-mouth itu dilakukan Alvin dengan rakus dan tanpa malu. Dia nungging tinggi sambil memainkan dildo itu bergantian antara lubang pantat dan mulutnya, desahannya semakin mesum.

“Slurrpp… ahh… pejuh Mas Reza enak banget… Alvin lonte taik… haus kontol… haus pejuh…”

Yang tidak diketahui Alvin adalah pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Ada celah yang cukup untuk dilihat dari luar.

Beni, kuli muda berusia 27 tahun bertubuh kekar tinggi besar yang tadi ke kamar mandi saat Reza mengentot Alvin, kebetulan lewat lagi di lorong untuk mengambil rokok yang ketinggalan. Dari celah pintu, Beni langsung terpaku.

Dia melihat Alvin telanjang bulat, nungging tinggi, memainkan dildo besar yang keluar masuk antara lubang pantatnya yang menganga dan mulutnya yang rakus. Wajah Alvin penuh nafsu, lidahnya menjilat sperma yang menetes dari dildo dengan penuh kenikmatan.

Beni langsung merasa kontolnya ngaceng keras di dalam celana pendeknya. Matanya melebar, napasnya memburu. Tubuh kekarnya yang penuh otot menegang, tangannya tanpa sadar meremas kontolnya sendiri dari luar celana.

“Anjing… itu Alvin? Lonte beneran…” gumam Beni pelan, matanya tidak bisa lepas dari pemandangan pantat mulus Alvin yang terbuka lebar dan aksinya yang sangat mesum.

Alvin yang sedang asik memainkan dildo tidak menyadari ada orang yang mengintip. Dia semakin liar, memasukkan dildo hingga pangkal ke lubang boolnya, menggenjot beberapa kali, lalu mencabutnya dan langsung menelan dildo itu ke tenggorokannya sambil mendesah mesum.

Beni menggigit bibirnya kuat-kuat, kontolnya sudah ngaceng maksimal sampai menonjol jelas di celana. Nafsunya meledak melihat mahasiswa Chindo yang polos itu ternyata begitu binal.

Setelah puas bermain sendiri, Alvin akhirnya ambruk ke kasur dengan napas tersengal, dildo masih tertancap setengah di lubang boolnya yang penuh sperma. Wajahnya penuh cairan, bibirnya belepotan.

Beni yang masih mengintip dari celah pintu akhirnya mundur perlahan dengan kontol keras dan pikiran kacau. Sebelum pergi, dia sempat mengambil foto diam-diam dengan HP-nya, lalu berjalan cepat menuju kamarnya sambil mengatur napas.

Di dalam kamar, Alvin tersenyum puas sambil mengelus lubangnya yang masih penuh. Dia tidak tahu bahwa aksi mesumnya malam ini sudah dilihat orang lain dan itu baru permulaan dari kebinalannya yang semakin tak terkendali.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *