Kos Panas: Mulai Melayani (Ep. 4)

Sore itu lorong lantai dua kos Mawar Panas terasa pengap dan panas. Beni (27 tahun), Cakra (23 tahun), dan Dika (22 tahun), ketiganya kuli bangunan bertubuh kekar berotot, sedang lesehan santai di lantai lorong sambil merokok dan minum kopi hitam. Tubuh mereka gelap sawo matang, penuh otot keras dari kerja kasar seharian, lengan tebal berurat, dada bidang, dan perut rata.

Beni, yang paling tua dan paling besar badannya, tiba-tiba nyengir lebar sambil merendahkan suara. Matanya berkilat mesum.

Cakra dan Dika langsung melotot kaget, mulut mereka terbuka lebar.

“Gue punya cerita gila banget semalam,” bisiknya sambil melirik ke kiri-kanan. “Gue lewat depan kamar Alvin malem-malem. Pintunya agak terbuka. Anjing… dia telanjang bulat, nungging tinggi di kasur. Dia masukin dildo gede banget ke boolnya pelan-pelan, terus dicabut dan langsung diisap ke mulutnya sendiri. Mulut ke bool gila. Lubangnya becek banget, penuh pejuh, terus dia jilat dildo itu kayak lagi ngisep kontol beneran. Kontol gue langsung ngaceng sampe susah tidur semalem.”

“Serius lu, Bang?” tanya Cakra sambil menggaruk selangkangannya yang sudah mulai tegang.

Beni tertawa pelan, lalu mengeluarkan HP-nya. “Gue rekam diam-diam. Nih, liat sendiri.”

Dia memutar video rekaman itu. Di layar HP terlihat jelas Alvin telanjang bulat, nungging tinggi, memasukkan dildo 17 cm ke lubang boolnya yang pink dan becek, lalu mencabutnya dan langsung memasukkannya ke mulutnya dengan rakus. Desahan mesum Alvin samar-samar terdengar dari rekaman.

“Anjinggg… beneran lonte ya anak itu,” umpat Cakra sambil mengocok kontolnya dari luar celana.

“Gila… mulus banget boolnya. Putih pink gitu. Gue mau banget ngecrot di muka dia,” tambah Dika sambil menelan ludah, kontolnya sudah ngaceng keras menonjol di celana pendeknya.

Beni nyengir puas melihat reaksi kedua temannya. “Gimana? Enak kan liatnya? Gue sampe coli dua kali semalem bayangin ini. Keliatannya polos, taunya lonte bangsat kelas atas.”

Ketiganya tertawa pelan sambil terus menatap video itu berulang, nafsu mereka semakin membara.

Saat itu Alvin muncul dari kamarnya. Dia hanya memakai celana pendek hitam super pendek yang ketat sekali, tanpa baju sama sekali. Dada montok putih mulusnya terbuka lebar, paha mulusnya yang tebal bergoyang lembut setiap kali melangkah.

Alvin sengaja lewat depan ketiga kuli itu dengan langkah lambat dan menggoda. Dia berhenti tepat di depan mereka, membalik badan, lalu membungkuk dalam-dalam seolah mengikat tali sepatu. Celana pendeknya naik tinggi hingga hampir memperlihatkan belahan pantatnya yang montok. Dia menggoyang pantatnya pelan dua kali sebelum berdiri lagi dan melirik ketiganya dengan senyum genit.

“Panas banget ya malam ini…” kata Alvin dengan suara lembut tapi penuh godaan.

Ketiganya langsung diam, kontol mereka mulai menegang cepat di dalam celana. Beni yang paling berani langsung bilang kasar, “Vin… lo sengaja ya nunjukin bool lo ke kita?”

Alvin hanya tersenyum nakal, lalu berjalan kembali ke kamarnya. Kali ini pintu kamarnya sengaja dibiarkan terbuka lebar. Beberapa menit kemudian, Alvin kembali nungging tinggi di kasur, pantatnya menghadap langsung ke pintu terbuka. Lubang boolnya yang pink mulus dan masih agak becek terlihat jelas dari lorong.

Reza yang dari tadi mengawasi dari kamar sebelah akhirnya keluar dan ikut bergabung nongkrong dengan ketiga kuli itu.

“Gimana mas? Seru kan liat lonte gue?” tanya Reza santai sambil duduk di antara mereka.

Ketiganya kaget. Beni langsung bertanya, “Lonte lo? Maksud lo Alvin itu…?”

Reza tertawa pelan. “Iya. Dia budak sex gue. Bool dowernya enak banget. Kemarin gue entotin sampe penuh pejuh. Lo bertiga mau coba juga?”

Suasana lorong langsung tegang penuh nafsu. Reza memanggil Alvin dengan suara tegas, “Vin! Sini sekarang!”

Alvin mendekat. Begitu sampai di depan keempat cowok itu, Reza langsung menarik pinggang Alvin kasar dan memutar tubuhnya.

“Nungging. Tunjukin bool lo ke mereka ini.”

Alvin patuh. Dia membungkuk dalam-dalam. Reza menurunkan celana pendek Alvin hingga jatuh ke lantai. Bool mulus Alvin yang pink, masih agak menganga, dan lelehan pejuh kental Reza dari malam sebelumnya langsung terpampang jelas di depan mata Beni, Cakra, dan Dika.

“Anjinggg… beneran becek,” desah Beni.

“Gila… mulus banget,” tambah Cakra sambil menelan ludah.

Reza menampar pantat Alvin keras dua kali.

“Lihat ini bool dower milik gue. Sudah gue isi semalam. Lo bertiga kaget? Ini lonte bangsat gue yang kemarin lo liat lagi main dildo.”

Reza membuka celananya dengan santai, mengeluarkan kontol 26 cm-nya yang sudah ngaceng keras maksimal. Batangnya tebal berurat, kepala kontolnya besar mengkilap precum, dan jembut hitam lebatnya terlihat ganas. Dia langsung memegang rambut Alvin dan mendorong kepala cowok Chindo itu ke depan dengan kasar.

“Sepong kontol gue dulu, lonte taik! Tunjukin ke mas-mas ini betapa haus kontol lo.”

Alvin langsung melahap kontol Reza dengan rakus. Mulutnya yang kecil terbuka lebar, menelan kepala kontol yang besar hingga pipinya menggembung. Dia menggerakkan kepalanya naik turun cepat, lidahnya menjilat batang tebal itu dengan penuh nafsu, mengecap setiap urat yang menonjol.

“Glok… Glok… Glok… ahh… kontol Mas Reza gede banget…” desah Alvin mesum di sela-sela mengisap, air liurnya menetes deras ke lantai lorong.

Reza memegang rambut Alvin kuat sambil menatap ketiga kuli yang sedang melotot. “Mau ikutan? Mulut lonte ini enak banget. Gratis malam ini buat lo bertiga. Ayo, jangan malu-malu.”

Beni yang paling tidak sabar langsung berdiri. Dia menurunkan celana pendeknya, mengeluarkan kontol tebal 22 cm yang berurat keras. Kontolnya gelap, kepala kontolnya lebar, dan sudah mengeluarkan precum banyak.

Alvin tanpa diperintah langsung memutar kepalanya dan melahap kontol Beni rakus sambil tangan kanannya tetap mengocok kontol Reza.

“Enak banget mulutnya, Bang!” erang Beni sambil memegang kepala Alvin dan menggenjot mulutnya kasar. “Anjing… lebih enak dari memek istri gue!”

Cakra dan Dika tidak mau kalah. Mereka berdiri, mengeluarkan kontol mereka masing-masing. Kontol Cakra 20 cm tebal berurat, kontol Dika 19 cm tapi sangat tebal seperti botol kecil. Alvin kini melayani keempat kontol itu bergantian dengan mulutnya yang sudah penuh air liur.

Dia bergantian mengisap, menjilat, dan mengemut bola-bola kontol mereka. Pipinya menggembung, air liurnya berceceran ke dagu dan lantai.

“Hisap lebih dalam, lonte bangsat!” bentak Reza sambil menampar pipi Alvin pelan. “Tunjukin betapa haus kontol lo! Lo emang lonte taik kelas atas!”

Alvin melepas kontol Reza sebentar, napasnya tersengal, tapi matanya penuh nafsu. “Iya Mas… Alvin lonte bangsat… Alvin haus kontol mas-mas semua… kasih kontol kalian ke Alvin… Alvin mau jadi pelacur lorong kos…”

Dia langsung kembali melahap dengan rakus, kali ini mencoba memasukkan kontol Reza dan Beni bersamaan ke dalam mulutnya yang sudah penuh. Mulut Alvin menganga lebar maksimal, bibirnya meregang sampai terasa sakit, tapi dia memaksa kedua kepala kontol yang besar itu masuk bersama. Lidahnya bergerak liar, menjilat dua kepala kontol sekaligus yang saling menekan di dalam mulutnya.

“Glok! Glok! Glok! Uhhk! Uhhk!” Alvin tersedak hebat, air mata mengalir deras dari sudut matanya karena deepthroat ganda, tapi wajahnya justru semakin mesum. Dia terus memaksa, kepalanya maju mundur pelan sambil mencoba menelan lebih dalam.

Cakra dan Dika mengocok kontol mereka yang tebal berurat di samping wajah Alvin, sesekali menampar pipi dan bibirnya dengan batang kontol mereka yang panas dan berat.

Reza menarik rambut Alvin ke belakang, membuat mulutnya terbuka lebar. Dia mengumpulkan ludah di mulutnya lalu meludahi mulut Alvin dengan keras.

Cuihhh!

Ludah kental Reza mendarat langsung di lidah Alvin yang terbuka. “Terima ludah gue, lonte taik!”

Belum sempat Alvin menelan, Beni ikut meludahi mulutnya. Cuihhh! Cuihhh!

Dua ludah tebal mendarat di lidah dan bibir Alvin. Cakra dan Dika tidak mau kalah, mereka bergantian meludahi mulut Alvin berkali-kali.

Cuihhh! Cuihhh! Cuihhh!

Mulut Alvin kini penuh campuran ludah keempat cowok kekar itu. Air liur tebal menetes dari sudut bibirnya, bercampur dengan air liurnya sendiri. Wajahnya semakin kotor dan basah.

“Telan ludah kami dulu, pelacur!” perintah Reza sambil menampar pipi Alvin.

Alvin menelan dengan susah payah, suaranya serak, “Enak… ludah mas… kasih lagi… Alvin suka diludahi…”

Reza tertawa kasar sambil menarik rambut Alvin lagi. “Lo dengar itu, lonte? Mereka semua mau ngentotin lo. Bool dower lo bakal jadi milik bersama mulai sekarang!”

Alvin mendesah mesum di antara kontol-kontol yang memenuhi mulutnya, “Iya… Alvin mau… Alvin mau disepong semua… kasih pejuh mas ke Alvin… Alvin haus pejuh… haus ludah…”

Mereka kembali meludahi mulut Alvin berkali-kali. Reza meludah langsung ke tenggorokan Alvin, Beni meludah ke lidahnya, sementara Cakra dan Dika meludahi wajah dan mata Alvin hingga wajah putih mulusnya semakin basah dan kotor.

“Glok! Glok! Glok! Uhhk!” Alvin tersedak tapi semakin semangat, air mata keluar karena deepthroat, tapi dia terus memaksa kontol masuk ke tenggorokannya.

“Anjing… pinter banget ngisep!” puji Dika sambil menggenjot mulut Alvin. “Muka imut gini taunya lonte haus kontol parah! Buka mulut lebih lebar, gue mau ludahin lagi!”

Cuihhh! Cuihhh!

Ludah tebal kembali mendarat di mulut Alvin yang sudah penuh. Alvin menjulurkan lidahnya seperti anjing haus, meminta lebih banyak ludah dari keempat cowok itu.

Reza menarik rambut Alvin sambil tersenyum puas. “Lo emang lonte bangsat terbaik. Mulut lo cuma buat jadi tempat ludah dan pejuh kami.”

Ketegangan semakin memuncak. Reza yang pertama tidak tahan. Dia memegang kepala Alvin kuat dan menggenjot mulutnya dalam-dalam.

“Terima pejuh gue, lonte bangsat!!”

Croootttt! Croootttt! Croootttt!

Pejuh kental panas Reza menyembur deras ke dalam mulut Alvin. Banyak sekali hingga meluber ke sudut bibir. Beni langsung menyusul, menyemprotkan sperma tebalnya ke lidah Alvin yang terbuka. Cakra dan Dika juga ikut menyemburkan pejuh mereka ke wajah, bibir, hidung, dan dada montok Alvin yang putih mulus.

Alvin terbatuk-batuk hebat, wajahnya, rambutnya, mata, dan dada montoknya benar-benar belepotan sperma putih kental dari keempat cowok. Sperma menetes dari dagunya ke lantai lorong.

Meski wajahnya kotor penuh pejuh, Alvin masih menjulurkan lidahnya, menjilat sisa sperma yang menetes di bibirnya sambil mendesah lemah, “Enak… pejuh kalian semua enak… Alvin puas banget”

Reza mengusap kepala Alvin sambil tersenyum puas.

“Bagus. Sekarang kita lanjut ke kamar gue. Kamar gue paling luas. Malam ini lonte gue bakal kita entot bareng sampai pagi.”

Keempat cowok kekar itu langsung mengangkat tubuh Alvin yang lemas. Mereka membawanya ke kamar Reza yang memang paling besar di lantai dua. Pintu dikunci rapat dari dalam.

Malam panjang Alvin baru akan dimulai.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *