Secret Gym: Malam Puncak (Ep. 5)

Malam itu pukul 20.00 WIB, gym Iron Bull Exclusive dikunci rapat hanya untuk lima belas kuli terbaik berusia delapan belas sampai dua puluh dua tahun. Udara di dalam terasa semakin panas dan lembab, bau amis peju dan kencing dari kolam rendam kering di sudut sudah sangat pekat dan menusuk hidung. Lampu neon putih menyinari ruangan luas dengan matras vinyl hitam yang lengket, alat-alat beban besi, treadmill, squat rack, dan cermin besar sepanjang dinding yang memantulkan segala gerakan maskulin di dalamnya. Tidak ada toilet dan tidak ada pancuran air. Malam ini segalanya akan ditumpahkan ke lubang bool Riko atau ke bak jacuzzi kering yang sudah penuh cairan kental.

Riko datang dengan penampilan paling mesum sepanjang musim. Kaos polo hitam ketatnya basah keringat di dada dan punggung, membuat otot slim muscle-nya terlihat jelas. Celana jeans biru tuanya sudah digunting ekstrem, bolongnya mulai dari pinggang sampai pertengahan paha atas sehingga pantat bulat kencengnya hampir sepenuhnya terpampang tanpa celana dalam. Lubang boolnya sudah sangat dower, longgar, becek, dan menganga sedikit meski belum disentuh malam itu, masih menyisakan sisa cairan kuning-putih lengket dari malam sebelumnya yang menetes pelan ke paha dalamnya.

Dia langsung mulai godaan dengan berjalan pelan mengelilingi gym. Di depan treadmill yang jalan pelan, Riko nungging dalam-dalam, tangan kanannya menarik pipi bool kanan, tangan kirinya menarik pipi bool kiri lebar-lebar supaya semua kuli bisa melihat lubangnya yang pink gelap dan basah. “Liatin nih Bang, bool satpam sudah dower permanen. Becek dari kemarin malam. Siapa mau isi dulu sebelum circle besar?” Para kuli langsung mengerubung seperti kawanan serigala lapar. Badan mereka kekar penuh otot kerja kasar, kulit sawo matang gelap, lengan tebal, dada bidang, kontol tegang siap tempur. Mereka mulai ngewe Riko bergantian dengan kasar di berbagai tempat. Ada yang dientot sambil jalan di treadmill yang pelan sehingga Riko harus menjaga keseimbangan sambil pinggulnya digoyang kasar. Ada yang mengikat tangannya longgar di squat rack sambil tiga orang bergantian memasukkan kontol mereka dengan hentakan keras. Ada pula yang membaringkan Riko di bench press sambil kencing langsung ke mulutnya yang terbuka lebar.

Celotehan kasar mereka terus mengalir tanpa henti sepanjang sesi. “Bool lo udah kayak selokan umum, Satpam!” teriak salah seorang kuli sambil tampar pantat Riko keras. “Longgar banget, enak buat kuli kasar kayak kita!” sambung yang lain sambil dorong kontolnya lebih dalam. “Terima peju gue yang banyak, pelacur murahan!” Riko hanya mengerang nikmat, badannya gemetar, “Lebih kenceng Bang… rusakin bool gue… gue suka yang brutal… jangan pelan-pelan!” Sesi bebas berlangsung hampir satu jam penuh. Riko dipindah-pindah tempat, dari treadmill ke leg press, dari bangku bench ke ruang ganti, sambil lubangnya terus diisi creampie dan kencing. Setiap kali peju meluber, Riko sengaja goyang pantat pelan supaya semua kuli bisa melihat hasilnya dengan jelas di bawah lampu neon.

Setelah semua kuli puas dengan sesi awal, circle creampie besar dimulai. Riko nungging di tengah matras utama, posisi doggy sempurna dengan pantat terangkat tinggi. Lima belas kuli berdiri melingkar mengelilinginya. Mereka bergantian memasukkan kontol ke lubang Riko tanpa jeda sedikit pun. Setiap kali satu kontol keluar, kontol berikutnya langsung menyodok masuk supaya peju tidak banyak meluber keluar. Riko teriak-teriak mesum dengan suara serak, “Isi terus… jangan keluarin… penuhin bool gue sampe meluber… gue mau penuh semua!” Para kuli tertawa kasar sambil bergantian, tangan mereka tampar pantat Riko dan tarik rambut cepaknya. “Bool lo emang tong sampah terbaik!” “Terima semua semen kuli malam ini, pelacur!” Setelah lima belas creampie berturut-turut, lubang Riko sudah sangat penuh. Saat semua mundur, Riko langsung narik kedua pipi pantatnya paling lebar di depan cermin besar. Peju putih kental mengalir deras seperti air terjun kecil ke lantai matras. “Liatin baik-baik… ini bool satpam yang udah jadi milik kalian semua. Longgar permanen dan penuh peju kuli.”

Saat suasana sedang sangat panas dan semua orang masih bernapas ngos-ngosan, ada kejutan kecil yang membuat malam itu semakin liar. Cakra yang berusia delapan belas tahun, Luki yang juga delapan belas tahun, dan Kiki yang sembilan belas tahun berdiri agak terpisah dari kelompok. Mereka bertiga dari tadi hanya nonton dengan mata lapar sambil mengocok kontol mereka pelan-pelan. Akhirnya Cakra memberanikan diri bicara keras di tengah ruangan, “Bang… gue penasaran dari dulu. Kok lo enak banget sih dientot? Lubang lo keliatan longgar dan lo jerit-jerit nikmat mulu. Gue… mau nyoba juga.” Luki langsung ikut dengan suara agak malu-malu, “Gue juga… liat lo begitu enak gue jadi pengen rasain. Tapi gue mau dicoba sama kuli lain aja, bukan Riko.” Kiki nyengir lebar dan menambahkan, “Gue juga penasaran, tapi gue mau yang kasar dikit.”

Para kuli lain langsung ribut tertawa kasar dan mengejek tanpa ampun. “Wah si Cakra ternyata suka juga jadi bottom! Tadi paling galak ngewe satpam, sekarang mau nyicip kontol!” “Lo yang sok jago, sekarang lubang lo kebuka juga ya?” “Jangan malu-malu, sini gue yang ajarin lo berdua! Pasti enak rasanya!” Riko tersenyum mesum dari posisinya yang masih nungging, lubangnya masih menetes peju. “Silakan Bang… malam ini boleh switch. Bool gue tetap utama, tapi kalau kalian mau nyoba, silakan main sama temen kalian. Gue seneng liatnya.”

Suasana langsung berubah semakin liar. Galih yang badannya paling kekar maju ke depan Cakra. “Lo mau nyoba? Gue yang ngewe lo dulu ya kecil.” Cakra mengangguk, wajahnya merah tapi kontolnya ngaceng keras. Galih dorong Cakra ke matras tepat di samping Riko, posisi doggy. Galih pelan-pelan masukkan kontolnya ke lubang Cakra yang masih rapat. Cakra langsung mengerang keras, “Ahh… sakit… tapi… enak juga…”

Galih yang badannya paling kekar mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan, kontolnya masuk lebih dalam ke lubang Cakra yang masih rapat. Cakra langsung mengerang keras, suaranya campur antara sakit dan kenikmatan yang baru dia rasakan untuk pertama kali. “Ahh… pelan dulu Bang… enak tapi… sakit juga…” Galih tertawa kasar sambil tetap mendorong maju, “Lo tadi sok jago ngewe satpam, sekarang lo yang ngerasain sendiri. Longgarin lubang lo, jangan tegang kayak gitu!” Di samping mereka, Dika sudah mulai ngewe Luki di bangku bench press dengan hentakan yang lebih cepat dan kuat. Luki menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya mencengkeram pinggiran bangku sampai jari-jarinya memutih, “Ahh… lebih pelan Bang… gue masih baru… rasanya penuh banget…” Andi yang ngewe Kiki di dekat kolam rendam kering juga ikut mengejek dengan suara keras, “Liat tuh si Kiki, kontolnya ngaceng keras padahal baru dicoba. Lo ternyata suka juga ya jadi bottom, kecil?”

Celotehan kasar dari kuli-kuli lain yang masih nonton langsung beterbangan di seluruh gym seperti hujan. “Wah si Cakra jerit-jerit lucu banget! Tadi paling galak ngewe satpam, sekarang lubangnya kebuka juga!” “Goyang pantat lo Luki, jangan cuma diam kayak patung! Pelacur baru harus belajar goyang yang bener!” “Enak kan rasanya? Sekarang lo tahu kenapa Riko selalu minta dientot kasar mulu!” “Si Kiki malah senyum-senyum, tadi sok jago top, sekarang jadi bottom murahan!” Riko sendiri masih nungging di samping mereka, tangannya meremas-remas pantatnya yang becek sambil menonton dengan senyum mesum yang lebar. “Enak kan Bang? Lubang kalian juga bisa enak kalau dicoba. Tapi ingat, bool gue tetap nomor satu malam ini. Jangan lupa balik ke gue setelah puas nyoba.”

Sesi switch berlangsung hampir tiga puluh menit yang penuh erangan dan ejekan. Galih semakin berani, hentakannya mulai lebih kuat dan dalam sehingga Cakra tidak bisa menahan erangan panjang yang keluar dari mulutnya. “Ahh… dalemin Bang… gue suka… lebih kasar lagi… jangan berhenti!” Cakra akhirnya mulai goyang pinggulnya sendiri, menyesuaikan ritme dengan Galih. Di bangku bench press, Dika sudah ngewe Luki dengan gaya doggy sambil tampar pantatnya pelan-pelan tapi kuat. Luki sekarang sudah mulai mendesah nikmat tanpa malu lagi, “Iya gitu Bang… enak… gue nggak nyangka rasanya segini… lebih dalam lagi…” Kiki yang dicoba Andi di dekat kolam rendam kering juga sudah mulai menikmati sepenuhnya, badannya bergoyang mengikuti setiap hentakan, “Ahh… enak Bang… gue suka… tampar lagi pantat gue!”

Para kuli yang tetap top terus mengejek dengan kata-kata kasar yang semakin vulgar. “Liat tuh, si kecil-s kecil pada ketagihan! Tadi sok jago top, sekarang semua jadi bottom murahan!” “Goyang lebih liar Cakra, tunjukin ke Riko cara goyang yang bener biar dia iri!” “Wah si Luki malah senyum-senyum, lubangnya pasti enak banget sekarang!” “Si Kiki kontolnya ngocor, padahal baru dicoba kontol orang!” Riko menonton sambil sesekali menggoyang pantatnya sendiri, lubangnya masih menetes sisa peju dari sesi sebelumnya. “Bagus Bang… kalian pada berani nyoba. Besok bisa switch lagi kalau mau. Tapi sekarang… balik ke gue ya. Bool gue sudah nunggu lama dan sudah becek banget.”

Setelah sesi switch selesai, para kuli yang tadi penasaran sekarang kembali ke Riko dengan tenaga baru yang jauh lebih liar dan bernafsu. Cakra mendekat duluan, kontolnya masih keras dan berdenyut, “Gue tadi nyoba, sekarang gue mau ngewe lo lebih kasar lagi, Satpam!” Dia langsung sodok kontolnya ke lubang Riko yang sudah sangat longgar dan penuh peju dari sebelumnya. “Ahh… enak banget… lubang lo longgar parah setelah diisi semua orang! Masih nyedot juga!” Luki dan Kiki ikut bergabung tanpa ragu, mereka ngewe Riko bergantian dengan hentakan brutal, seolah ingin balas dendam atas rasa malu yang mereka rasakan tadi. “Lo yang bikin gue penasaran, sekarang terima balasannya!” teriak Luki sambil tampar pantat Riko keras berkali-kali. “Gue tadi jerit-jerit, sekarang lo yang harus jerit lebih keras!” sambung Kiki sambil dorong pinggulnya dalam-dalam.

Puncak malam akhirnya kembali ke circle creampie massal yang sebenarnya. Riko nungging lagi di tengah matras utama, posisi doggy sempurna dengan pantat terangkat tinggi. Lima belas kuli, termasuk Cakra, Luki, dan Kiki yang tadi sempat menjadi bottom, berdiri melingkar mengelilinginya. Mereka bergantian memasukkan kontol ke lubang Riko tanpa jeda sedikit pun. Setiap kali satu kontol keluar, kontol berikutnya langsung menyodok masuk supaya peju tidak banyak meluber keluar. Riko teriak-teriak mesum dengan suara serak yang sudah parau, “Isi terus… jangan keluarin… penuhin bool gue sampe meluber… gue mau penuh semua malam ini!” Para kuli tertawa kasar sambil bergantian, tangan mereka tampar pantat Riko dan tarik rambut cepaknya. “Bool lo emang tong sampah terbaik di gym!” “Terima semua semen kuli malam ini, pelacur!” “Lo suka ya jadi pusat malam ini? Longgar banget lubang lo setelah kami isi!”

Setelah lima belas creampie berturut-turut, lubang Riko sudah sangat penuh dan tidak bisa nutup lagi. Saat semua kuli mundur, Riko langsung jongkok di tengah matras, napasnya tersengal-sengal. Dengan senyum mesum yang lelah tapi sangat puas dia narik kedua pipi pantatnya paling lebar di depan semua orang dan cermin besar. Lubangnya menganga sangat lebar, peju putih kental mengalir deras seperti air terjun ke lantai matras. “Liatin baik-baik… ini bool satpam yang udah rusak permanen. Malam ini kalian pada creampie gue, kencingin gue, dan bahkan ada yang nyoba jadi bottom. Mulai besok gym ini boleh switch sesuka hati… tapi bool gue tetap milik kalian semua. Siapa yang mau dateng shift pagi besok buat isi lagi?”

Para kuli tertawa kasar, tepuk tangan ramai, dan beberapa langsung kencing ke lubang Riko yang masih menganga lebar. Peju dan kencing meluber deras ke lantai matras, membuat genangan semakin besar dan lengket. Cakra mendekat ke Riko, napasnya masih ngos-ngosan, “Bang… gue ketagihan. Besok gue mau nyoba lagi… tapi gue juga mau ngewe lo lebih sering.” Riko nyengir mesum, matanya masih penuh nafsu meski badannya sudah lelah berat, “Boleh… asal bool gue tetap jadi prioritas utama. Besok shift pagi… siapa yang dateng duluan buat isi lagi?”

Malam puncak itu akhirnya berakhir dengan Riko yang puas total. Boolnya semakin longgar dan rusak, gym semakin liar, dan beberapa kuli yang tadinya pure top sekarang mulai terbuka untuk mencoba sensasi baru. Riko tersenyum puas sambil masih jongkok di tengah genangan peju dan kencing yang semakin luas. Dia tahu, mulai besok pagi, gym ini akan jauh lebih bebas, lebih mesum, dan lebih liar dari sebelumnya. Bool satpam yang longgar ini sudah resmi menjadi milik semua kuli di Iron Bull Exclusive.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *