Tiga hari setelah kejadian memalukan di kamarnya, Alvin hidup dalam siksaan nafsu yang tak tertahankan. Setiap kali bertemu Reza di lorong kos, tubuhnya langsung bereaksi. Reza tahu betul efek yang ditimbulkannya.
Pagi hari pertama, Reza sengaja keluar kamar hanya memakai sempak hitam ketat. Kontolnya sudah setengah ngaceng, tonjolannya sangat jelas, bahkan noda precum basah tercetak jelas di kain sempaknya. Saat melewati kamar Alvin, Reza sengaja berhenti dan menggaruk selangkangannya sambil tersenyum mesum.
Alvin yang sedang berdiri di depan pintu langsung klepek-klepek. Kontol kecilnya langsung ngaceng di balik celana pendek.
“Pagi, lonte taik,” bisik Reza pelan sambil lewat. “Bool lo udah kangen kontol gue belum?”
Malam harinya, Alvin tak tahan. Saat mendengar Reza sedang membersihkan lorong kos, dia sengaja membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Alvin telanjang bulat, nungging tinggi di kasur dengan posisi pantat menghadap pintu. Dia memasukkan dildo 17 cm-nya dengan rakus sambil mendesah keras.
“Uhh… ahh… Mas Reza… liat bool dower Alvin… pengen kontol Mas yang gede… hajar lonte lo ini…”
Reza yang sedang menyapu langsung berhenti. Dari lorong dia bisa melihat jelas pantat mulus Alvin yang naik turun menggenjot dildo. Reza hanya diam sambil mengocok kontolnya di dalam sempak, tersenyum mesum.
Keesokan harinya, Alvin semakin binal. Dia mengirim foto-foto mesum ke WA Reza. Foto pertama: dirinya nungging di kamar mandi bersama, jari dua dimasukkan ke lubang boolnya yang sudah agak longgar. Foto kedua: close-up lubang boolnya yang pink dan becek. Foto ketiga: dirinya memegang dildo sambil menulis “Haus kontol Mas Reza” di perutnya dengan spidol.
Reza yang melihat chat itu langsung ngamuk sange. Sepanjang siang dia mengurung diri di kamar dan coli berkali-kali. Pejuhnya yang banyak dan kental sengaja ditampung di botol plastik kecil yang bersih.
Malam hari ketiga, Reza datang ke kamar Alvin dengan botol itu di tangan. Pintu dikunci rapat.
“Lo berani banget godain gue terus, lonte bangsat,” kata Reza sambil melempar botol berisi sperma putih kental ke pangkuan Alvin. “Ini hadiah dari gue. Minum sekarang. Habis semua.”
Alvin menatap botol yang masih agak hangat itu dengan mata lapar. Tanpa banyak bicara, dia membuka tutupnya dan menenggaknya langsung di depan Reza. Rasa asin pahit pejuh Reza yang pekat memenuhi mulutnya. Alvin meneguk berkali-kali, ada yang meluber di sudut bibirnya.
Reza merekam semuanya dengan HP-nya sambil tersenyum puas. “Minum pelan-pelan, lonte taik. Rasain pejuh straight gue.”
Sambil Alvin menenggak sperma, Reza mendekat dan meludahi wajahnya berkali-kali. “Cuihh! Cuihh! Cuihh!” Ludah kental Reza menempel di pipi, hidung, dan bibir Alvin yang sudah belepotan sperma.
“Gue sange banget gara-gara lo,” desis Reza. “Sekarang nungging. Tunjukin bool dower lo.”
Alvin langsung patuh. Dia nungging tinggi di kasur, pantat montoknya yang putih mulus terbuka lebar. Reza berlutut di belakangnya, membuka belahan pantat Alvin dengan kedua tangan, lalu menempelkan lidahnya ke lubang bool yang masih pink.
“Uhh… Mas Reza… ahh!” Alvin menggelinjang saat lidah Reza menjilat lubangnya dengan rakus. Reza rimming dengan brutal, lidahnya menekan masuk ke dalam lubang yang masih sempit, menjilat dinding dalam bool Alvin yang hangat.
“Enak banget bool dower lo… manis,” gumam Reza sambil terus menjilat dan mengisap lubang itu. Lidahnya masuk semakin dalam, mengebor lubang Alvin dengan rakus. Alvin mendesah seperti pelacur, pinggulnya mendorong ke belakang minta lebih.
Tak tahan lagi, Reza berdiri di belakang Alvin yang masih nungging tinggi. Dia melumuri kontol 26 cm-nya yang sudah ngaceng maksimal dengan ludah dan precum yang melimpah, lalu menekan kepala kontolnya yang besar dan tebal ke lubang bool Alvin yang masih basah bekas rimming.
“Siap-siap, lonte bangsat! Ini pertama kali kontol gue beneran masuk ke bool dower lo yang sempit!”
“Aaahhh… pelan Mas… gede banget… sakittt!!” jerit Alvin saat kepala kontol Reza yang sebesar telur memaksa merenggangkan lubangnya. Rasa perih yang menyengat membuat air matanya langsung mengalir, tubuhnya gemetar hebat. Tapi Reza tidak peduli. Dia menahan pinggang ramping Alvin dengan kedua tangan kuat dan terus mendorong pinggulnya tanpa ampun.
“Relaks bool dower lo, lonte taik! Lo yang godain gue tiap hari, sekarang terima konsekuensinya! Hisap kontol gue dalam-dalam!”
Reza menggenjot pelan tapi dalam. Hanya separuh kontolnya yang masuk, tapi sudah membuat perut Alvin terasa penuh dan tertekan. Reza tampar pantat montok Alvin berkali-kali dengan keras.
Plak! Plak! Plak! Plak!
“Uhh… ahh… Mas Reza… sakit… tapi enak… entot lagi Mas… hajar lonte bangsat lo ini!!” Alvin mendesah campur aduk antara kesakitan dan kenikmatan.
Reza semakin bringas mendengar desahan Alvin. Dia tarik rambut Alvin ke belakang dan mulai menggenjot lebih cepat. Suara benturan keras paha Reza ke pantat Alvin memenuhi kamar kecil itu, “plok plok plok plok” diselingi makian kotor mereka berdua.
“Anjing… bool dower lo sempit banget! Masih susah masuk full, lonte haus kontol!” geram Reza sambil terus menghajar.
Setelah beberapa menit di posisi nungging, Reza mencabut kontolnya yang sudah licin penuh cairan. Lubang Alvin menganga lebar, merah, dan sedikit meluber precum.
“Ganti posisi, lonte! Duduk di pangkuan gue!”
Reza duduk di pinggir kasur, kontolnya berdiri tegak seperti tiang. Alvin naik ke pangkuannya dengan kaki mengangkang, menghadap Reza. Dia memegang bahu Reza lalu menurunkan pinggulnya perlahan. Kepala kontol Reza kembali masuk ke lubangnya.
“Ahh… ahh… Mas… terlalu gede… ngisi perut Alvin…” erang Alvin sambil gigit bibir. Tapi dia terus menurunkan tubuhnya hingga hampir separuh kontol Reza tenggelam di dalam bool dower-nya.
Reza memegang pinggang Alvin dan mulai mengangkat turunkan tubuhnya dengan kasar. “Naik turun cepat, lonte bangsat! Tunjukin seberapa haus kontol lo sama gue!”
Plok! Plok! Plok! Plok!
Alvin naik turun liar di pangkuan Reza, pantat montoknya memantul-mantul. Kontolnya sendiri ngaceng keras dan menggesek perut sixpack Reza. “Uhh… Mas Reza… kontol lo ngena banget di dalem… hancurkan bool Alvin… Alvin lonte taik Mas Reza!!”
Reza menampar susu Alvin dan mencubit puttingnya keras. “Bagus… bool dower lo mulai longgar! Makin dalam lagi!”
Tak puas, Reza mendorong Alvin hingga telentang di kasur. Dia angkat kedua kaki Alvin ke bahunya dan memasukkan kontolnya kembali dalam satu dorongan kuat.
“Aaaahhhh!!! Mas… dalem banget!!” jerit Alvin.
Reza menggenjot dalam posisi missionary dengan brutal. Setiap dorongan membuat kasur berderit keras. “Lihat muka lo yang mesum, lonte haus kontol! Lo lahir buat jadi tempat crot kontol gue!”
Plok! Plok! Plok! Plok!
Mereka berganti posisi lagi. Reza mengangkat Alvin berdiri, membalik tubuhnya menghadap pintu kamar, lalu memasukinya dari belakang sambil berdiri. Alvin memegang handel pintu kuat-kuat agar tidak roboh.
“Pegangan yang kuat, lonte!” Reza memegang pinggang Alvin dan mengentotnya dengan ganas. Setiap hantaman membuat pantat Alvin bergoyang hebat. Suara benturan mereka sangat keras, pasti terdengar hingga lorong kos.
“Uhh… ahh… Mas Reza… entot Alvin lebih keras… hancurkan bool dower gue… Alvin mau jadi lonte Mas selamanya!!” Alvin mendesah tanpa malu.
Reza mencabut kontolnya lagi, berlutut, dan kembali merimming lubang Alvin yang sudah longgar dan penuh cairan. Lidahnya menjilat rakus, bahkan mengebor masuk ke dalam lubang yang sudah terbuka lebar.
“Enak banget rasanya bool dower lo yang udah gue rusak… manis campur pejuh gue,” gumam Reza sambil terus menjilat dalam-dalam.
Kemudian dia berdiri lagi dan memasukkan kontolnya kembali ke lubang yang sudah sangat basah. Ronde demi ronde berlanjut tanpa henti, nungging, dipangku, telentang, berdiri, bergantian dengan rimming brutal yang membuat Alvin menjerit kenikmatan.
Akhirnya Reza tidak tahan lagi. Dia dorong kontolnya sedalam mungkin sambil mendengus ganas.
“Gue crot di dalem, lonte bangsat!! Terima semua pejuh gue!!”
Croootttt! Croootttt! Croootttt!
Pejuh kental panas menyembur deras di dalam lubang Alvin, memenuhi perutnya hingga meluber keluar di pinggir kontol Reza. Alvin crot bersamaan, sperma kecilnya muncrat ke kasur tanpa disentuh.
Reza mencabut kontolnya perlahan, dia melihat lubang Alvin yang menganga lebar dan penuh sperma putih kental yang terus keluar sedikit demi sedikit.
“Anjing… liat bool dower lo yang udah rusak parah,” ejek Reza sambil tertawa kasar. Dia mengambil dildo 17 cm Alvin dan langsung menekannya ke lubang yang masih penuh sperma.
“Blesss… uhhk!” Alvin menggelinjang saat dildo itu mendorong pejuh Reza semakin dalam ke dalam perutnya.
“Tahan sperma gue di dalam sana, lonte bangsat! Jangan sampe setetes pun keluar malam ini. Besok pagi gue cek lubang lo. Kalau ada yang tumpah, gue bakal kasih hukuman berat. Gue undang temen-temen kos buat gantian entotin bool dower lo yang murahan ini!”
Reza meludahi wajah Alvin dengan keras, “Cuihhh! Cuihhh!” Ludah kentalnya mendarat di pipi, mata, dan bibir Alvin yang sudah belepotan.
“Bayangin aja penghuni kos lain gantian ngentotin lo di teras kos. Lo bakal jadi lonte taik kos ini. Semua kontol mereka bakal ngisi bool dower lo bergantian sampe lo ngompol minta ampun. Enak kan, lonte haus kontol?”
Alvin hanya bisa mendesah lemah, tubuhnya gemetar hebat. “Iya Mas… Alvin lonte bangsat Mas Reza… terserah Mas… asal Mas puas…”
Reza menampar pantat montok Alvin keras berkali-kali.
Plak! Plak! Plak! Plak!
“Mulai sekarang bool dower lo ini resmi milik gue! Bukan milik lo lagi. Tiap malam, tiap kali gue mau, lo harus siap ngasih lubang murahan lo buat gue entot sepuasnya. Lo cuma budak sex gue, lonte taik Chindo yang haus kontol straight! Mengerti?!”
“Iya Mas… Alvin budak sex Mas Reza… bool dower Alvin milik Mas sepenuhnya… Alvin siap dientot kapan pun Mas mau…” jawab Alvin dengan suara serak penuh kepasrahan dan nafsu.
Reza tersenyum puas melihat Alvin yang sudah hancur total. Wajahnya penuh ludah, lubangnya penuh sperma dan tertutup rapat oleh dildo besar. Dia menepuk pantat Alvin sekali lagi dengan keras.
“Bagus. Tidur malam ini dengan kontol gue di dalam. Besok pagi gue mau liat bool dower lo masih penuh pejuh gue.”
Reza berdiri, mengenakan sempaknya lagi, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi dan berkata dengan nada dingin tapi penuh ancaman:
“Kalau lo berani bocorin sperma gue, besok gue suruh seluruh lantai dua ini gantian ngentotin lo sampe lo gak bisa jalan. Ngerti, lonte bangsat?”
Alvin hanya mengangguk lemas di kasur, tubuhnya remuk-redam, wajahnya basah ludah, dan lubangnya penuh sesak dengan pejuh kental Reza yang tertahan dildo.
Reza tersenyum mesum lalu keluar kamar, meninggalkan Alvin sendirian dalam kegelapan penuh kepuasan dan kehinaan yang anehnya membuatnya semakin ketagihan.
File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)
📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)



Users Today : 6
Users Last 30 days : 1157
Total Users : 1900
Views Today : 14
Views Last 30 days : 4218
Total views : 7627
Who's Online : 1