
Pagi setelah shift pagi yang liar itu, Riko sudah berdiri di depan pintu gym dengan senyum puas. Lubang boolnya masih terasa lengket dan longgar, tapi dia justru semakin bergairah. Hari ini adalah hari penting. Riko sudah merekrut satpam baru untuk membantu mengurus gym yang semakin ramai. Namanya Rian, 19 tahun, anak desa yang baru datang ke Jakarta. Rian bertubuh slim muscle seperti Riko, kulit gelap sawo matang, rambut cepak rapi, dan wajahnya masih polos dengan sorot mata jantan khas anak kampung. Dia datang hanya dengan tas ransel kecil dan harapan kerja keras di kota.
Riko menyambut Rian di depan pintu dengan pelukan ramah. “Selamat datang, Rian. Gue Riko, satpam senior di sini. Lo bakal bantu gue jaga gym ini.”
Rian tersenyum lebar, tangannya yang kasar dari kerja desa menjabat tangan Riko. “Terima kasih Bang. Gue dari desa, biasa kerja keras. Gue siap apa saja.”
Riko nyengir dalam hati. Dia langsung membawa Rian ke ruang locker dan memberikan seragam. Polo hitam ketat yang membalut badan Rian dengan sempurna, dan yang paling penting, celana jeans biru tua yang sudah digunting bolong besar di bagian belakang, persis seperti milik Riko. Bolongnya mulai dari pinggang sampai pertengahan paha, tanpa celana dalam.
“Pakai ini,” kata Riko santai. “Di gym ini seragamnya spesial. Biar gerak lebih leluasa.”
Rian mengangkat alis, tapi karena baru datang dan ingin terlihat profesional, dia langsung memakai jeans bolong itu. Saat dia membungkuk untuk mengancingkan, angin langsung menyentuh lubang boolnya yang masih polos. Rian merasa aneh, tapi tidak berkomentar.
Sepanjang siang Riko mengajak Rian “patroli” dan memperkenalkan gym. Riko sengaja nungging di depan Rian saat membersihkan alat, pantatnya goyang pelan, lubang boolnya terlihat jelas. Rian berusaha tidak melihat, tapi matanya sering tertuju ke sana. “Bang… celana lo bolong banget,” kata Rian pelan.
Riko tertawa kecil. “Ini standar di sini. Nanti lo juga bakal paham kenapa.”
Menjelang sore, gym mulai ramai dengan kuli yang datang setelah shift kerja. Riko sengaja membawa Rian ke sudut ruangan tempat kolam rendam kering berada. Bak besar itu sudah penuh cairan kuning kental campur peju putih tebal dari tiga hari terakhir. Bau amisnya sangat kuat.
“Ini kolam rendam khusus gym kita,” jelas Riko sambil nungging di pinggir bak. “Namanya Dry Soak Pit. Di sini kami kumpulin keringat, peju, dan kencing semua member. Lo bantu gue bersihin ya.”
Rian mengerutkan dahi, tapi karena ingin terlihat rajin, dia mendekat. Riko sengaja goyang pantat pelan di depan Rian, lubang boolnya menganga sedikit. “Liat, cara bersihinnya gini…”
Tiba-tiba dua kuli mendekat. Mereka langsung mengenali Riko dan tersenyum mesum. Tanpa banyak bicara, salah satu kuli jongkok di belakang Riko dan mulai menjilat lubang boolnya dengan rakus. Riko mengerang pelan, “Iya gitu Bang… jilatin dulu sebelum kencing.”
Rian berdiri kaku, matanya membelalak. “Bang… ini… apa-apaan?”
Riko menoleh sambil tersenyum mesum. “Ini cara kerja di gym ini, Rian. Lo dari desa, pasti belum tau. Di sini bebas. Member boleh telanjang, boleh ngewe, boleh kencing di mana saja. Dan bool gue… sama nanti bool lo… adalah tempat pembuangan utama.”
Rian mundur selangkah, wajahnya memerah. “Gue… gue nggak ngerti Bang. Ini gym atau…?”
Sebelum Rian selesai bicara, kuli kedua sudah mendekat ke Rian. Tangan kasarnya meremas pantat Rian melalui bolong jeans. “Satpam baru ya? Celananya bolong juga. Mirip Riko. Mau dicoba dulu?”
Rian panik, tapi Riko langsung memegang bahunya. “Tenang Rian. Lo cuma nonton dulu hari ini. Besok baru lo ikut.”
Malam semakin larut. Gym semakin ramai. Riko sengaja nungging di pinggir kolam rendam sambil membersihkan permukaan cairan dengan tangan. Beberapa kuli langsung mengerubung. Mereka bergantian menjilat lubang Riko yang becek, lalu kencing di dalamnya. Riko mengerang nikmat, “Terus Bang… isi bool gue… kencingin dalem…”
Rian berdiri di sudut, badannya tegang. Dia tidak bisa berpaling. Setiap erangan Riko dan suara cipratan kencing membuat tubuhnya panas. Lubang boolnya yang belum pernah disentuh terasa gatal aneh. Rian tanpa sadar meraba belakang celananya.
Riko melihat itu dan tersenyum dalam hati. “Rian, sini bantu gue.”
Rian mendekat dengan ragu. Riko langsung menarik tangan Rian dan meletakkannya di pinggir kolam. “Sentuh cairannya. Ini campuran peju dan kencing semua kuli. Hangat kan?”
Rian menyentuh cairan itu dengan jari. Rasanya lengket dan hangat. Bau amisnya membuat kepalanya pusing. Saat itu, seorang kuli mendekat ke Rian dari belakang. Tangan kasarnya menarik bolong jeans Rian, memperlihatkan lubang boolnya yang masih rapat dan pink.
“Satpam baru juga boleh dicoba ya?” kata kuli itu sambil tertawa.
Rian panik, “Bang… gue belum… gue nggak…”
Riko memegang bahu Rian dengan lembut tapi tegas. “Tenang Rian. Lo cuma dicoba sedikit hari ini. Besok baru full. Ini bagian dari pekerjaan di gym ini.”
Kuli itu jongkok di belakang Rian. Lidahnya menjilat pelan lubang bool Rian yang masih polos. Rian langsung menggigil hebat, “Ahh… Bang… apa-apaan ini…”
Lidah kuli itu semakin rakus, menjilat dan menghisap lubang Rian dengan lapar. Rian mencoba menahan erangan, tapi suaranya keluar juga. “Ahh… gatel… panas…”
Riko berbisik di telinga Rian, “Nikmatin aja. Besok lo bakal ketagihan.”
Sementara itu, kuli lain sudah mulai kencing ke lubang Riko yang masih nungging di samping. Suara cipratan kencing dan erangan Riko memenuhi ruangan. Rian merasa dunia berputar. Lubang boolnya yang baru pertama kali dijilati terasa sangat sensitif. Saat kuli itu berdiri dan mengarahkan kontolnya ke lubang Rian, Riko memegang pinggang Rian agar tidak kabur.
“Sedikit aja dulu,” bisik Riko.
Aliran kencing hangat muncrat ke lubang Rian. Rian mengerang panjang, badannya gemetar. “Panas Bang… gue… gue nggak tahan…”
Kencing itu masuk cukup banyak sebelum meluber keluar. Rian merasa perutnya hangat dan anehnya penuh. Saat kuli itu selesai, Rian masih berdiri gemetar, lubang boolnya menetes kencing.
Riko tersenyum puas sambil nungging di samping Rian. “Selamat datang di gym ini, Rian. Mulai besok, bool lo juga bakal jadi tempat pembuangan kuli semua. Tapi tenang… lo bakal suka.”
Rian tidak menjawab. Matanya masih kabut, lubang boolnya masih terasa gatal dan panas. Dia tahu, hidupnya di kota baru ini sudah berubah total.
—
Malam semakin larut, gym Iron Bull Exclusive semakin ramai dengan kuli-kuli yang datang setelah shift sore. Rian masih berdiri gemetar di pinggir kolam rendam kering, lubang boolnya menetes kencing hangat dari kuli yang baru saja menggunakannya. Badannya panas, pikirannya kacau. Dia anak desa yang biasa kerja keras di sawah dan angkat kayu, tapi sekarang dia merasa seperti berada di dunia yang sama sekali berbeda.
Riko mendekat, tangannya lembut memegang bahu Rian. “Gimana rasanya pertama kali, Rian? Lubang lo masih gatel kan?”
Rian mengangguk pelan, suaranya hampir bergetar. “Iya Bang… panas… dan… aneh. Gue nggak nyangka bakal kayak gini.”
Riko tersenyum mesum. “Itu baru awal. Sekarang lo bantu gue upgrade kolam ini. Malam ini kita bikin kolam rendam lebih penuh.”
Riko nungging di pinggir bak besar itu, pantatnya goyang pelan. Beberapa kuli langsung mendekat. Mereka bergantian menjilat lubang Riko yang sudah becek, lalu kencing di dalamnya dengan deras. Riko mengerang nikmat, “Terus Bang… isi bool gue… tambahin ke kolam…”
Rian dipaksa ikut membersihkan permukaan kolam dengan tangan. Cairan lengket itu menempel di jari-jarinya. Bau amisnya sangat kuat. Saat Rian membungkuk, seorang kuli tinggi kekar mendekat dari belakang dan menarik bolong jeans Rian lebih lebar.
“Satpam baru juga boleh ikut ya?” kata kuli itu sambil tertawa.
Rian panik, “Bang… gue belum siap…”
Tapi Riko memegang pinggang Rian agar tidak kabur. “Tenang Rian. Lo cuma dicoba sedikit lagi. Ini bagian dari pekerjaan.”
Kuli itu jongkok dan lidahnya langsung menjilat lubang bool Rian yang masih basah kencing. Rian menggigil hebat, tangannya mencengkeram pinggir bak. “Ahh… Bang… jangan… ahh…” Lidah itu rakus, menekan masuk, menjilat dinding dalam yang sensitif. Rian tidak bisa menahan erangan yang keluar dari mulutnya. “Gatel… panas… ahh…”
Kuli lain ikut mengerubung. Satu per satu bergantian menjilat lubang Rian. Rian hanya bisa gemetar dan mengerang pelan, “Lebih dalam… ahh… gue… gue nggak tahan…”
Setelah puas menjilat, kuli pertama berdiri dan mengarahkan kontolnya. Aliran kencing panas muncrat langsung ke lubang Rian. Rian mengerang panjang, perutnya terasa semakin penuh. “Panas Bang… isi dalem… gue… gue suka…”
Kuli kedua dan ketiga ikut kencing bergantian. Cairan kuning meluber keluar dari lubang Rian dan jatuh ke kolam rendam, membuat cairan di dalam bak semakin banyak dan kental. Riko nungging di samping Rian, juga sedang dikencingi oleh dua kuli. Mereka berdua nungging berdampingan, lubang mereka berdua jadi tempat pembuangan massal.
“Bagus Rian,” bisik Riko sambil mengerang. “Lo cepat belajar. Besok lo bakal ketagihan.”
Rian sudah tidak bisa berpikir jernih. Lubang boolnya terasa sangat sensitif, setiap jilatan dan cipratan kencing membuatnya gemetar. Saat kuli keempat mulai ngewe singkat ke lubangnya, Rian hanya bisa mendesah, “Ahh… dalemin Bang… gue… gue mau…”
Kuli itu ngewe dengan gerakan cepat, creampie kecil di dalam lubang Rian sebelum menarik keluar. Peju baru bercampur dengan kencing dan meluber ke kolam. Rian merasa dunianya berputar. Dia yang dulu polos anak desa sekarang sedang jongkok di pinggir kolam penuh peju dan kencing, lubangnya baru saja diisi.
Riko melihat itu dan tersenyum puas. Dia menarik Rian berdiri pelan, lalu membawanya ke tengah gym. “Sekarang lo lihat cara gue kerja.”
Riko nungging tinggi di depan sekelompok kuli yang baru datang. Mereka langsung mengerubung, menjilat lubang Riko dengan rakus, lalu bergantian kencing dan creampie. Riko mengerang keras, “Terus Bang… isi bool gue… tambahin ke kolam…”
Rian berdiri di samping, mata tidak bisa lepas. Lubangnya sendiri masih menetes kencing dan peju. Tanpa sadar tangannya meraba belakang jeans bolongnya. Riko melihat dan berbisik, “Mau nyoba lagi? Kali ini lo yang nungging sendiri.”
Rian ragu sebentar, tapi gatal di lubangnya semakin kuat. Dia akhirnya membungkuk, nungging pelan di pinggir kolam seperti yang diajari Riko. Tangan kanannya menarik bolong jeans, memperlihatkan lubang boolnya yang sudah agak longgar dan basah.
Dua kuli langsung mendekat. Satu jongkok dan mulai menjilat dengan rakus. Rian mengerang pelan, “Ahh… Bang… jilatin lagi…” Kuli kedua berdiri dan kencing langsung ke lubang Rian yang masih terbuka. Cairan hangat masuk deras, membuat Rian menggoyang pantat pelan. “Panas… isi dalem… gue suka…”
Semakin banyak kuli yang melihat Rian nungging. Mereka bergantian menjilat dan kencing ke lubangnya. Rian sudah tidak malu lagi. Dia goyang pantat pelan seperti Riko, mengerang nikmat setiap kali lidah atau kencing masuk. “Terus Bang… jilatin bool gue… kencingin dalem…”
Riko nungging di samping Rian, mereka berdua jadi tontonan utama malam itu. Lubang mereka berdua dijilati dan dikencingi bergantian. Kolam rendam semakin penuh dengan tambahan cairan dari bool Riko dan Rian.
Menjelang tengah malam, Riko menarik Rian ke tengah kolam. Mereka berdua jongkok di dalam cairan lengket yang sudah setinggi paha. Riko berbisik, “Selamat datang di gym ini, Rian. Mulai sekarang lo bukan satpam biasa lagi. Lo satpam binal, sama kayak gue.”
Rian menatap Riko dengan mata kabut nafsu. “Bang… gue… gue gabisa lupa ini. Bool gue masih gatel… gue mau lagi…”
Riko tersenyum lebar. “Besok malam kolam ini bakal kita upgrade bareng. Lo siap jadi lubang pembuangan kuli semua?”
Rian mengangguk pelan, suaranya hampir bergetar. “Siap Bang… gue mau… gue mau semua kuli pake gue juga.”
Malam itu Rian pulang dengan langkah goyang, lubang boolnya basah dan lengket, perutnya penuh kencing dan peju. Pikirannya sudah tidak bisa lepas dari sensasi yang baru dia rasakan. Riko hanya tersenyum puas di belakangnya.
Kolam rendam kering semakin penuh, dan dua satpam binal sudah siap menjadi milik gym selamanya.
File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)
📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)



Users Today : 39
Users Last 30 days : 1133
Total Users : 2080
Views Today : 141
Views Last 30 days : 4067
Total views : 8311
Who's Online : 1