Kos Panas: Alvin Si Penghuni Baru (Ep. 1)

Alvin, 19 tahun mahasiswa keturunan Chindo, baru tiba di Surabaya dengan koper kecil di tangan. Kulitnya putih mulus, wajah imut dengan bibir merah alami, dan pantatnya montok padat serta tubuhnya yang lean muscle. Karena uang keluarga sedang kacau, dia memilih kos termurah bernama “Kos Mawar”.

Reza, 25 tahun pengurus kos, langsung menyambutnya di pintu masuk. Tubuh Reza tinggi kekar, dada bidang telanjang berkeringat, sixpack jelas, dan yang paling mencuri perhatian Alvin adalah tonjolan besar di balik sempak hitam ketatnya. Kontol Reza terlihat sangat tebal bahkan dalam keadaan lemas.

“Lo Alvin ya? Kamar lo ujung kanan lantai dua. Gue Reza, tidur di kamar sebelah lo,” kata Reza sambil tersenyum lebar, tangannya menggaruk selangkangan tanpa malu.

Malam pertama itu Alvin tidak bisa tidur tenang. Dia terus teringat jendolan kontol Reza yang sangat mencolok. Bayangan kontol besar itu memenuhi pikirannya. Kontol Alvin langsung ngaceng keras. Dia mengocok pelan sambil membayangkan Reza menindihnya kasar di kasur.

Selama seminggu pertama, Alvin semakin gila. Reza tidur persis di kamar sebelah, hanya dipisah dinding tipis. Alvin sering mendengar Reza membawa cewek ke kos. Suara ranjang berderit keras, tamparan pinggul, dan desahan mesum cewek yang menjerit-jerit “Ahh Reza… gede banget… entot aku lebih keras!!” terdengar jelas sampai ke kamar Alvin.

Setiap kali mendengar itu, Alvin langsung horny berat. Dia mengeluarkan dildo 17 cm miliknya yang sudah dibawa dari rumah. Sambil menempelkan telinga ke dinding, Alvin memasukkan dildo itu ke lubang boolnya sambil mengocok kontolnya.

“Ahh… Mas Reza… entot aku kasar seperti cewek itu… rusak lubang Alvin… kontol lo pasti lebih gede… uhh… ahh…!” desah Alvin pelan tapi penuh nafsu setiap malam. Dia genjot diri sendiri mengikuti irama desahan dari kamar sebelah sampai crot berkali-kali, membayangkan dirinya yang sedang dihajar brutal oleh Reza.

Pagi harinya di akhir minggu pertama, Alvin keluar kamar untuk ke kamar mandi bersama. Dia langsung berhenti sejenak. Reza sedang nyapu lorong kos hanya memakai sempak hitam ketat dan telanjang dada. Tubuhnya berkeringat, otot-ototnya mengkilap, dada tebal, dan jendolan kontolnya pagi itu terlihat sangat besar dan setengah ngaceng.

“Pagi Mas Reza…” sapa Alvin dengan suara agak gemetar, matanya sulit lepas dari tonjolan itu.

“Pagi, Vin,” jawab Reza santai sambil terus menyapu, otot lengannya menegang.

Alvin buru-buru masuk ke salah satu bilik kamar mandi bersama untuk kencing dan cuci muka. Kontolnya sudah setengah keras hanya karena melihat Reza tadi. Setelah selesai, saat kembali ke kamar, dia melewati Reza lagi dari belakang.

Reza membungkuk sedikit saat menyapu, ototnya yang keras dan bulu jembut lebat yang keluar dari pinggir sempaknya terpampang jelas. Keringat mengalir di punggungnya yang lebar. Alvin merasa lututnya lemas. Nafsunya langsung meledak.

Sesampainya di kamar, Alvin langsung mengunci pintu… atau setidaknya dia pikir begitu. Dalam keadaan nafsu yang sudah memuncak, dia lupa benar-benar menutup pintu rapat. Daun pintu hanya tertutup separuh, menyisakan celah cukup lebar untuk dilihat dari lorong.

Alvin telanjang bulat tanpa busana. Dia mengeluarkan dildo 17 cm kesayangannya, lalu melumurinya dengan ludah dan sedikit minyak yang sudah disiapkan. Dengan nafsu membara, dia menduduki dildo itu di atas kasur, membelakangi pintu. Pantat montok putih mulusnya naik turun dengan rakus, menelan dildo hingga pangkal.

“Uhh… ahh… Mas Reza… kontol lo gede banget… pengen banget lo hajar pantat gue…” desah Alvin sambil memutar pinggulnya, pantatnya naik turun semakin cepat. Bunyi “plok plok plok” pelan terdengar dari gesekan dildo yang basah.

Tak puas dengan posisi itu, Alvin berubah posisi. Dia nungging tinggi di kasur, wajahnya menempel ke kasur, pantatnya menghadap langsung ke arah pintu yang terbuka sedikit. Lubang boolnya yang pink dan sudah agak longgar terpampang jelas. Dia meraih dildo dan memasukkannya kembali dengan kasar.

“Blesss… ahh… Mas Reza… liat pantat gue dari belakang tadi… pengen banget lo entot gue brutal… kontol lo yang gede itu… rusak bool Alvin… ahh… ahh… entot aku Mas!!”

Alvin menggenjot dildo itu dengan liar. Tangannya memegang pinggul sendiri, mendorong dildo keluar masuk lubang boolnya yang sudah becek. Setiap kali dildo masuk hingga pangkal, pantat montoknya bergoyang sensual. Desahannya semakin keras dan mesum.

“Uhh… Mas Reza… hajar lonte lo ini… bool gue dower buat kontol lo… ahh… lebih dalem… entot aku kasar seperti cewek lo semalam… Alvin haus kontol… haus kontol Mas Reza!!”

Reza yang baru selesai menyapu lorong mendengar suara desahan samar-samar. Dia mendekat ke pintu kamar Alvin dengan penasaran. Dari celah pintu yang terbuka, dia melihat pemandangan yang langsung membuat kontolnya ngaceng keras di dalam sempak.

Pantat mulus putih Alvin yang sempurna tepat menghadap ke arahnya. Dildo besar keluar masuk lubang bool pink yang sudah basah kuyup. Reza tersenyum mesum, matanya menyipit penuh nafsu. Tanpa suara, dia mengeluarkan HP-nya dan mulai merekam adegan itu dengan jelas.

Reza tak tahan lagi. Dia menyelinap masuk pelan ke dalam kamar sambil terus merekam.

“ANJING!!! LO NGAPAIN VIN?!”

Alvin tersentak kaget. Tubuhnya langsung membeku. Dia mencoba menutup tubuh telanjangnya dengan tangan, tapi dildo 17 cm masih tertancap setengah di lubang boolnya yang menganga. Wajahnya pucat sekaligus merah padam.

“Aaahhh… Mas Rezaaa!!”

Nafsu yang sudah di puncak membuat Alvin tak bisa menahan. Tubuhnya kejang hebat. Sperma putih kental menyembur deras dari kontolnya yang tak disentuh, muncrat ke kasur dan perutnya sendiri. Dia crot super kuat sambil memandang Reza dengan mata sayu penuh malu dan kenikmatan.

Reza cepat menutup pintu kamar rapat-rapat dan menguncinya. “Diem lo! Jangan berisik bangsat!” katanya sambil terus merekam.

Alvin gemetar, mencoba menarik dildo dari lubangnya, tapi Reza langsung memerintah, “Jangan dicabut! Tetap di situ!”

Reza mendekat, sudut bibirnya naik mesum. “Jadi selama ini lo denger gue ngentot cewek tiap malam, trus lo coli sambil bayangin gue entotin lo? Dasar lonte bangsat… lonte taik. Pantat lo nungging ke pintu, bool dower lo keluar masuk dildo gede sambil teriak minta kontol gue. Haus kontol banget lo ya?”

Alvin hanya bisa mengangguk malu, air mata malu bercampur kenikmatan.

Reza tertawa kasar. “Video ini bagus banget. Kalau lo gak mau gue sebar ke grup kuliah atau keluarga lo, lo harus nurut gue sekarang.”

Alvin menggeleng ketakutan. “Jangan Mas… tolong jangan disebar…”

“Kalau gitu lanjutin aksi lo tadi. Nungging lagi, genjot dildo lo sambil bilang keras-keras betapa lo haus kontol gue. Gue rekam sekalian.”

Dengan wajah merah malu, Alvin menuruti. Dia nungging kembali di kasur, pantatnya menghadap Reza. Dildo masih tertancap di lubang boolnya. Dia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun lagi, kali ini lebih vulgar dan binal.

“Uhh… ahh… Mas Reza… Alvin haus kontol Mas… kontol gede Mas Reza… entot bool dower Alvin… hajar lonte bangsat lo ini… ahh… ahh… lebih keras Mas!!”

Alvin menggenjot dildo itu dengan liar, pantatnya bergoyang-goyang menggoda. Lubang boolnya yang pink sudah becek mengeluarkan cairan bening setiap kali dildo keluar masuk.

Reza merekam sambil zoom bergantian, muka Alvin yang mesum, lalu close-up ke lubang boolnya yang sedang diregangkan dildo.

“Wah wah… liat bool dower lo ini… pink mulus tapi udah longgar dirojok dildo. Lo emang lonte taik ya? Seminggu cuma denger suara gue ngentot doang udah gini mesumnya. Haus kontol straight gue banget lo.”

Alvin semakin binal. Dia menarik dildo keluar hingga ujung, lalu memasukkannya kembali dengan kuat sambil mendesah keras, “Ahh… Mas Reza… tolong entot Alvin… kontol Mas yang asli… Alvin mau jadi lonte Mas Reza… lonte bangsat yang cuma buat puasin kontol lo… ahh… ahh… crott lagi Mas!!”

Reza terus merekam sambil mengocok kontolnya sendiri di dalam sempak, matanya penuh nafsu melihat pantat mulus Alvin yang bergoyang liar.

Tak lama kemudian, Alvin menjerit pelan. Tubuhnya kejang hebat untuk kedua kalinya. Sperma kembali muncrat deras dari kontolnya yang kecil, membasahi kasur sementara dildo masih tertancap dalam-dalam di lubang boolnya.

Reza tersenyum puas sambil mematikan rekaman. “Bagus, lonte bangsat. Video ini sekarang milik gue.”

Reza yang udah gak kuat menahan nafsu langsung melepas sempak hitamnya dengan satu gerakan kasar. Kontol 26 cm-nya langsung melompat keluar ganas, tebal berurat menonjol, kepala kontolnya besar mengkilap precum, dan jembut hitam lebat menutupi pangkal hingga naik ke perut sixpack-nya yang berkeringat.

“Mulai sekarang lo lonte bangsat gue. Lo cuma budak sex gue. Cuma buat ngisep kontol, nerima hajaran, dan ngasih bool dower lo buat gue entot kapan pun gue mau. Ngerti?!”

Alvin masih gemetar hebat sisa orgasme keduanya, napasnya tersengal, tapi matanya berkilat penuh nafsu melihat monster di depannya. Dia mengangguk lemah sambil menjawab dengan suara parau, “I-iya Mas… Alvin budak sex Mas Reza…”

Reza nyengir puas. Dia memegang kepala Alvin kasar dengan satu tangan, lalu mendorong kontol besarnya ke mulut Alvin yang masih terbuka karena nafsu.

“Hisap, lonte taik! Rasain kontol straight gue yang lo bayangin tiap malam sambil dildo lo sendiri!”

Alvin langsung melahap rakus. Mulutnya yang kecil dipenuhi kontol tebal Reza hingga pipinya menggembung. Reza tidak memberi kesempatan bernapas, langsung menggenjot mulut Alvin dengan brutal.

“Glok! Glok! Glok! Glok!” Air liur Alvin menetes deras ke dagu dan kasur. Reza memegang kepala Alvin seperti onahole murahan dan menghajar tenggorokannya tanpa ampun.

Sambil mengentot mulut Alvin, tangan kanan Reza meraih dildo 17 cm yang masih tertancap di lubang bool Alvin. Dia menariknya keluar perlahan lalu memasukkannya kembali dengan kasar.

“Blesss! Blesss!”

“Uhhk! Uhhk!” Alvin tersedak di kontol Reza, tapi pinggulnya malah mendesak ke belakang, minta lebih.

“Wah bool dower lo becek banget, sialan,” ejek Reza sambil terus menggenjot mulut Alvin. Dia mencabut dildo sepenuhnya, lalu memasukkan dua jarinya yang tebal ke lubang bool Alvin yang hangat dan licin.

“Enak ya? Lubang lo ngap-ngap minta kontol asli,” kata Reza sambil memutar jarinya di dalam, menekan dinding dalam bool Alvin yang sensitif. Sesekali dia mencolok-colok kasar sambil tertawa rendah.

Alvin hanya bisa mendengus mesum di antara kontol Reza. Matanya sudah berkaca-kaca, air liur menetes, tapi dia semakin semangat mengisap dan menjilat batang kontol yang tebal itu.

Reza semakin brutal. Dia menampar pipi Alvin pelan tapi tegas beberapa kali sambil menghajar mulutnya.

“Plak! Plak! Plak!”

“Lo lonte bangsat! Seminggu lo denger gue ngentot cewek tiap malam, sekarang lo jadi budak sex gue!”

Alvin menarik mulutnya sebentar, napasnya putus-putus, “Iya Mas… Alvin lonte bangsat Mas Reza… haus kontol Mas… tolong jadikan Alvin budak sex lo selamanya…”

Reza tertawa puas lalu meludahi wajah Alvin dua kali “Cuihh! Cuihh!”, ludahnya yang kental menempel di pipi dan bibir Alvin yang sudah belepotan air liur.

“Bagus. Lo emang lonte taik yang lahir buat kontol gue!”

Reza semakin cepat menggenjot mulut Alvin sambil jarinya terus menyetubuhi lubang bool yang semakin longgar dan becek. Tak lama kemudian, tubuh Reza menegang.

“Gue mau crot… buka mulut lo lebar-lebar!”

Reza mencabut kontolnya dengan kasar. Dia mengocok batangnya yang licin di depan wajah Alvin. Dengan raungan rendah, pejuh kental panas menyembur deras keluar.

“Crooottt! Croootttt! Croootttt!”

Semprotan demi semprotan tebal mengenai wajah Alvin, mata, hidung, bibir, pipi, bahkan rambutnya. Beberapa masuk ke mulutnya yang terbuka, sisanya meluber ke dagu dan dada putih mulusnya. Jumlahnya sangat banyak hingga wajah Alvin hampir tertutup sperma kental Reza.

“Telan semua yang masuk mulut lo. Sisanya juga lo jilat dan telan. Sekarang!”

Alvin dengan wajah penuh sperma, menjilat bibirnya sendiri, mengumpulkan pejuh yang meluber di dagu dengan jari, lalu menelannya dengan patuh. Rasa asin pahit pejuh Reza membuat kontol kecilnya kembali berdenyut.

Reza menampar pipi Alvin sekali lagi sambil tersenyum puas.

“Mulai hari ini lo resmi budak sex gue. Kapan pun gue mau, lo harus siap ngasih mulut dan bool dower lo. Mengerti, lonte bangsat?”

Alvin mengangguk lemah, suaranya serak, “Iya Mas… Alvin budak sex Mas Reza… siap kapan pun…”

Reza mengenakan sempaknya lagi, melihat Alvin yang masih telanjang, wajah dan dada penuh sperma, lubang boolnya masih menganga becek setelah dimainkan. Dia tertawa kecil lalu berbalik meninggalkan kamar tanpa kata lagi, pintu ditutup pelan.

Alvin ambruk lemas di kasur, tubuhnya gemetar, wajahnya masih belepotan pejuh kental Reza. Dia menjilat sisa sperma di bibirnya dengan tatapan kosong penuh kepuasan.

Dia sudah benar-benar jatuh. Dan dia menyukainya.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *