Secret Gym: Security Pamer Bool (Ep. 2)

Ada bonus foto buat kamu (tiap episode beda): 👇

Malam Sabtu di Jakarta pukul 19.10 WIB, udara masih panas dan lembab seperti biasa. Gym “Iron Bull Exclusive” yang terletak di pinggir kawasan industri mulai dipenuhi suara langkah kaki berat dan obrolan kasar. Lampu neon putih menyinari ruangan luas: rak barbel dan dumbell besi berat berserakan, matras vinyl hitam yang sudah agak lengket dan bernoda bekas malam sebelumnya, treadmill, squat rack, bench press, dan cermin besar sepanjang dinding yang memantulkan setiap gerakan di dalamnya.

Di gym ini memang tidak ada toilet sama sekali. Aturan tidak tertulis tapi semua kuli paham: kalau mau kencing setelah seharian kerja keras angkat semen, bata, atau besi, ya langsung ditumpahkan ke lubang bool satpam. Tidak ada kamar mandi atau pancuran air bersih juga. Kalau member mau “mandi” atau bersih-bersih badan setelah latihan atau sesi kasar, caranya hanya satu — mandi kencing dari kuli lain yang ikut serta. Hanya ada locker room sederhana di belakang untuk ganti baju, dan satu tempat berendam kering di sudut ruangan — bak besar tanpa air mengalir, seperti jacuzzi kosong yang permukaannya kasar dan sudah bernoda lama.

Riko, satpam 24 tahun, sudah siap di posisinya sejak pukul 18.35. Badannya slim muscle yang kenceng meski sering dipakai kasar: dada bidang halus, perut six-pack tipis yang mengkilap karena keringat malam, lengan berotot ramping, kulit gelap sawo matang yang licin. Rambut cepaknya masih rapi, wajah ganteng dengan rahang tegas tapi mata selalu penuh nafsu mesum. Kaos polo hitam ketatnya sudah basah di dada dan ketiak. Celana jeans biru tuanya malam ini sengaja dia modifikasi lebih ekstrem: bolong besar dari pinggang sampai hampir lutut, sehingga pantat bulat kencengnya terpampang full, tanpa celana dalam sedikit pun.

Lubang bool Riko malam ini sudah sangat “dower” dan becek. Sisa creampie putih kental serta kencing dari shift pertama kemarin masih menempel di dalam lubang, membuatnya menganga sedikit dan mengkilap basah. Beberapa tetes cairan campuran perlahan menetes ke paha dalamnya, meninggalkan jejak licin yang terlihat jelas. Riko sangat suka kondisi seperti ini. Dia merasa semakin murahan, semakin bergairah, dan siap jadi tontonan.

Siang tadi Riko sudah kirim broadcast ke grup WA gym yang berisi hampir 30 member kuli:

“Malam ini satpam lagi longgar parah. Bool dower becek nunggu kuli numpahin tenaga kerjaan setelah seharian angkat semen. Dateng semua yang mau. Bebas pake, bebas kencing langsung di lubang gue, bebas pamer. Gue bakal nungging goyang-goyang biar kalian bisa liat bool becek gue dari deket.”

Pesan itu langsung dibalas banjir emoji api dan kata-kata mesum. Sekarang, satu per satu kuli mulai berdatangan setelah pulang dari proyek bangunan mereka. Semua berusia 18–22 tahun, badan kekar penuh otot kerja fisik, kulit sawo matang gelap karena terbakar matahari seharian, tangan kasar penuh kapalan, bau keringat asli campur debu semen dan tanah yang belum hilang total.

Dika, 20 tahun, masuk sebagai yang pertama. Badannya tinggi kekar sekitar 178 cm, dada bidang penuh bulu tipis hitam yang masih basah keringat, lengan tebal karena angkat material berat. Dia langsung nyengir lebar begitu melihat Riko. “Woi Satpam, bool lo kemarin gue isi penuh sampe meluber. Malam ini masih dower becek ya? Dari sini udah keliatan basah nih.”

Riko tidak menjawab dengan kata-kata biasa. Dia sengaja berjalan pelan ke rak barbel di tengah ruangan, lalu membungkuk dalam-dalam dan nungging tinggi di depan bangku flat bench. Pantatnya goyang-goyang pelan menggoda, tangan kanannya meraih pipi bool kanan, tangan kirinya menarik pipi bool kiri lebar-lebar. Lubang boolnya langsung terbuka maksimal, menganga jelas di depan Dika. Lubang pink gelap itu terlihat becek, dinding dalamnya lembab dan mengkilap karena sisa peju putih kental dari kemarin masih menempel. Beberapa tetes cairan campuran menetes pelan ke lantai vinyl.

“Liatin baik-baik, Dik,” kata Riko dengan suara serak penuh nafsu. “Ini bool satpam dower becek milik kuli semua. Kemarin kalian creampie dan kencingin dalem, sekarang masih basah nunggu tambahan malam ini. Mau rimming dulu biar semakin licin dan becek, atau langsung ngentot kasar?”

Dika langsung melepas kaos dan celana kerjanya di tempat, telanjang bulat. Kontolnya yang tebal panjang 17 cm sudah setengah ngaceng, kepala kontol besar dan berwarna gelap. Dia jongkok di belakang Riko, tangan kasarnya yang penuh kapalan langsung meremas kedua pipi pantat Riko kuat-kuat sampai daging meluber di sela jari. Lidahnya yang panjang dan kasar keluar, menempel di lubang becek itu. Dia mulai menjilat dari bawah ke atas dengan lambat, lalu menekan lidah masuk ke dalam lubang longgar. Rasa asin peju lama campur sisa kencing membuat Dika semakin rakus. Lidahnya menjilat dinding dalam, menghisap sisa peju yang menetes, suara slurp-slurp basah terdengar jelas.

Riko mengerang panjang, pinggulnya goyang pelan mendorong pantat ke muka Dika. “Ahh… iya gitu Dik… jilatin dalam-dalam bool dower gue… bersihin sisa creampie kemarin dengan lidah kuli lo yang kasar… enak banget rasanya…”

Pintu gym terus berderit. Andi (19 tahun), Budi (21 tahun), Cakra (18 tahun), Eko (22 tahun), Fajar (19 tahun), Galih (21 tahun), Hadi (18 tahun), dan Iwan (20 tahun) masuk hampir bersamaan. Total sembilan kuli malam ini. Mereka semua langsung melepas baju di locker room atau bahkan di tempat, telanjang bulat. Badan mereka kekar berotot kerja, dada bidang, lengan tebal, perut rata, kontol sudah tegang melihat pemandangan Riko yang nungging goyang-goyang sambil lubang beceknya dipamerin.

“Satpam mesum parah,” kata Andi sambil tertawa kasar sambil mengocok kontolnya sendiri. “Tiap ada kuli masuk langsung nungging goyang pantat, nunjukin bool dower yang becek gitu. Emang sengaja ya Bang biar kita semua nafsu berat?”

Riko semakin bernafsu mendengar ejekan itu. Dia pindah posisi, naik ke atas bangku flat bench, nungging lebih tinggi lagi sambil tangannya menarik kedua pipi pantat lebar-lebar sekali lagi. Lubang boolnya menganga maksimal di depan semua kuli, becek dan mengkilap di bawah lampu neon, sisa cairan putih kental masih terlihat jelas di dalemnya. “Iya sengaja… liatin semuanya… ini bool satpam longgar becek milik kuli semua. Kemarin penuh peju dan kencing kalian, malam ini masih basah nunggu diisi lagi. Siapa yang mau rimming dulu sebelum kalian ngentot brutal dan kencingin dalem?”

Mereka langsung mengerubung seperti kawanan. Delapan lidah kuli kasar bergantian menyerbu lubang Riko yang dower. Dika masih di posisi utama, lidahnya masuk paling dalam, menjilat dan menghisap dengan rakus. Andi jilat dari sisi kanan dengan lidah lebarnya, Budi hisap pinggir lubang sambil jarinya ikut masuk, Cakra yang paling muda fokus jilat perineum sampai ke bola Riko. Suara cipratan air liur basah dan erangan Riko memenuhi seluruh gym.

“Enak banget… lidah kalian kasar dan panas… bikin bool dower gue semakin becek dan longgar…” Riko goyang pinggulnya liar, mendorong pantat ke belakang supaya lidah mereka masuk lebih dalam. Dia sengaja goyang-goyang pelan berulang kali, nunjukin betapa longgar dan becek lubangnya sekarang.

Rimming berlangsung hampir 20 menit penuh. Mereka bergantian tanpa buru-buru, menikmati rasa campuran peju dan kencing lama di lubang satpam. Lubang Riko semakin basah, air liur kuli bercampur sisa cairan kemarin menetes-netes ke bangku dan lantai.

Akhirnya Dika berdiri, kontolnya sudah ngaceng maksimal. “Udah cukup rimming. Sekarang gue entot dulu lubang dower lo.”

Dia dorong kontol tebalnya masuk ke lubang yang sudah sangat longgar dan becek. Masuk mulus tanpa hambatan. “Ahh… masuk gampang banget… lubang lo emang dower parah. Masih ada sisa peju kemarin di dalem, licin dan hangat. Enak buat kuli capek kayak gue.”

Riko teriak mesum, suaranya bergema di ruangan. “Dalemin Dik! Rusak bool gue! entot kasar… gue suka yang brutal kayak gini!”

Dika langsung ngewe dengan gaya kasar. Pinggulnya menghantam pantat Riko keras dan cepat, suara plok-plok-plok basah memenuhi ruangan karena lubang yang sudah penuh cairan. Tangan kasarnya tampar pantat Riko berulang-ulang sampai kulitnya memerah. Andi maju ke depan, angkat kontolnya dan masukkan ke mulut Riko. “Isap kontol gue sambil dientot, Bang. Biar mulut lo juga sibuk.”

Riko buka mulut lebar, langsung telan kontol Andi sampai tenggorokan, air liurnya menetes-netes. Badannya maju mundur karena hentakan Dika dari belakang. Kuli lain meremas tubuh Riko, jari kasar mereka sesekali masuk ke lubang di samping kontol Dika, menarik-narik dinding lubang supaya semakin lebar.

Sesi ngentot bergantian berlangsung lama. Riko dipindah-pindah tempat:

Di treadmill yang dijalankan pelan: Riko jalan sambil nungging, Dika ngentotin dari belakang sambil pegang pinggangnya kuat.

Di squat rack: tangan Riko diikat longgar ke bar besi, posisi doggy rendah, Andi dan Budi gantian ngewe sambil tarik rambut cepaknya.

Di depan cermin besar: Riko nungging tinggi, bisa melihat sendiri wajah mesumnya dan lubang bool yang semakin becek dan hancur.

Setiap kuli mendapat giliran ngewe brutal dengan kata-kata kasar: “Bool satpam murahan! Longgar banget kayak tong sampah peju kuli!” “Terima semen gue yang banyak, Bang!” Riko balas dengan erangan, “Lebih kenceng lagi! Rusakin bool gue sampe gak bisa nutup! Numparin peju kalian sebanyak-banyaknya!”

Total 9 kuli bergantian, beberapa ronde kedua. Setelah semua creampie selesai, lubang Riko penuh banget. Peju putih kental mengalir deras dari lubang yang menganga lebar ke lantai. Riko nungging di tengah ruangan, tangannya narik kedua pipi pantat lebar-lebar di depan cermin. “Liatin semuanya… bool dower gue penuh peju kuli. Becek kan? Masih mau tambah?”

Lalu sesi kencing dimulai. Karena tidak ada toilet, Riko nyengir, “Mau kencing semua? Langsung ke lubang dower gue aja.”

Mereka berdiri melingkar. Satu per satu mengarahkan kontol ke lubang Riko yang menganga. Kencing panas muncrat deras masuk ke dalam. Dika mulai duluan, alirannya kuat. Yang lain ikut bergantian. Total 9 aliran kencing membuat perut Riko agak kembung, cairan kuning hangat bercampur peju meluber ke lantai membentuk genangan besar yang bau tajam.

Riko mengerang puas, “Ahh… panas… kencingin dalem… panasin bool dower gue yang becek ini…”

Setelah kencing selesai, Riko masih nungging. “Sekarang bersihin bool gue… bergantian jilatin lubang yang penuh campuran ini. Sambil gue jilat lantai gym yang ketumpahan dari bool gue sendiri.”

Para kuli bergantian jongkok di belakang. Lidah mereka menjilat lubang Riko dalam-dalam, menghisap dan menelan campuran peju + kencing mereka sendiri. Riko menundukkan kepala, lidahnya menyentuh lantai vinyl yang basah. Dia jilat genangan besar itu dengan rakus, rasa asin pahit amis memenuhi mulutnya. Lidahnya menyapu setiap tetes sambil pantatnya masih dijilati bergantian.

Sesi pembersihan ini berlangsung sekitar 25 menit. Lubang Riko akhirnya terasa “bersih” tapi tetap longgar dan menganga lebar.

Pukul 23.50, Riko bangkit pelan, kakinya goyang. Dia jalan ke depan cermin besar, nungging sedikit lagi, tangan menarik pipi pantat lebar-lebar. “Malam ini bool satpam resmi jadi mainan dan tong sampah semua kuli di gym. Besok malam… dateng lebih rame lagi ya. Gue bakal pamer bool dower yang lebih parah.”

Para kuli tertawa kasar, tepuk bahu Riko, dan janji akan datang lagi besok.

Riko tersenyum puas meski badannya lelah. Shift malam kedua selesai, tapi lubang boolnya semakin dower dan siap jadi tontonan utama.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *