Kos Panas: Hasrat Tak Terbendung (Ep. 6)

Seminggu setelah menjadi lonte bagi Reza dan tiga penghuni lainnya, Alvin sudah benar-benar berubah. Dia tidak lagi malu atau ragu. Hasratnya telah menguasai sepenuhnya. Setiap pagi, kamar Alvin menjadi tempat ritual tetap mereka.

Pukul lima pagi, pintu kamar Alvin diketuk pelan. Reza masuk lebih dulu, diikuti Beni, Cakra, dan Dika. Mereka semua masih mengantuk, rambut acak-acakan, tapi kontol mereka sudah setengah ngaceng di dalam celana pendek.

“Pagi, lonteku,” sapa Reza sambil nyengir lebar. “Siapin mulut dan bool lo yang murahan. Kami mau kencingin lo.”

Alvin yang sudah telanjang bulat sejak semalam langsung turun dari kasur dan berlutut di lantai dengan patuh. Dia membuka mulutnya lebar-lebar, menjulurkan lidahnya sejauh mungkin, dan mendongakkan wajahnya.

Reza maju lebih dulu. Dia mengeluarkan kontolnya yang tebal lalu mengarahkan ke mulut Alvin. Air kencing hangat langsung menyembur deras ke dalam mulut terbuka itu.

“Terima air kencing gue, lonte taik,” kata Reza sambil mengocok kontolnya. “Telan sebanyak yang lo bisa. Jangan ada yang tumpah.”

Alvin menelan dengan rakus, suaranya berbunyi gluk gluk. Sebagian air kencing itu meluber dari sudut bibirnya, mengalir ke dagu dan menetes ke dada montoknya yang putih.

“Enak kan air kencing pagi-pagi gini?” tanya Reza sambil tersenyum mesum.

“Iya mas… Alvin haus air kencing … hangat enak…” jawab Alvin serak sambil menjilat bibirnya.

Beni maju berikutnya. “Buka mulut lebih lebar, lacur! Mas Beni mau ngencingin tenggorokan lo.”

Dia menyemburkan air kencingnya dengan deras. Alvin tersedak sedikit tapi tetap menelan sebanyak mungkin. “Bagus… lonte haus kencing,” ejek Beni sambil menampar pipi Alvin pelan.

Cakra dan Dika bergantian mengencingi mulut Alvin. Mereka sengaja mengocok kontolnya agar air kencingnya menyembur kemana-mana, membasahi wajah, rambut, dan dada Alvin.

Setelah mulutnya selesai, Reza menyuruh, “Sekarang nungging lo, lonte. Kami mau ngencingin bool dower lo.”

Alvin langsung nungging dalam-dalam, pantat montoknya terbuka lebar. Reza membuka belahan pantatnya dan mengarahkan kontolnya ke lubang yang sudah agak menganga.

Air kencing hangat menyembur langsung ke dalam lubang bool Alvin. “Rasain air kencing gue di dalam lubang lo yang binal,” kata Reza sambil tertawa.

Satu per satu, Beni, Cakra, dan Dika mengencingi lubang Alvin bergantian. Lubangnya semakin basah, penuh air seni, dan bau pesing yang menyengat memenuhi kamar.

“Enak kan, lonte? Bool lo sekarang penuh kencing kuli” ejek Dika sambil menampar pantat Alvin.

Alvin hanya mendesah mesum, “Iya mas… Alvin suka… lubang Alvin jadi tempat kencing kalian aja.”

Setelah puas mengencingi, mereka semua mengocok kontol di depan wajah Alvin dan meminta dia mengambil sebuah tumbler.

“Sarapan lo hari ini,” kata Reza. Mereka berempat crot ke dalam tumbler yang udah Alvin siapkan. Pejuh kental mereka memenuhi setengah tumbler. Alvin menutupnya rapat dan tersenyum puas.

“Terima kasih pejuh sarapan mas-mas semua… Alvin akan minum di kampus nanti.”

Kamar Alvin kini selalu bau pesing, pejuh, dan keringat maskulin para kuli. Bau itu sudah tidak bisa hilang, dan Alvin justru menyukainya.

Di kampus setalah kelas selesai, Alvin duduk di pojok toilet yang paling sepi. Pintu bilik dikunci rapat. Dengan tangan sedikit gemetar karena nafsu, dia mengeluarkan tumbler dari tasnya. Cairan putih kental di dalamnya masih agak hangat, bau pejuh maskulin yang pekat langsung memenuhi ruangan sempit itu.

Alvin membuka tutupnya, menatap sperma kental Reza, Beni, Cakra, dan Dika yang bercampur menjadi satu. Dia mendekatkan tumbler ke mulutnya dan menenggak pelan-pelan. Rasa asin pahit yang kuat langsung memenuhi lidahnya. Setiap tegukan membuat kontolnya ngaceng keras, menekan celana jeansnya hingga terasa sesak.

Sambil menelan, Alvin memejamkan mata dan membayangkan kontol keempat penghuni itu. Kontol Reza yang paling besar, kontol Beni yang tebal berurat, kontol Cakra yang panjang, dan kontol Dika yang selalu kasar. Bayangan mereka mengentotnya bergantian membuat lubang boolnya berdenyut.

Dia menenggak habis hingga tetes terakhir, lalu menjilat bibirnya dengan puas.

Pulang kuliah sore hari, Alvin tidak langsung kembali ke kamarnya. Dengan lubang bool yang sudah gatal seharian, dia langsung mampir ke kamar Dika yang paling dekat. Tanpa mengetuk, dia mendorong pintu dan masuk.

Dika yang baru pulang kerja sedang melepas kaosnya, tubuh kekarnya penuh keringat. Alvin langsung membuka bajunya sendiri, melemparnya ke lantai, lalu berlutut di depan Dika sambil nungging tinggi.

“Mas… tolong entot Alvin kasar… bool Alvin sudah gatel banget seharian di kampus,” pinta Alvin dengan suara genit dan memohon, pantat montoknya digoyang pelan. “Alvin haus kontol Mas Dika… hancurin memek Alvin…”

Dika yang melihat Alvin langsung sange berat. Kontolnya yang tebal langsung ngaceng di dalam celana pendek. “Lonte gila! Baru pulang kuliah udah minta kontol? Dasar boty binal gak tahu malu!”

Dia menarik Alvin kasar, lalu memegang pinggang Alvin dan langsung menusukkan kontol tebalnya yang berurat ke lubang yang sudah basah.

Plok!

Kontol Dika masuk dalam sekali. Alvin menjerit keenakan. Dika langsung menggenjot brutal tanpa pemanasan.

Plok plok plok plok!

“Anjing… bool lo makin longgar setiap hari, lonte taik!” bentak Dika sambil menampar pantat Alvin keras berkali-kali. Tangannya menarik rambut Alvin ke belakang, membuat punggung Alvin melengkung. “Baru pulang kuliah udah nungging minta kontol kuli. Lo emang lonte haus kontol!”

Alvin mendesah liar, suaranya parau penuh kenikmatan. “Iya mas… hancurkan bool Alvin… entot lebih keras… kasih pejuh Dika banyak-banyak di dalam… Alvin haus kontol kuli… Alvin lonte bangsat Bang Dika… tolong robek lubang Alvin!!”

Dika menggenjot semakin ganas, pinggulnya menghantam pantat Alvin dengan kuat. Setiap hantaman membuat bunyi plok plok plok yang basah dan mesum. Keringatnya menetes ke punggung Alvin yang putih mulus.

“Bangsat! Lubang lo udah becek, tapi masih minta lebih. Besok gue suruh temen-temen kerja gue juga ngentotin lo!” ancam Dika sambil menarik rambut Alvin lebih keras.

Alvin semakin binal. “Iya mas… suruh kuli-kuli itu ngentot Alvin… Alvin mau jadi lonte… ahh… ahh… lebih dalem… crot di dalam… isi perut Alvin dengan pejuh Mas Dika!!”

Dika mengentot Alvin dengan ganas selama hampir 30 menit, berganti posisi dari doggy ke standing, lalu kembali ke doggy. Akhirnya dia mendengus keras dan menyemburkan pejuh panasnya ke dalam lubang Alvin.

Alvin crot bersamaan, tubuhnya gemetar hebat, spermanya muncrat ke lantai kamar Dika.

Dengan lubang bool yang masih penuh pejuh segar Dika dan terus meluber setiap kali melangkah, Alvin berjalan cepat menuju kamar Reza. Cairan kental menetes pelan di antara pahanya, membasahi pahanya. Tanpa mengetuk, dia menyelonong masuk.

Reza sedang duduk di kasur sambil memainkan HP. Alvin langsung membalik badan, lalu ngangkang di depan Reza.

“Mas… tolong jilat bool Alvin… udah penuh pejuh Dika…” pinta Alvin dengan suara genit dan memohon, pantat montoknya digoyang pelan.

Reza tersenyum mesum lebar melihat pemandangan di depannya. Lubang bool Alvin menganga lebar, merah membara, dan penuh pejuh kental Dika yang meluber keluar. Tanpa berkata apa-apa, dia menarik Alvin ke kasur, membuka belahan pantatnya lebar-lebar dengan kedua tangan, lalu menempelkan mulutnya ke lubang yang becek itu.

Lidah Reza langsung menjilat rakus. Dia menelan pejuh Dika yang masih hangat dengan lahap, lidahnya mengebor masuk ke dalam rongga bool Alvin yang licin. Rasa asin pahit pejuh orang lain bercampur dengan aroma lubang Alvin membuat Reza semakin gila. Lidahnya berputar-putar di dalam, menjilat dinding dalam yang sensitif, mengisap dan menelan sperma Dika yang keluar deras.

“Enak banget… bool lo yang penuh sperma orang lain… lonte bangsat,” gumam Reza sambil terus menjilat rakus. Lidahnya masuk semakin dalam, mengebor lubang Alvin dengan penuh nafsu. Suara menjilat yang basah dan mesum terdengar jelas. Dia bahkan mengisap lubang itu seperti sedang mencium memek, menarik pejuh Dika keluar dengan mulutnya lalu menelannya.

Alvin menggelinjang keenakan, pinggulnya mendorong ke belakang. “Ahh… Mas… jilat lebih dalam… makan pejuh Dika dari bool Alvin… enak kan Mas? Lidah Mas masuk banget… uhmm… jilat terus… bersihin bool Alvin yang kotor…”

Reza semakin brutal. Dia menekan wajahnya lebih dalam, lidahnya menjulur sejauh mungkin masuk ke rongga bool Alvin, menjilat dan membersihkan setiap inci dinding dalam yang penuh sperma. Bau dan rasa pejuh Dika semakin kuat di mulutnya, tapi justru membuatnya semakin horny.

“Enak… bool lo yang habis dipake Dika… masih enak juga buat dijilat,” kata Reza sambil menjilat lebih rakus, sesekali menampar pantat Alvin keras.

Alvin mendesah gila-gilaan. “Iya Mas… jilat bool Alvin yang penuh pejuh… makan pejuh Dika… sekarang tolong entot Alvin kasar… hancurin lubang Alvin!!”

Reza tidak bisa menahan diri lagi. Matanya gelap penuh nafsu melihat lubang Alvin yang menganga lebar. Dia berdiri di belakang Alvin, kontol 26 cm-nya sudah ngaceng maksimal, tebal berurat, kepala kontolnya mengkilap precum. Tanpa basa-basi, Reza memegang pinggang Alvin kuat-kuat lalu mendorong pinggulnya dengan brutal.

Plok!

Kontol besarnya langsung menusuk masuk dalam sekali ke lubang Alvin yang licin.

“Aaaahhh… Mas… gede banget!!” jerit Alvin kesakitan sekaligus keenakan.

Reza langsung menggenjot brutal dari belakang tanpa memberi waktu adaptasi. Pinggulnya menghantam pantat montok Alvin dengan keras dan cepat.

Plok plok plok plok! Plok plok plok plok!

Setiap hantaman membuat bunyi basah yang mesum dan kotor. Sisa pejuh Dika terus meluber keluar setiap kali kontol Reza masuk dan keluar, membuat lubang Alvin semakin becek dan licin.

“Lonte haus kontol! Baru diisi Dika, sekarang minta kontol gue lagi!” bentak Reza sambil menampar pantat Alvin keras berkali-kali. “Bool lo benar-benar gak pernah puas ya, bangsat?! Baru diisi pejuh orang, langsung minta diisi lagi! Dasar lonte taik bangsat!”

Reza menggenjot semakin ganas, tangannya menarik rambut Alvin ke belakang hingga punggungnya melengkung. Kontolnya menghantam dalam-dalam, mengaduk sisa pejuh Dika di dalam bool Alvin.

Alvin mendesah gila-gilaan, suaranya parau dan mesum. “Iya Mas… Alvin lonte haus kontol… bool Alvin sudah gatel lagi… entot lebih keras… Isi perut Alvin sampe penuh… ahh… ahh… lebih dalem Master!!”

Reza tertawa kasar sambil terus menghantam tanpa ampun. “lonte bangsat! Bool lo sekarang milik kami semua!”

Alvin yang dulu pemalu kini telah sepenuhnya menerima hasratnya. Dia tidak lagi malu memohon, bahkan aktif meminta untuk dientot lebih kasar dan lebih sering.

Di akhir malam, Reza meninggalkannya terbaring lemas di kasur penuh sperma, Alvin tersenyum lemah sambil mengelus lubang boolnya yang menganga.

“Besok pagi… Alvin mau lagi…” gumamnya pelan, matanya penuh kepuasan.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *