Secret Gym: Kejutan Aldo, Teman dari Desa (Ep. 8)

Setelah turnamen Switch malam itu selesai, Rian pulang ke kosannya dengan langkah goyang. Lubang boolnya masih basah dan lengket penuh campuran peju serta kencing dari banyak kuli. Badannya lelah, tapi pikirannya justru panas. Setiap langkah membuat lubangnya terasa gatal dan penuh, mengingatkannya pada erangan dan ejekan yang dia terima sepanjang malam.

Sesampainya di kos sederhana yang sempit, Rian membuka pintu dan langsung kaget. Di dalam sudah ada Aldo, temannya dari desa yang berusia 22 tahun. Aldo adalah pemain tarkam kampung, badannya kekar berotot, kulit item legam karena sering main bola di lapangan tanah, dada bidang, lengan tebal, dan perut rata dengan garis otot kerja. Dia datang ke Jakarta untuk mencari kerja dan mampir ke kos Rian.

“Rian! Gue kaget lo masih bangun,” kata Aldo sambil tersenyum lebar, memeluk Rian erat. Bau keringat maskulin Aldo langsung tercium. “Gue baru dateng dari terminal. Lo gimana kabarnya di kota?”

Rian balas pelukan, tapi tubuhnya langsung panas. Melihat badan Aldo yang kekar dan sexy membuat nafsunya yang sudah terbangkitkan dari turnamen tadi semakin membara. “Aldo… lo dateng tiba-tiba. Gue… gue baik-baik aja. Kerja di gym sekarang.”

Mereka duduk di lantai kasur tipis sambil ngobrol. Aldo bercerita tentang desa, tentang tarkam, tentang betapa rindunya dia sama teman-teman. Rian mendengarkan sambil sesekali melirik tubuh Aldo yang hanya memakai kaos oblong ketat dan celana pendek. Otot lengan dan dada Aldo terlihat jelas. Rian merasa lubang boolnya semakin gatel.

Setelah ngobrol hampir satu jam, Rian berdiri pura-pura mencari sesuatu di bawah tempat tidur. Dia sengaja membungkuk dalam-dalam, nungging ke arah Aldo. Celana jeans bolong yang dipakainya masih sama seperti di gym. Saat dia menarik bolong jeans dengan satu tangan, lubang boolnya yang sudah sangat dower dan becek langsung terpampang jelas di depan Aldo.

Aldo langsung terdiam. Matanya membelalak melihat lubang pink gelap yang menganga lebar, masih basah dan lengket sisa peju serta kencing dari turnamen tadi. “Rian… apa-apaan ini? Celana lo bolong… lubang lo… kenapa kayak gitu?”

Rian pura-pura tidak tahu, masih nungging sambil goyang pantat pelan. “Lagi nyari charger Bang… lo liat nggak di bawah situ?”

Aldo menelan ludah. Nafsunya langsung naik melihat pemandangan yang sangat vulgar itu. Badannya yang kekar bergerak mendekat tanpa sadar. “Rian… lo… lo sengaja ya? Lubang lo longgar banget… basah gitu…”

Rian menoleh dengan senyum mesum yang sudah dia pelajari dari Riko. “Iya Bang… gue sengaja. Di gym tempat kerja gue, begini caranya. Lo mau coba?”

Aldo tidak bisa menahan diri lagi. Tangan kasarnya yang besar langsung meremas pantat Rian kuat-kuat. “Gue… gue nggak ngerti. Tapi… gue nafsu banget liat ini.”

Tanpa banyak bicara lagi, Aldo ludah ke telapak tangannya, oles ke kontolnya yang sudah ngaceng tebal, lalu sodok masuk ke lubang Rian yang sudah sangat longgar. Rian mengerang keras, “Ahh… dalemin Bang… kontol lo gede banget…”

Aldo ngewe dengan brutal, pinggulnya menghantam pantat Rian keras dan cepat. Suara plok-plok basah memenuhi kamar kos yang sempit. “Bool lo longgar banget Rian! Enak… kayak sengaja dibikin longgar! Lo di gym kerjaannya gini ya? Jadi pelacur kuli?”

Rian hanya bisa mengerang nikmat, “Iya Bang… gue satpam tapi bool gue jadi tempat pembuangan… rusakin lagi… lebih kasar!”

Aldo semakin ganas. Dia ludah ke punggung Rian, lalu tampar pantatnya berkali-kali sampai merah. “Lo dari desa sama kayak gue, tapi sekarang jadi murahan gini! Terima kontol gue yang gede! Gue numparin semua tenaga gue ke lubang lo!”

Rian goyang pantat liar, “Terus Bang… isi dalem… gue suka… gue ketagihan sekarang!”

Aldo ngewe tanpa ampun selama hampir dua puluh menit. Akhirnya dia mengerang keras dan creampie dalam-dalam ke lubang Rian. Peju panasnya muncrat banyak, campur dengan sisa peju dari turnamen tadi. Saat Aldo tarik kontolnya, lubang Rian menganga lebar, peju putih kental meluber deras ke lantai.

Tapi Aldo belum selesai. Dia berdiri, mengarahkan kontolnya yang masih setengah tegang ke lubang Rian. “Sekarang minum pagi gue.” Aliran kencing panas langsung muncrat deras ke dalam lubang Rian yang masih terbuka. Rian mengerang puas, “Panas Bang… kencingin dalem… isi bool gue sampe penuh…”

Aldo kencing dengan deras, cairan kuning meluber keluar dan membasahi lantai kos. Setelah selesai, dia tampar pantat Rian sekali lagi. “Lo sekarang beda banget dari yang gue kenal di desa. Bool lo udah rusak parah.”

Rian masih jongkok, napasnya tersengal. Dia lalu duduk dan mulai bercerita dengan suara pelan tapi mesum. “Gue kerja di gym khusus cowok kuli kasar. Di sana bebas telanjang. Bool gue… dan sekarang mungkin bool lo juga… jadi tempat pembuangan peju dan kencing semua kuli. Gue awalnya kaget, tapi sekarang gue ketagihan. Setiap hari gue nungging, dijilatin, dikencingin, dicreampie. Tadi malam bahkan ada turnamen switch, gue sempat jadi bottom juga.”

Aldo mendengarkan dengan mata membelalak, tapi kontolnya kembali ngaceng. “Gila… lo serius? Dan lo suka?”

Rian nyengir mesum, tangannya meraba lubangnya yang masih menetes peju dan kencing Aldo. “Suka Bang… banget. Besok lo ikut ke gym bareng gue. Gue kenalin sama Riko, satpam senior. Lo bisa coba sendiri. Atau… kalau lo mau, gue ajarin cara nungging godain kuli.”

Aldo menelan ludah, tangannya tanpa sadar meremas kontolnya sendiri. “Gue… gue penasaran sekarang. Tapi… besok ya. Malam ini gue masih mau isi lagi bool lo yang longgar ini.”

Rian tersenyum lebar, langsung nungging lagi di depan Aldo. “Silakan Bang… bool gue milik lo malam ini.”

Aldo langsung mendekat lagi, kontolnya yang masih basah kencing masuk kembali ke lubang Rian dengan satu hentakan kasar. Malam itu di kos sempit, dua anak desa yang dulu polos itu melakukan sesi mesum yang panjang, penuh ludah, tamparan, kencing, dan creampie berulang.

Setelah sesi pertama yang brutal itu selesai, Aldo masih duduk di kasur dengan napas ngos-ngosan. Kontolnya yang besar masih setengah tegang, basah campur peju dan kencing. Rian jongkok di depannya, lubang boolnya masih menganga lebar, menetes-netes cairan kental ke lantai kos yang sudah belepotan.

Aldo menatap Rian dengan mata yang masih penuh nafsu dan keheranan. “Rian… gue masih nggak percaya. Lo yang dulu di desa paling jantan, sekarang… bool lo kayak gitu. Longgar banget, basah, penuh… dan lo keliatan suka banget.”

Rian tersenyum mesum, masih dalam posisi jongkok. “Iya Bang… gue sendiri juga kaget awalnya. Tapi sekarang gue ketagihan. Setiap hari di gym, gue nungging, dijilatin, dikencingin, dicreampie sama kuli-kuli. Bool gue udah jadi tempat pembuangan mereka.”

Aldo diam sebentar, lalu suaranya turun rendah, penuh rasa penasaran. “Rian… boleh gue liat lebih dekat? Gue penasaran. Lo cek bool gue dong… cocok nggak ya kalau gue juga kerja di gym itu sebagai satpam?”

Rian mengangkat alis, tapi nafsunya langsung naik lagi. “Mau? Oke… berdiri dulu, belakang ke gue.”

Aldo berdiri, membalikkan badan. Tubuhnya yang kekar montok, otot tarkam yang padat dan item legam terlihat jelas di bawah lampu kamar kos. Rian mendekat, tangannya gemetar sedikit karena excited. Dia menarik celana pendek Aldo ke bawah. Begitu celana turun, pantat Aldo terpampang di depannya — pantat yang padat, bulat, montok, dan penuh otot dari main tarkam setiap hari.

Rian menelan ludah. “Gila Bang… pantat lo padet banget. Kekar… montok…”

Dia tarik kedua pipi pantat Aldo pelan-pelan dengan kedua tangan. Saat pipi itu terbuka lebar, Rian langsung terkejut. Lubang bool Aldo ternyata sudah sangat dower dan menganga lebar, item gelap, bolong, dan kelihatan sudah sering dipakai. Dinding dalamnya terlihat longgar, seperti mulut yang haus, jauh lebih rusak dibanding lubang Riko atau Rian sendiri.

“Bang… ini…” Rian suaranya bergetar kaget. “Bool lo… menganga banget. Item… bolong… dower parah. Kayak udah sering banget dipake.”

Aldo tertawa pelan, suaranya agak malu tapi juga bangga. “Iya… gue sebenarnya udah lama jadi piala bergilir di tim tarkam desa. Setelah menang pertandingan, biasanya gue yang ‘dihadiahi’ tim lawan. Kadang satu tim sekaligus. Makanya bool gue udah rusak parah. Bahkan… gue rasa dower gue lebih parah dari punya lo sama Riko.”

Rian masih memegang pipi pantat Aldo lebar-lebar, jarinya tanpa sadar menyentuh pinggir lubang yang menganga itu. “Gila Bang… ini longgar banget. Kalau kuli di gym liat ini… pasti mereka langsung gila. Bool item montok kekar gini, tapi lubangnya bolong lebar… mereka bakal berebut buat isi.”

Aldo goyang pantat pelan di tangan Rian. “Lo pikir cocok nggak gue jadi satpam di situ? Gue bisa nungging bareng lo. Dua satpam bolong… satu dari desa, satu piala tarkam.”

Rian tersenyum lebar, matanya penuh nafsu. “Cocok banget Bang. Bahkan… gue yakin kuli-kuli bakal lebih suka sama lo. Bool lo montok, item, dan dowernya melebihi punya gue sama Riko. Mereka pasti bakal berebut buat jilatin, kencingin, sama creampie lo setiap hari.”

Aldo menoleh ke belakang, suaranya sudah serak. “Kalau gitu… lo ajarin gue cara nungging yang bener dong. Biar besok gue langsung bisa godain mereka.”

Rian tidak membuang waktu. Dia berdiri di belakang Aldo, tangannya memegang pinggang Aldo yang kekar. “Begini caranya. Nungging dalam… tarik bolong celana sendiri… goyang pelan… tarik pipi pantat lebar-lebar supaya lubangnya keliatan menganga.”

Aldo mencoba. Dia membungkuk dalam, menarik celana pendeknya ke bawah, lalu nungging sambil menarik kedua pipi pantatnya sendiri. Lubang boolnya yang item dan bolong langsung terbuka lebar di depan Rian. Rian merasa kontolnya langsung ngaceng lagi melihatnya.

“Gila Bang… lubang lo menganga banget. Keliatan dalemnya… item… longgar… pasti enak banget buat kuli.”

Rian tidak tahan. Dia jongkok di belakang Aldo, lidahnya langsung menjilat lubang yang bolong itu. Aldo mengerang keras, “Ahh… Rian… jilatin… gue suka…”

Rian menjilat dengan rakus, lidahnya masuk ke dalam lubang Aldo yang sudah sangat longgar. “Enak Bang… lubang lo bolong parah… gue bisa masukin lidah jauh banget…”

Aldo goyang pantatnya, “Terus… jilatin lebih dalam… gue mau lo kencingin juga…”

Rian berdiri, kontolnya sudah ngaceng maksimal. Dia ludah ke kontolnya sekali, lalu sodok masuk ke lubang Aldo yang menganga. “Terima kontol gue Bang… lubang lo longgar banget… masuk gampang…”

Aldo mengerang keras, “Dalemin Rian… rusakin bool gue… gue udah biasa kasar dari tim tarkam!”

Rian ngewe dengan brutal, pinggulnya menghantam pantat montok Aldo keras-keras. Suara plok-plok basah memenuhi kamar kos. “Bool lo enak Bang… dower parah… item… montok… kuli pasti bakal gila liat ini!”

Mereka berdua ngewe liar di lantai kos. Aldo goyang pantatnya balik, minta lebih dalam. “Lebih kasar Rian… tampar pantat gue… gue suka sakit-sakit!”

Rian tampar pantat Aldo berkali-kali sampai merah, lalu creampie dalam-dalam. Peju panasnya muncrat ke dalam lubang Aldo yang sudah bolong. Saat Rian tarik keluar, lubang itu tetap menganga lebar, peju meluber deras.

Aldo masih nungging, napasnya tersengal. “Besok… gue ikut lo ke gym. Gue mau nungging bareng lo.”

Rian tersenyum puas, tangannya masih meraba lubang Aldo yang bolong. “Siap Bang. Besok gue kenalin lo sama Riko. Kuli-kuli pasti bakal suka banget sama bool dower lo yang item dan montok ini.”

Malam itu dua anak desa itu tidur berpelukan di kasur tipis, lubang mereka berdua masih basah dan lengket.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *