
Bonus foto buat kamu (tiap episode beda):
Malam ketiga, jam hampir 11 malam. Setelah dua malam sebelumnya Arsya sudah merasakan kenikmatan dari dua kontol kuli bangunan, Bima dan Doni pulang ke kosan bukan hanya berdua. Kali ini mereka sengaja membawa Putra, teman proyek baru yang 25 tahun. Putra badannya kekar gelap, kulitnya hitam legam karena sering kerja di bawah terik matahari. Otot-ototnya lebih besar dan tebal dibanding Bima dan Doni, dada bidang berotot dan lengan yang kokoh. Yang paling bikinmelotot adalah kontolnya 21 cm panjang, sangat tebal, urat-uratnya menonjol jelas, dan kepala jamurnya gede.
Di perjalanan pulang, Bima bilang sambil nyengir lebar, “Bang, ini Putra. Kontolnya paling gede di proyek. Gue cerita ke dia ada pelacur di kos yang suka dientot brutal sama kuli bangunan tanpa kondom. Dia langsung antusias.”
Putra tertawa berat, suaranya kasar. “Gue denger dia suka pake lingerie seksi dan minta diisi pejuh dalem. Malam ini gue mau isi perut pelacur itu sampe meluber.”
Begitu mereka bertiga masuk gang kosan, pintu kamar Arsya sudah terbuka lebar. Arsya sudah siap menunggu di dalam. Badannya atletis dan licin berkilau karena oli. Dia memakai lingerie hitam baru yang super seksi dan murahan: bra renda transparan yang memperlihatkan putingnya, G-string kecil yang hanya menutupi ujung kontolnya yang sudah tegang keras, stocking hitam panjang, dan high heels merah yang membuat pantat bulatnya terangkat tinggi. Arsya sedang nungging di tepi kasur, pantatnya terbuka lebar, lubang pantatnya sudah diolesi oli dan sedikit menganga karena tadi dia main dildo sambil menunggu.
Arsya menoleh ke belakang. Matanya langsung melebar ketika melihat tiga cowok kekar telanjang masuk kamar. “Bang Bima… Bang Doni… dan Bang Putra? Kontol Bang Putra… gede banget… gue takut tapi pengen banget…”
Bima langsung mendekat dan menarik Arsya berdiri. “Malam ini lo jadi onahole tiga kuli bangunan, Arsya. Siap diisi, digendong, dan dikencingin dalem. Lo udah nunggu lama kan?”
“Iya Bang…” Arsya menjawab genit, suaranya sudah bergetar nafsu. “Gue udah siap dari jam sembilan. Memek pantat gue udah dioles oli tebal. Gue mau tiga kontol gede kalian malam ini.”
Mereka bertiga langsung melepas baju yang tersisa. Tiga badan kekar telanjang berdiri mengelilingi Arsya. Kontol Bima 18 cm tebal berurat, kontol Doni 19 cm super tebal di pangkal, dan kontol Putra 21 cm yang paling besar dan menakutkan.
Pertama mereka mulai di kasur. Bima dan Doni naik ke kasur, langsung melakukan double penetration. Dua kontol masuk bersamaan ke lubang Arsya yang sudah basah.
“Plok! Plok! Plok! Plok!” Bunyi tabrakan keras memenuhi kamar.
“AAHHH!! Dua kontol lagi… penuh banget!! Memek gue diregangin!!” Arsya jerit keenakan sambil mencengkeram seprai.
Doni menggeram sambil dorong pinggulnya maju. “Memek pantat lo makin longgar tiap malam, jalang! Tapi masih enak nyedot kontol kami.”
Putra maju ke depan Arsya, memegang kepalanya dan memasukkan kontol gede ke mulutnya. “Isap kontol gue yang gede ini sambil dientot, pelacur. Gluck-gluck yang benar.”
Arsya berusaha mengisap sebisa mungkin, mulutnya penuh dengan kontol Putra. “Gluck… gluck… gede banget Bang Putra… gue susah napas…”
Setelah beberapa menit double penetration, Putra menarik kontolnya dari mulut Arsya. “Giliran gue yang gede ini. Berdiri, gue mau gendong lo sambil ngentot.”
Putra mengangkat tubuh Arsya dengan mudah seperti mengangkat karung semen. Kedua tangannya memegang paha Arsya dan membukanya lebar. Arsya otomatis memeluk leher Putra yang tebal. Kontol Putra yang paling besar langsung ditempel ke lubang Arsya yang sudah basah campuran pejuh dari Bima dan Doni.
“Dorong pelan dulu Bang… ahh… gede banget!! Kepala kontol lo kayak kepala bayi!!” Arsya jerit saat kepala kontol Putra masuk.
Putra langsung dorong brutal sambil menggendong Arsya di udara. Tubuh Arsya naik-turun di kontol raksasa itu dengan ritme cepat.
“Plok! Plok! Plok! Plok!” Bunyi basah keras terdengar tiap kali pantat Arsya bertabrakan dengan perut Putra yang keras.
“Gimana? Kontol paling gede di proyek ngebor memek pantat lo! Lo suka ya, pelacur?” tanya Putra sambil terus menggendong dan mengentot.
“Iya Bang Putra!! Kontol lo ngena perut gue!! Entot gue sambil gendong… gue mau digenit-genitin gini terus!! Lebih kenceng Bang!!” Arsya jerit-jerit keenakan, kontolnya ngocor precum ke perut Putra yang gelap.
Bima dan Doni nonton sambil mengocok kontol mereka sendiri. Bima tersenyum puas. “Lihat itu Don, pelacur kita lagi digendong sama kontol monster. Besok kita ajak lebih banyak lagi ya?”
Doni mengangguk. “Setuju Bang. Memeknya makin bisa nampung.”
Setelah puas menggendong, Putra menurunkan Arsya. Bima bilang, “Ganti posisi. Kita ngewe depan pintu kos. Biar siapa aja yang lewat gang bisa denger pelacur kita jerit.”
Mereka pindah ke depan pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka lebar. Arsya diberdirikan menghadap pintu, tangannya memegang kusen pintu. Putra berdiri di belakang dan langsung memasukkan kontolnya dengan posisi standing doggy.
“Plak! Plak! Plak! Plak!” Pantat Arsya kena tabrakan perut Putra yang keras dan berotot.
Doni maju ke depan Arsya, memasukkan kontolnya ke mulut Arsya. “Isap kontol gue sambil dientot, jalang! Gluck yang dalam.”
Bima ikut meremas puting Arsya dari samping dan menjilati lehernya. “Lo sekarang pelacur umum kuli bangunan. Tiap malam memek pantat lo bakal dirotasi tiga kontol gede kami. Lo siap kan?”
“Iya Bang Bima… gue siap… gue pelacur kalian bertiga… entot gue lebih keras… gue mau jerit sampe seluruh kos denger!!” Arsya menjawab dengan suara terputus-putus karena mulutnya penuh kontol Doni.
Mereka bergantian ngentot Arsya di depan pintu itu dengan ganas. Kadang Putra yang dalem dan brutal, kadang Doni yang cepat, kadang Bima yang ikut memasukkan kontolnya. Arsya jerit tanpa henti, suaranya pasti terdengar ke kamar-kamar kos sebelah.
Akhirnya mereka kembali ke kasur untuk creampie finale.
Putra yang pertama mencapai puncak. Dia angkat kedua kaki Arsya tinggi-tinggi dan mendorong kontolnya paling dalam. “Terima pejuh gue yang paling banyak, pelacur!!” Pejuh kental panasnya muncrat deras dan banyak di dalam lubang Arsya, banjir karena kontolnya paling besar.
Doni langsung gantian, mengentot cepat di atas pejuh Putra. “Gue crot juga! Campur sama pejuh Putra di perut lo!! Plok! Plok! Plok!” Dia crot deras, pejuhnya campur dengan milik Putra.
Terakhir Bima. Dia mengentot paling brutal sambil bicara kotor. “Memek pantat lo sekarang penuh pejuh tiga kuli! Gue tambahin milik gue biar lo banjir!! Plok! Plok! Plok!” Bima crot dalam-dalam. Sperma ketiganya campur jadi satu, lubang Arsya tidak muat lagi, creampie putih kental langsung meleleh deras keluar ke stocking dan kasur.
Lubang Arsya menganga lebar, merah, penuh campuran pejuh tiga cowok yang terus mengalir.
Bima langsung jongkok di belakang Arsya yang masih nungging. “Sekarang gue mau jilat creampie kalian. Tapi sebelum itu…” Dia menoleh ke Doni dan Putra. “Kalian berdua ngencingin anus Arsya sekarang. Isi memek pantatnya pake air kencing sambil gue jilat pejuh yang keluar.”
Doni dan Putra nyengir mesum. Mereka berdiri di kiri-kanan Arsya yang nungging tinggi. Bima langsung menempelkan mulutnya ke lubang Arsya dan mulai menjilat creampie kental yang meleleh.
“Slurp… slurp… slurp…” Lidah Bima bekerja lahap.
Sambil Bima menjilat, Doni pegang kontolnya dan mulai kencing. Air kencing panasnya muncrat langsung ke lubang Arsya yang masih penuh pejuh. “Terima air kencing gue, jalang. Campur sama pejuh kami di dalem memek lo.”
Putra ikut kencing dari sisi lain. Pancaran air kencingnya lebih deras dan banyak. “Gue tambahin juga. Banjir memek pantat lo pake air kencing kuli gelap gue!”
Bima terus menjilat tanpa berhenti. Lidahnya menjilat campuran pejuh + air kencing yang keluar dari lubang Arsya, menelan sebagian, menghisap creampie yang tersisa. Sesekali air kencing muncrat ke muka dan lidah Bima, tapi dia malah semakin lahap.
“Slurp… slurp… slurp… enak banget… rasa pejuh tiga kuli campur air kencing di memek pantat pelacur gue…”
Arsya gemetar hebat, suaranya sudah serak. “Bang… gue penuh… air kencing sama pejuh banjir di perut gue… Bang Bima jilat terus… aaahhh!! Gue ga tahan… enak banget!!”
Setelah Doni dan Putra selesai kencing, lubang Arsya banjir campuran putih-kuning yang terus meleleh deras. Bima masih menjilat dalam-dalam, membersihkan sebisa mungkin sambil mengorok puas.
Arsya ambruk lemas di kasur, badannya penuh keringet, pejuh, dan air kencing. Dia nyengir lemah dengan wajah puas mesum.
“Besok… bawa berapa orang lagi, Bang? Memek bool gue siap buat berapa kontol kuli sekaligus…”
Bima mengusap mulutnya yang belepotan. “Kita lihat nanti. Yang pasti, lo sekarang resmi pelacur tetap tiga kuli bangunan ini. Tiap malam lo harus siap nungging pake lingerie, lubang udah dioles oli, nunggu kami datang.”
Arsya mengangguk lemah. “Iya Bang… gue pelacur kalian bertiga… kapan pun kalian mau, memek pantat gue siap diisi pejuh, dijilat, dan dikencingin dalem…”
Kamar kosan malam itu dipenuhi bau menyengat keringet cowok, pejuh, air kencing, dan aroma sex brutal yang terus bergema sampai pagi.
File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)
📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)




Users Today : 116
Users Last 30 days : 858
Total Users : 859
Views Today : 444
Views Last 30 days : 3852
Total views : 3853
Who's Online : 1