Secret Gym: Penyambutan Staf Cleaning Service Baru (Ep. 9)

Pagi harinya, sinar matahari baru menyusup lewat jendela kos yang sempit. Rian terbangun dengan tubuh pegal dan lubang boolnya masih terasa lengket serta berat. Di sebelahnya, Aldo tidur telentang, kontolnya yang besar tergeletak di atas perut rata berotot. Rian tersenyum mesum, mengingat betapa liarnya Aldo semalam.

“Bang… bangun. Hari ini gue bawa lo ke gym,” bisik Rian sambil menggoyang bahu Aldo.

Aldo membuka mata, nyengir lebar. “Serius? Gue ikut sekarang?”

“Iya. Tapi lo bukan masuk jadi satpam. Gue sudah mikir semalam. Lo bakal gue kenalin sebagai cleaning service baru. Biar lo punya alasan resmi bolak-balik nungging di seluruh sudut gym.”

Aldo tertawa pelan, tangannya meremas pantat Rian. “Asal boleh nungging dan diisi tiap hari, gue mau aja.”

Mereka berdua mandi cepat, lalu Rian memakaikan Aldo kaos oblong hitam ketat miliknya dan celana pendek hitam yang sudah dia gunting bolong kecil di belakang sebagai “preview”. Pukul 08.30 pagi, mereka berdua berjalan menuju Gym Iron Bull Exclusive.


Riko sedang membersihkan rak barbel saat pintu gym terbuka. Dia menoleh dan langsung mengangkat alis melihat Rian datang bersama cowok kekar item legam di sampingnya.

“Bang Riko,” sapa Rian sambil tersenyum. “Ini Aldo, temen gue dari desa. Dia baru dateng ke Jakarta dan lagi cari kerja. Gue pikir… dia cocok banget buat jadi cleaning service di sini.”

Riko mendekat, matanya langsung menelusuri tubuh Aldo dari atas ke bawah. Dada bidang, lengan tebal penuh otot tarkam, perut rata, dan pantat montok yang terlihat padat meski masih tertutup celana pendek. Riko nyengir lebar.

“Cleaning service ya? Bukan satpam?” tanya Riko sambil melirik Rian.

“Iya Bang. Biar dia bisa bebas gerak ke seluruh area gym tanpa curiga. Lagian… dia punya keahlian khusus,” jawab Rian sambil mendorong Aldo maju sedikit.

Riko langsung paham. “Buka celana belakangnya, Aldo. Tunjukin barang daganganmu.”

Aldo tidak malu-malu. Dia membalikkan badan, menarik celana pendeknya ke bawah hingga lutut, lalu membungkuk dalam-dalam. Dengan kedua tangan ia menarik kedua pipi pantatnya lebar-lebar. Lubang boolnya yang item gelap, bolong lebar, dan sudah sangat dower langsung menganga jelas di depan Riko.

Riko terdiam sejenak, matanya membelalak. “Anjir… ini beneran lubang manusia?”

Dia jongkok tepat di belakang Aldo, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari lubang yang menganga itu. Bau maskulin campur sisa peju dan kencing semalam langsung menyeruak. Riko menelan ludah, lalu tertawa kasar.

“Gila bangsat… liat ini! Item legam kayak pantat negro, tapi bolongnya kayak mulut ikan mas koki yang lagi nganga minta makan. Dower parah! Gue bisa liat dalemnya langsung, dindingnya lembek merah item, basah becek gini.”

Riko menjulurkan dua jarinya, mengusap pinggir lubang Aldo yang tebal dan kenyal. Begitu disentuh, lubang itu malah berkedut pelan lalu menganga lebih lebar seolah punya nyawa sendiri. Riko mendorong dua jarinya masuk sekaligus, tanpa hambatan sama sekali. Bahkan sebelum jari-jarinya masuk sampai pangkal, lubang Aldo sudah melahapnya rakus.

“Anjir, longgar banget! Jari gue masuk kayak masuk lubang botol! Dinding dalamnya lembek banget, kayak spons basah kena air mani semaleman,” kata Riko sambil memutar-mutar jarinya dalam-dalam. Suara kecipak basah terdengar jelas setiap kali jarinya bergerak. “Becek parah. Masih ada sisa peju lo semalam ya, Rian? Lengket dan licin gini.”

Rian yang berdiri di samping tertawa mesum. “Iya Bang. Semalam Aldo gue isi dua kali creampie plus kencing. Tapi liat aja, masih muat jari lo semua.”

Riko menambahkan jari ketiganya, lalu keempatnya. Empat jari besarnya masuk nyaris tanpa perlawanan. Lubang Aldo yang item dan tebal itu menganga lebar, pinggirannya yang gelap meregang mengikuti gerakan jari Riko. Sesekali dinding dalamnya berkedut dan mengatup pelan di sekitar jari-jari Riko, seolah sedang mengisap.

“Wahh… ini lubang kelas berat,” ejek Riko sambil terus memompa jarinya keluar-masuk. “Montok di luar, tapi dalamnya kayak terowongan kereta. Longgar, basah, becek, dan hangat. Kalau kuli liat ini, mereka bakal ngantri sampe pagi. Pantat tarkam kekar item gini, tapi boolnya udah rusak permanen kayak pelacur kelas atas.”

Aldo mengerang pelan, suaranya serak karena sensasi jari Riko yang terus memutar di dalam. “Ahh… Bang Riko… dalemin aja… bool gue emang udah longgar dari desa…”

Riko menarik keempat jarinya keluar perlahan. Begitu keluar, lubang Aldo tidak langsung menutup. Ia tetap menganga lebar selama beberapa detik, memperlihatkan bagian dalam yang merah gelap, basah mengkilap, dan masih berkedut-kedut. Sejumput cairan bening kental menetes pelan dari lubang yang bolong itu ke lantai.

“Liat tuh… lubangnya nganga sendiri,” Riko tertawa puas sambil menampar pelan pinggir lubang Aldo. “Kayak lagi ngomong ‘masukin kontol lo Bang, gue lapar’. Item, tebal, dan keliatan dalam banget. Ini bukan lubang biasa lagi, ini tempat pembuangan kuli kelas satu.”

Riko menarik jarinya keluar, lalu menampar pantat Aldo keras hingga bergema. “Mulai hari ini lo resmi jadi cleaning service di Iron Bull. Tugas resmi: membersihkan lantai, rak, dan kolam rendam. Tugas sebenarnya: nungging tiap ada kuli yang mau, buka lubang lebar-lebar, dan terima semua yang mereka kasih. Gaji lo sama kayak Rian, tapi bonus tiap kali lubang lo penuh.”

Aldo nyengir. “Siap Bang. Gue siap dibikin bersih… atau dikotorin.”

Riko lalu memanggil Rian mendekat. Sepanjang siang hingga sore, mereka bertiga berlatih. Riko mengajari Aldo teknik nungging khusus cleaning service — membungkuk sambil pura-pura menyapu atau mengepel, lalu tiba-tiba menarik bolong celana sendiri dan goyang pelan. Aldo cepat sekali menangkap. Tubuh kekarnya membuat setiap gerakan nungging terlihat sangat menggoda.

“Bagus,” puji Riko. “Malam ini kita langsung launching lo. Gue sudah sebar kabar ke grup kuli tetap. Welcome Party buat Cleaning Service Baru.”


Pukul 19.30 malam, gym mulai ramai. Hampir 25 kuli datang lebih awal dari biasanya. Kabar tentang “cleaning service baru yang boolnya super dower” sudah menyebar luas. Riko berdiri di tengah ruangan bersama Rian dan Aldo yang sudah memakai seragam resmi cleaning service: kaos polo hitam ketat bertuliskan “Cleaning Service Iron Bull”, dan celana pendek hitam yang bolong besar di belakang, persis seperti jeans Riko dan Rian, tapi lebih pendek hingga pertengahan paha.

Riko berteriak keras, “Malam ini kita sambut Aldo, cleaning service baru kita! Tugas dia membersihkan… tapi lubangnya boleh dikotorin sesuka kalian. Siapa mau coba duluan?”

Sorak-sorai kasar langsung memenuhi gym. Aldo berdiri di depan, wajahnya sedikit tegang tapi kontolnya sudah setengah tegang di dalam celana.

Rian membisik di telinga Aldo, “Nungging aja Bang. Tunjukin mereka barangnya.”

Aldo mengangguk. Dia mengambil sapu, pura-pura menyapu di depan matras utama, lalu membungkuk dalam-dalam. Tangan kanannya menarik bolong celana pendeknya ke samping. Lubang bool itemnya yang montok dan bolong lebar langsung terpampang jelas di bawah lampu neon. Beberapa kuli langsung mendekat.

“Anjir… item banget!” “Longgar parah! Kayak mulut lagi nganga!” “Ini beneran cleaning service atau pelacur premium?”

Andi yang pertama maju. Dia jongkok di belakang Aldo dan langsung menjilat rakus. Lidahnya masuk dalam-dalam ke lubang yang sudah sangat longgar. Aldo mengerang keras, “Ahh… jilatin Bang… bersihin lubang gue…”

Galih ikut, tangannya meremas pantat montok Aldo sambil tertawa. “Pantat tarkam gini, tapi lubangnya kayak pelacur desa. Enak banget!”

Dalam hitungan menit, Aldo sudah dikerubung lima orang kuli. Mereka bergantian menjilat lubangnya dengan rakus. Suara cipratan ludah dan erangan Aldo memenuhi gym. Rian dan Riko hanya berdiri di samping, tersenyum puas sambil sesekali menjilat lubang Aldo juga untuk “membantu membersihkan”.

Setelah puas menjilat, Andi berdiri dan mengarahkan kontolnya yang sudah ngaceng. “Giliran kencing perdana buat cleaning service baru!”

Aliran kencing panas langsung muncrat deras ke dalam lubang Aldo yang menganga. Aldo mengerang nikmat, goyang pantat pelan. “Panas Bang… isi dalem… kencingin bool gue sampe penuh!”

Satu per satu kuli ikut kencing. Cairan kuning meluber keluar dari lubang item Aldo yang bolong, menetes ke lantai yang baru saja dia sapu. Rian tertawa, “Liat tuh Bang Riko, kerjaan Aldo langsung basah lagi.”

Riko nyengir. “Itu namanya cleaning service spesialis. Lubangnya jadi tempat pembuangan, lantai jadi bersih karena meluber.”

Sesi semakin panas. Aldo ditaruh doggy di matras. Galih dan Cakra langsung ngewe bergantian dengan brutal. Kontol tebal mereka masuk keluar lubang Aldo yang sudah sangat longgar tanpa hambatan. Suara plok-plok basah keras terdengar setiap hentakan.

“Rusakin bool gue Bang!” erang Aldo. “Gue biasa kasar di desa… lebih kenceng!”

Rian dan Riko ikut aktif. Rian jongkok di depan Aldo, memasukkan kontolnya ke mulut Aldo, sementara Riko menjilat lubang Aldo yang sedang dientot Galih. Triple play pertama Aldo berjalan liar.

Sepanjang malam, Aldo hampir tidak pernah berhenti nungging. Setiap kali ada kuli baru masuk, dia langsung membungkuk di dekat rak alat atau kolam rendam, menarik bolong celananya, dan menggoyang pantat montoknya. Kuli-kuli berebut memakainya.

Puncak malam itu terjadi pukul 23.00. Riko mengumumkan circle creampie massal untuk Aldo. Aldo ditaruh nungging di tengah matras, Rian dan Riko di kanan kirinya sebagai pendukung. Semua kuli berbaris. Satu per satu mendepositokan peju mereka ke dalam lubang item Aldo yang sudah sangat penuh.

“Terima Bang… isi bool cleaning service lo!” erang Aldo setiap kali creampie masuk.

Peju putih kental meluber deras dari lubangnya yang tidak bisa menutup lagi. Setelah hampir 20 orang creampie, Riko memerintahkan Aldo jongkok dan menarik pipi pantatnya paling lebar di depan cermin besar.

“Liatin semua!” seru Riko. “Ini lubang cleaning service baru kita. Item, montok, bolong permanen. Mulai besok, tiap kali kalian latih, Aldo akan muter gym sambil nungging. Mau kencing, mau creampie, mau jilat, tinggal panggil dia.”

Aldo, dengan suara serak dan napas ngos-ngosan, menambahkan, “Bool gue siap dibersihin atau dikotorin tiap hari… gue cleaning service khusus lubang.”

Para kuli tertawa kasar dan bertepuk tangan. Beberapa yang belum puas langsung kencing lagi ke lubang Aldo yang masih menganga lebar. Cairan kuning bercampur peju meluber ke lantai.

Malam itu berakhir dengan Aldo, Rian, dan Riko bertiga jongkok berjejer di depan cermin, lubang mereka semua penuh dan meluber. Riko tersenyum puas.

“Gym ini semakin lengkap. Satpam bolong dua orang… plus cleaning service bolong satu orang. Besok kita mulai rutinitas baru.”

Aldo menoleh ke Rian, matanya penuh nafsu dan kepuasan. “Thanks Bang… gue nggak nyangka bakal jadi gini di Jakarta.”

Rian hanya tersenyum dan menampar pantat Aldo pelan. “Selamat datang di Secret Gym, Bang. Mulai besok, kerjaan lo beneran dimulai.”

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *