Secret Gym: Turnamen Creampie (Ep. 4)

Bonus foto buat kamu (tiap episode beda ya):

Malam itu pukul 19.35 WIB, gym “Iron Bull Exclusive” sudah penuh sesak dengan suasana panas dan bau maskulin yang pekat. Lampu neon putih terang menyinari ruangan luas: rak barbel besi berat berserakan, matras vinyl hitam yang lengket bekas keringat dan cairan malam sebelumnya, treadmill, squat rack, bench press, serta cermin besar sepanjang dinding yang memantulkan setiap gerakan kasar. Bau amis tajam dari kolam rendam kering di sudut masih tercium, mengingatkan semua orang bahwa di gym ini tidak ada toilet dan tidak ada pancuran,semuanya ditumpahkan ke lubang bool satpam atau ke bak jacuzzi kering.

Riko sudah berdiri di tengah ruang beban sejak pukul 19.00. Badannya slim muscle yang tetap kenceng meski sering dirusak kasar: dada bidang halus berkeringat, perut six-pack tipis, lengan berotot ramping, kulit gelap mengkilap. Kaos polo hitam ketatnya basah di dada dan ketiak. Celana jeans biru tuanya bolong besar dari pinggang sampai pertengahan paha, pantat bulat kencengnya full expose tanpa celana dalam. Lubang boolnya malam ini sudah sangat dower dan becek setelah berendam di kolam kencing-peju semalam, longgar sekali, sering menganga sendiri, dan masih ada sisa cairan kuning-putih lengket yang menetes pelan ke paha dalamnya.

Riko sudah kirim broadcast siang tadi ke grup WA gym:

“Malam ini Turnamen Creampie Satpam resmi! Tiap kuli dapet waktu 10 menit ngewe gue sekuat tenaga di posisi doggy. Siapa yang bikin lubang gue meluber peju paling banyak menang hadiah: gratis membership 1 bulan + boleh creampie duluan tiap hari selama sebulan. Dateng rame-rame, gue nunggu di tengah gym sambil nungging godain kalian.”

Pesan itu langsung dibalas banjir emoji kontol dan kata-kata mesum. Malam ini total 12 kuli umur 18–22 tahun datang semua: Dika (20), Andi (19), Budi (21), Cakra (18), Eko (22), Fajar (19), Galih (21), Hadi (18), Iwan (20), Joko (20), Kiki (19), dan Luki (18). Mereka semua sudah telanjang bulat setelah ganti di locker room. Badan mereka kekar penuh otot kerja kasar, kulit sawo matang gelap, lengan tebal, dada bidang, tangan penuh kapalan, kontol tegang beragam ukuran tapi semuanya kuat dan tebal.

Riko mulai godaan seperti biasa. Dia berjalan pelan ke tengah ruangan, lalu nungging dalam-dalam di depan squat rack sambil pura-pura mengatur barbel. Tangan kanannya menarik pipi bool kanan, tangan kirinya menarik pipi bool kiri lebar-lebar. Lubang boolnya langsung menganga jelas di depan semua kuli, pink gelap, becek, dan masih ada sisa cairan lengket dari kolam semalam. “Liatin dulu Bang… bool satpam sudah dower parah banget setelah berendam kemarin. Longgar becek, masih ada sisa kencing peju lo pada. Mau rimming dulu atau langsung rusak lubang gue malam ini?”

Para kuli langsung mendekat, kontol mereka ngaceng maksimal. Dika nyengir lebar sambil mengocok kontolnya, “Wah Satpam, lo emang pelacur kelas atas. Nungging goyang-goyang mulu tiap ada kuli masuk. Bool lo sengaja dipamerin biar kita semua kontol ngaceng berat ya?”

Riko goyang pantatnya pelan menggoda, pinggul berputar kecil, “Iya sengaja… gue suka diliatin dan dilecehin. Malam ini turnamen resmi. Gue bakal diikat di squat rack, posisi doggy. Tiap kuli dapet 10 menit full power. Siapa yang bikin peju meluber paling banyak dari lubang gue menang hadiah. Siap?”

Semua kuli sorak kasar dan setuju. Riko dibawa ke squat rack. Tangan dan lengan atasnya diikat longgar ke bar besi tinggi supaya posisi doggy-nya stabil. Pantatnya terangkat tinggi, lubang boolnya menganga lebar persis di depan cermin besar. Riko bisa melihat sendiri wajah mesumnya dan lubang yang sudah rusak parah.

“Mulai turnamen!” teriak Dika yang jadi wasit malam itu.

Kuli pertama adalah Galih, badannya paling kekar dan kontolnya paling tebal. Dia berdiri di belakang Riko, ludah ke kontolnya sekali, lalu sodok masuk dengan satu hentakan keras. “Terima kontol gue yang gede ini, Satpam murahan! Gue bakal rusak bool lo sampe gak bisa nutup lagi dalam 10 menit! Lo emang tong sampah peju kuli!”

Riko mengerang panjang dan keras, suaranya bergema, “Ahh… dalemin Bang! Kentot kasar! Rusakin lubang gue yang dower ini! Gue suka yang brutal kayak gini!”

Galih langsung ngewe dengan gaya ganas. Pinggulnya menghantam pantat Riko keras dan cepat, suara plok-plok-plok nyaring memenuhi gym. Tangan kasarnya tampar pantat Riko berulang-ulang sampai kulitnya memerah terang. Setiap hentakan bikin tubuh Riko maju mundur, tali di tangannya menegang. “Bool lo longgar banget! Masih nyedot kontol gue meski sudah dower parah! Enak banget buat kuli capek kayak gue! Lo emang pelacur murahan yang paling enak di gym ini!”

Riko goyang pinggulnya sendiri liar, “Lebih kenceng lagi Bang! Numparin peju lo sebanyak-banyaknya! Bikin lubang gue banjir! Gue mau menang turnamen ini!”

Sepuluh menit pertama berlalu cepat. Galih mengerang keras, dorong pinggulnya dalam-dalam, creampie pertama muncrat panas dan sangat banyak ke dalem lubang Riko. Saat dia tarik kontol pelan-pelan seperti request Riko, peju putih kental meluber deras ke lantai matras. Riko masih nungging, “Liatin… sudah mulai meluber banyak… siapa selanjutnya?”

Kuli kedua Andi maju. Kontolnya panjang 18 cm dan urat-uratnya kelihatan jelas. Dia langsung sodok tanpa ampun. “Giliran gue sekarang! Gue bakal bikin lubang lo banjir peju sampe meluber ke cermin! Lo suka ya jadi mainan kuli muda?”

Andi ngewe dengan gaya cepat dan pendek tapi sangat kuat. Tangan kasarnya menarik rambut cepak Riko ke belakang. “Lo emang pelacur gym murahan! Bool dower lo ini buat kuli semua! Terima semen gue yang banyak, Bang! Lo cuma tong sampah peju kita!”

Riko teriak mesum, “Iya… rusakin lebih dalem! Bikin gue squirt peju dari lubang gue! Gue suka dilecehin gini!”

Celotehan kasar para kuli di pinggir semakin ramai dan binal:

“Woi Satpam, bool lo udah kayak selokan umum! Longgar banget!” “Goyang pantat lo lebih liar, pelacur! Nunjukin lubang becek lo ke semua orang!” “Lo seneng ya jadi tempat buang peju kuli? Murahan banget!” “Terima peju gue yang kental, Bang! Lo cuma pelacur bool longgar!”

Kuli ketiga Budi maju, tampar pantat Riko keras sambil ngewe. “Gue bakal bikin lubang lo merah dan banjir! Lo emang suka ditampar pantatnya sambil dientot ya?” Dia ngewe dengan hentakan pendek tapi sangat dalam. Riko mengerang terus, “Tampar lagi Bang! Rusak pantat gue! Gue suka sakit-sakit gini!”

Kuli keempat Cakra yang paling muda malah semangat berapi-api, dorong dengan tenaga penuh meski kontolnya lebih kecil. “Gue meski muda, tapi gue bakal bikin lo jerit! Bool lo ini buat kuli semua, termasuk gue!”

Eko tarik kedua pipi pantat Riko lebih lebar saat sedang ngewe, supaya lubang kelihatan lebih jelas di cermin. “Liatin lubang lo di cermin, Satpam! Sudah menganga lebar kayak mulut ikan! Lo emang sampah peju terbaik!”

Fajar dan Hadi bergantian tarik rambut Riko sambil bilang, “Lo suka ya jadi mainan kuli? Bool lo ini udah gak bisa nutup lagi! Terima peju kami yang banyak, pelacur!”

Riko terus balas dengan suara mesum yang semakin serak, “Lebih kenceng! Rusak bool gue sampe hancur! Numparin semua peju kalian ke dalem! Gue mau lubang gue meluber deras malam ini! Gue suka kalian lecehin gini!”

Total 12 kuli bergantian ngewe dengan penuh semangat. Beberapa kuli minta ronde kedua karena tenaga mereka masih kuat setelah seharian kerja kasar. Setiap kali creampie selesai, Riko selalu minta kontol ditarik pelan-pelan supaya peju keluar banyak dan kelihatan jelas di cermin besar. Lubang boolnya semakin hancur, menganga lebar seperti mulut yang haus, peju putih kental mengalir deras ke lantai matras membentuk genangan besar.

Setelah semua kuli selesai, lubang Riko sudah sangat penuh. Lebih dari 15 muatan peju (karena ada ronde kedua) membuat perutnya agak kembung dan lubangnya tidak bisa nutup lagi. Riko masih diikat di squat rack, nungging tinggi dengan napas ngos-ngosan. “Sekarang hitung siapa pemenangnya… siapa yang bikin peju meluber paling banyak?”

Dika dan Galih menghitung volume peju yang meluber ke lantai dan yang masih di dalam lubang Riko. Pemenangnya adalah Kiki, kuli 19 tahun yang badannya paling ganteng tapi kontolnya tebal banget. Dia berhasil creampie Riko 5 kali dalam 10 menit.

Riko nyengir puas meski badannya gemetar, “Kiki menang… besok lo boleh creampie duluan tiap hari selama sebulan.”

Kiki mendekat dengan senyum mesum, kontolnya masih tegang. “Hadiahnya gue ambil sekarang juga ya, pelacur.”

Dia sodok kontolnya lagi ke lubang Riko yang sudah hancur total, creampie tambahan yang ke-16. Riko orgasme kering sambil teriak keras, “Ahh… penuh banget… lubang gue sudah rusak permanen… enak sekali… gue suka banget!”

Akhir sesi, Riko dilepas dari ikatan. Kakinya goyang saat berdiri. Dia langsung jongkok di tengah gym, tangannya narik kedua pipi pantat lebar-lebar sekali lagi di depan cermin besar. Lubang boolnya menganga sangat lebar, peju putih kental mengalir deras seperti air terjun ke lantai. “Liatin semua… ini hasil turnamen malam ini. Bool satpam longgar penuh peju kuli. Besok malam… siapa yang mau ikut turnamen lagi? Gue siap lubang gue dirusak lebih parah lagi!”

Para kuli tertawa kasar, tepuk tangan ramai, dan bilang mereka pasti datang lagi. Beberapa kuli langsung kencing ke lubang Riko yang masih nganga lebar sebelum pulang, menambah genangan di lantai.

Riko tersenyum mesum, badannya lelah tapi matanya masih penuh nafsu. “Bool gue semakin longgar… dan gue semakin suka jadi mainan kalian semua…”

Malam itu turnamen creampie pertama selesai dengan lubang Riko yang hancur total, lantai gym yang banjir peju, dan para kuli yang semakin ketagihan. Riko tahu, besok malam akan lebih brutal lagi.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *