Malam yang Berubah: (5) Makin Gila

Bonus foto buat kamu (tiap episode beda):

Malam kelima di kosan pinggir proyek sudah benar-benar gila. Setelah empat malam sebelumnya yang semakin liar, mulai dari Arsya sendirian, lalu dua kontol, tiga kontol, sampai Bima ikut jadi bot, malam ini mereka membawa satu kuli tambahan: Dodi. Dodi, 25 tahun, badannya kekar gelap seperti Putra, mulutnya paling kasar di antara mereka semua, dan nafsunya tak pernah puas. Bima yang kemarin merasakan nikmat baru sebagai bot, sekarang ingin membuat permainan semakin ekstrem. Siang tadi di proyek dia bilang ke ketiganya, “Malam ini kita gaspol full. Empat kontol lawan Arsya, dan gue juga mau ikut jadi bot lagi. Siapa yang mau minum pejuh dan air kencing dari lubang kami, silakan.”

Sekarang jam hampir 11 malam. Empat kuli bangunan: Bima, Doni, Putra, dan Dodi, berdiri mengelilingi kasur. Arsya sudah siap di tengah, badannya licin, memakai lingerie merah yang sudah sobek di beberapa tempat karena malam-malam sebelumnya. Stocking-nya robek di paha, high heels merah masih terpasang, membuat pantat bulatnya terangkat tinggi. Dia nungging di kasur, lubang pantatnya sudah menganga lebar dan basah, masih sisa creampie kering dari malam kemarin.

Dodi langsung buka suara kasar begitu melihat Arsya. “Anjirrr! Liat pelacur ini! Memek boolnya udah nganga lebar banget minta dientot empat kontol kuli bau keringet. Lo emang jalang murahan banget ya, Arsya? Kemarin tiga, sekarang tambah gue. Siap dirojo sampe perut lo penuh pejuh kami semua tanpa kondom?”

Arsya goyang pantatnya genit, suaranya sudah genit dan binal. “Iya Bang Dodi… gue pelacur empat kuli sekarang. Rojok memek pantat gue sampe rusak… gue mau banjir creampie dan air kencing kalian semua. Kontol Bang Dodi tebal banget, gue udah liat dari tadi.”

Bima nyengir sambil melepas kaosnya. “Bagus. Malam ini kita main full. Doni sama Putra, kalian mulai double di memek Arsya. Dodi, lo ambil mulutnya. Gue awas dulu dari samping.”

Doni dan Putra langsung naik ke kasur. Doni berbaring di bawah, Arsya duduk di atas kontolnya yang tebal 19 cm. Putra berdiri di belakang dan langsung mendorong kontol 21 cm-nya bareng.

“AAHHH!! Dua kontol gede lagi!! Penuh banget!! Memek gue diregangin maksimal!!” Arsya jerit keenakan, badannya gemetar.

Doni menggeram sambil ngepuk pantat Arsya keras. “Sempit masih, jalang? Kemarin tiga, sekarang tambah Dodi yang mulutnya kotor. Memek pantat lo bakal longgar permanen malam ini! Plok! Plok! Plok!”

Putra dorong kontol raksasanya lebih dalam, suaranya berat. “Rasain kontol paling gede, pelacur! Gue ngebor sampe perut lo! Lo suka ya dientot brutal sama kuli gelap? Bilang dong, minta lebih kenceng!”

Dodi tarik rambut Arsya kasar ke belakang dan masukkan kontol tebalnya ke mulut Arsya. “Isap dalam-dalam, Bangsat! Lo cuma lubang hidup buat kami berempat! Ngorok yang enak, pelacur! Gue mau liat ludah lo netes-netes kayak pelacur murahan! Glok… Glok… lebih dalam!”

Arsya tersedak tapi matanya penuh nafsu. “Glok… Glok… enak Bang Dodi… kontol lo bau keringet… gue suka…”

Bima dari samping meremas kontol Arsya yang sudah tegang keras sambil menjilati lehernya. “Lo makin binal tiap malam, Arsya. Dulu cuma gue yang entot lo, sekarang empat kontol sekaligus. Memek pantat lo resmi jadi milik kuli bangunan. Lo suka jadi pelacur kami berempat?”

“Iya Bang Bima… gue suka… gue jalang kalian… entot gue lebih brutal… gue mau pejuh kalian semua di dalem!!” Arsya menjawab dengan suara terputus-putus karena mulutnya penuh kontol Dodi.

Dirty talk mengalir deras tanpa henti.

Dodi: “Plok! Plok! Plok! Enak banget memek lo nyedot kontol gue! Lo lahir buat jadi onahole kuli ya? Gue mau crot dalem sampe pejuh gue netes dari hidung lo! Isap lebih kuat, pelacur!”

Arsya (sambil tersedak dan ludah netes): “Crot dalem semua Bang!! Isi perut gue!! Gue mau hamil sama pejuh empat kuli!! Rusak memek pantat gue!! Plok plok plok lebih kenceng!!”

Putra tertawa kasar. “Denger tuh, jalang minta hamil. Oke, gue kasih pejuh paling banyak dulu!” Dia dorong lebih ganas, kontol 21 cm-nya menghantam dalam.

Doni ikut nimbrung sambil ngepuk pantat Arsya. “Memek lo udah basah banget, nyedot dua kontol kami. Besok kita ajak lima orang ya? Lo siap ga, Arsya?”

Arsya mengangguk cepat meski mulutnya penuh. “Siap Bang… gue siap berapa pun… asal kontol kalian semua isi memek gue…”

Mereka bergantian dan kombinasi liar. Kadang double di pantat, satu di mulut, kadang triple penetration (dua di pantat, satu di mulut). Arsya jerit-jerit tanpa henti, badannya berkeringat deras.

Putra yang pertama crot. Dia dorong paling dalam sambil nggeram, “Terima pejuh gue yang paling banyak, pelacur!! Aaaarrghh!!” Pejuh kentalnya muncrat deras dan banjir di dalam lubang Arsya.

Doni menyusul tak lama kemudian. “Terima tambahan gue, jalang! Campur sama pejuh Putra di perut lo!!” Dia crot ganas, pejuhnya campur di dalam.

Dodi crot di mulut Arsya sambil memegang kepalanya kuat. “Telan semua, pelacur! Jangan ada yang tumpah! Minum pejuh gue yang kental!!”

Arsya berusaha menelan sebanyak mungkin, tapi sebagian meluber dari sudut mulutnya.

Terakhir Bima yang crot paling dalam di lubang Arsya. “Gue tambahin milik gue! Memek pantat lo sekarang penuh pejuh empat kuli!! Plok plok plok!!” Pejuhnya muncrat deras, membuat creampie empat orang langsung meluber deras dari lubang Arsya yang menganga lebar.

Arsya ambruk gemetaran di kasur, lubangnya banjir putih kental yang mengalir ke stocking robek dan kasur.

Tapi malam belum selesai. Bima belum puas. Dia nungging di samping Arsya yang masih lemas. “Sekarang giliran gue. Doni sama Putra, double gue sekarang. Dodi, lo duduk di depan gue. Gue mau rimming pantat lo sambil mereka ngentot dan ngencingin gue.”

Doni dan Putra langsung angkat kaki Bima tinggi dan mulai double penetration brutal di lubang Bima yang sudah becek.

“Ughhh!! Dua kontol lagi!! Memek gue diregangin maksimal!! Dalem banget!!” Bima mendesah kasar, suaranya serak.

Dodi duduk di depan muka Bima, buka pantatnya lebar. “Jilat pantat gue, Bang. Lo yang biasa top, sekarang rimming pantat kuli sambil dientot double.”

Bima langsung tempel lidahnya dan rimming lubang Dodi dengan rakus. “Slurp… slurp… enak banget pantat lo, Dodi… gue jilat dalem… rasa keringet lo… ahh…”

Sambil Bima rimming, Doni dan Putra ngentot ganas di lubang Bima. Tak lama kemudian mereka crot bareng di dalam.

“Terima pejuh kami, Bang!” kata Doni.

Putra menambah, “Campur di memek pantat bos kita!”

Setelah creampie, mereka langsung kencing di dalam tanpa cabut.

“Terima air kencing kami, Bang! Banjir memek pantat lo pake air kencing kuli!!” kata Putra sambil kencing deras.

Air kencing panas campur creampie langsung meleleh keluar dari lubang Bima yang menganga.

Saat itu Dodi nyengir mesum. “Gue haus, Bang. Gue mau minum peju sama kencing lo yang meleleh ini.”

Dodi langsung jongkok di belakang Bima yang masih nungging. Dia tempel mulutnya ke lubang Bima dan mulai minum lahap — creampie campur air kencing dari Doni dan Putra yang keluar. “Slurp… slurp… slurp… Enak banget… rasa pejuh Doni sama Putra campur air kencing di memek pantat Bang Bima… gue telan semua, Bangsat!”

Bima menggigil hebat karena sensasi lidah dan mulut Dodi. “Minum semuanya, Dodi… bersihin memek gue pake mulut lo yang kotor… ahh… enak…”

Sambil Dodi sibuk minum dari pantat Bima, Bima balik badan ke Arsya yang masih nungging lemas. Dia tarik pinggul Arsya mendekat, tempel mulutnya ke lubang Arsya yang penuh creampie empat orang, dan mulai menjilat lahap.

“Slurp… slurp… gue minum peju dari anus lo, Arsya… enak banget creampie kami berempat di memek pantat lo… manis asin…” Bima hisap creampie kental yang masih hangat, lidahnya masuk dalam-dalam, telan sebagian besar pejuh mereka sendiri sambil ngorok puas.

Arsya menggigil keenakan, suaranya lemah. “Bang Bima… jilat terus… bersihin memek gue… aaahh!! Lidah lo dalem banget… gue orgasme lagi…”

Dodi masih sibuk minum dari pantat Bima, sesekali angkat muka dengan bibir dan dagunya belepotan creampie + air kencing. Dia nyengir ke Arsya. “Lo berdua emang pasangan pelacur mesum. Bang Bima minum peju lo, gue minum peju dari memek Bang Bima. Kosan ini bener-bener neraka enak. Besok gue mau bawa temen lagi, lima kontol sekaligus. Kalian berdua siap ga?”

Bima angkat muka sebentar, bibirnya basah. “Siap… besok kita main lebih gila lagi. Empat kuli lawan dua pelacur. Siapa yang mau bot, siapa yang mau top… yang pasti, setiap lubang bakal banjir pejuh dan setiap mulut bakal minum peju sama kencing.”

Arsya cuma bisa mendesah lemah puas. “Siap Bang… gue makin binal tiap malam… memek pantat gue milik kalian semua… kapan pun kalian mau isi, gue nungging…”

Keempat cowok dan Arsya akhirnya ambruk di kasur yang basah kuyup. Badan mereka saling menempel, bau keringet cowok, pejuh kental, air kencing, dan aroma sex brutal memenuhi seluruh ruangan. Mereka masih saling usap dan bicara mesum pelan sambil bernapas tersengal.

Bima mengusap mulutnya yang belepotan, nyengir lebar ke semua orang. “Malam ini gila banget. Besok kita lanjut lagi. Siapa yang punya ide lebih mesum, bilang sekarang.”

Doni tertawa. “Gue mau liat Arsya dan Bang Bima nungging bareng, double double penetration.”

Putra menimpali, “Gue setuju. Dan kita semua kencing bareng di lubang mereka.”

Dodi nyengir paling lebar. “Deal. Kosan ini udah jadi tempat pelacur kuli bangunan resmi.”

Malam itu kosan kecil mereka penuh desahan, bunyi jilatan “slurp slurp”, bunyi ngentot “plok plok plok”, dan bau sex yang menyengat sampai pagi datang.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *