
Ada bonus foto buat kamu (tiap episode beda): 👇
Malam itu, Jakarta masih terasa seperti tungku raksasa meski jarum jam sudah menunjuk pukul 19.15 WIB. Udara lembab dan panas menempel di kulit, bau aspal basah campur debu semen dari proyek-proyek bangunan di sekitar kawasan industri masih menyelimuti jalan. Gym “Iron Bull Exclusive” berdiri kokoh di pinggir jalan kecil, bangunannya sederhana tapi terasa berat dan maskulin: dinding beton polos, pintu besi tebal, dan jendela kaca buram yang sengaja dibuat supaya orang luar tidak bisa mengintip apa yang terjadi di dalam. Gym ini memang dirancang khusus untuk cowok-cowok umur 18–22 tahun yang kerjanya kasar, kuli bangunan, kuli proyek apartemen, kuli pabrik, atau pekerja harian yang badannya sudah terbentuk oleh angkat besi, semen, bata, dan kerja di bawah terik matahari seharian. Tidak ada cewek, tidak ada anak kuliahan manja. Hanya kuli muda yang badannya kekar, kulit sawo matang gelap, tangan penuh kapalan, dan tenaga yang meluap-luap setelah shift kerja.
Di dalam gym, aturannya simpel dan bebas: boleh telanjang total kapan saja. Lantai vinyl hitam sering basah dan lengket karena campuran keringat, peju, dan kencing. Alat-alat gym: treadmill, bench press, squat rack, leg press, sudah bau sperma dan keringat maskulin yang pekat. Tidak ada yang malu. Ini tempat pelampiasan tenaga kasar.
Riko, satpam 24 tahun, sudah berdiri di posisinya sejak pukul 18.30. Badannya slim muscle yang kenceng: dada bidang tapi tidak terlalu besar, perut six-pack tipis yang mengkilap karena keringat malam, lengan berotot halus, dan kulit gelap yang licin. Rambut cepak rapi masih terlihat fresh meski sudah dua jam berdiri. Wajahnya ganteng dengan rahang tegas, tapi matanya selalu penuh nafsu mesum. Seragamnya adalah senjata utamanya: kaos polo hitam ketat yang menempel di badan seperti kulit kedua, logo gym di dada kiri, topi security miring, dan yang paling penting, celana jeans biru tua yang sengaja dia modifikasi sendiri. Bagian belakang dipotong bolong besar, mulai dari pinggang sampai pertengahan paha. Tidak pakai celana dalam. Pantat bulat kencengnya terpampang sempurna, dua pipi bulat yang padat karena olahraga ringan, dan lubang boolnya yang pink gelap sudah agak longgar secara alami. Lubang itu sering menganga sedikit saat dia bergerak, seolah mengundang siapa saja yang melihat.
Riko sudah kerja di gym ini dua minggu, tapi malam ini adalah shift malam pertamanya yang benar-benar penuh. Dia sudah tahu betul apa yang diinginkan para kuli. Dia suka banget. Dari hari pertama dia sadar: dia bukan satpam biasa. Dia adalah mainan umum. Boolnya adalah tong sampah peju dan kencing kuli muda. Dan dia menikmatinya dengan cara yang paling mesum.
Pukul 19.45, pintu gym berderit terbuka. Yang pertama masuk adalah Dika, 20 tahun, kuli bangunan di proyek apartemen 20 lantai dekat situ. Badannya tinggi kekar, tinggi 178 cm, dada bidang penuh bulu tipis hitam yang basah keringat, perut rata dengan garis otot kerja, lengan seperti batang pohon karena angkat semen seharian. Kulitnya gelap sawo matang, bahu lebar, dan kontolnya sudah setengah tegang saat dia melepas kaos dan celana kerja di ruang locker yang terbuka lebar. Kontol Dika tebal, panjang 17 cm, kepala kontolnya besar dan berwarna gelap keunguan, batangnya penuh urat karena kerja fisik. Bau keringat hariannya masih pekat, campur debu semen dan keringat asli kuli.
“Malem, Bang,” sapanya sambil nyengir lebar, mata langsung nyasar ke pantat Riko yang bolong jelas. “Lo ini beneran satpam atau pelacur gym?”
Riko balas nyengir mesum, memutar badan pelan sambil pura-pura benerin handuk di rak dekat pintu. Dia sengaja nungging sedikit lebih dalam. Tangan kanannya meraih pinggang jeans yang bolong, menarik kedua pipi pantatnya pelan-pelan. Lubang boolnya langsung terbuka lebar, menganga sedikit, kelihatan dalemnya yang pink lembab dan sudah agak longgar. “Malem, Dik. Lelah ya hari ini? Seharian angkat semen berat. Mau langsung latihan beban… atau mau numpahin tenaga sisa ke bool satpam dulu?”
Dika ketawa kasar, tangan kasarnya langsung menggaruk kontolnya yang mulai ngaceng penuh. “Pantat lo emang sengaja bolong gitu? Lubangnya keliatan ngajak banget.”
Riko semakin berani. Dia jongkok nungging tinggi di depan Dika, pantatnya goyang pelan ke kiri dan kanan. “Ini sengaja, Dik. Biar gampang dicek. Kalau ada kuli yang mau, boleh langsung. Tapi… sebelum ngewe, boleh rimming dulu? Gue suka banget kalo lubang gue dijilatin sebelum dikentot kasar.”
Dika mengangkat alis, tapi matanya langsung berbinar nafsu. “Rimming? Lo mesum banget ya, Satpam. Oke, gue jilatin dulu bool lo.”
Dika jongkok di belakang Riko. Tangan kasarnya yang penuh kapalan memegang kedua pipi pantat Riko, meremas kuat-kuat sampai daging pantatnya meluber di sela jarinya. Dia tarik kedua pipi itu lebar-lebar, membuat lubang bool Riko menganga sempurna di depan mukanya. Bau tubuh Riko, campur sabun mandi pagi dan sedikit keringat, membuat Dika semakin horny. Lidahnya keluar, panjang dan kasar karena kebiasaan merokok. Dia mulai dari bawah: jilat pelan di perineum Riko, lalu naik ke lubang bool yang sudah menganga. Lidahnya menekan masuk, menjilat dalemnya yang lembab. Riko langsung mengerang panjang, badannya gemetar nikmat.
“Ahh… iya gitu, Dik… jilatin dalam-dalam… bersihin lubang satpam lo…”
Dika semakin rakus. Lidahnya masuk lebih dalam, muter-muter, menjilat dinding dalam lubang Riko yang sudah agak longgar. Suara cipratan air liur basah terdengar jelas. Dia hisap lubang itu seperti menyedot madu, lidahnya menekan-nekan titik sensitif Riko. Riko goyang pinggulnya pelan, mendorong pantatnya ke muka Dika. “Terus… jilatin lebih dalam… gue suka lidah kuli kasar gini…”
Sementara itu, pintu gym terbuka lagi. Masuk Andi (19 tahun), Budi (21 tahun), dan Cakra (18 tahun). Mereka bertiga dari proyek yang sama dengan Dika. Badan mereka penuh debu semen yang belum dibersihkan sempurna. Begitu melihat Riko nungging dan Dika lagi rimming ganas, mereka langsung nyengir lebar dan melepas baju mereka di tempat.
“Woi, satpam baru lagi dijilatin boolnya!” kata Andi sambil tertawa kasar. Badannya paling kekar, lengan seperti kayu jati, dada bidang penuh otot kerja.
Riko tidak berhenti mengerang. “Ayo pada ikut… rimming dulu semua… jilatin bool satpam sebelum kalian kentot kasar…”
Satu per satu mereka mendekat. Andi jongkok di samping Dika, ikut menjilat lubang Riko dari sisi lain. Lidahnya lebih kasar, menekan kuat. Budi dan Cakra bergantian meremas pantat Riko, jari mereka sesekali ikut masuk ke lubang sambil lidah mereka membersihkan sekitar. Empat lidah kuli muda yang kasar dan panas bergantian menjilat, menekan, dan menghisap lubang bool Riko. Riko gemetar hebat, kontolnya yang sedang ngaceng menetes-netes precum ke lantai.
“Enak banget… lidah kalian kasar… jilatin dalemnya… ahh… bikin lubang gue basah banget…”
Rimming berlangsung hampir 15 menit penuh. Mereka bergantian, tidak ada yang buru-buru. Dika hisap lubangnya kuat-kuat sampai bunyi slurp terdengar. Andi jilat dari bawah ke atas dengan lidah lebar. Budi dan Cakra fokus di pinggir lubang, menjilat sampai bersih. Lubang Riko semakin basah, mengkilap penuh air liur kuli, dan sudah menganga lebih lebar karena dirangsang lidah mereka.
Akhirnya Dika berdiri, kontolnya sudah ngaceng maksimal, kepala kontolnya mengkilap. “Udah cukup rimming. Sekarang gue kentot lo, Satpam.”
Tanpa aba-aba, Dika ludah sekali lagi ke kontolnya, lalu dorong pinggulnya maju. Kontol tebalnya masuk pelan ke lubang Riko yang sudah basah dan longgar karena rimming. “Ahh… enak… lubang lo licin banget sekarang… masih agak nyedot tapi longgar pas buat kuli kayak gue.”
Riko mendesah panjang, matanya setengah terpejam. “Dalemin, Dik… rusak bool gue… gue suka yang brutal…”
Dika mulai gerak. Dorong-dorong keras, pinggulnya menghantam pantat Riko dengan suara plok-plok-plok basah yang nyaring. Tangan kasarnya memegang pinggang Riko kuat, jarinya meninggalkan bekas merah. Setiap hentakan bikin pantat Riko bergoyang liar. Andi berdiri di depan, angkat kontolnya ke mulut Riko. “Isap dulu, Bang. Biar kontol gue basah juga.”
Riko buka mulut lebar, langsung telan kontol Andi sampai tenggorokan. Dia isap rakus, lidahnya muter-muter di kepala kontol sambil badannya maju mundur karena hentakan Dika.
Budi dan Cakra tidak tinggal diam. Mereka meremas pantat Riko, tampar-tampar pelan, dan sesekali jari mereka ikut masuk ke lubang di samping kontol Dika, narik-narik lubang supaya lebih longgar. “Bool lo emang murahan ya,” kata Budi sambil ketawa.
Sesi pertama berlangsung 12 menit. Dika mengerang keras, badannya mengejang. “Gue keluar… terima peju kuli gue, Satpam!” Dia dorong dalam-dalam, creampie pertama malam itu muncrat panas dan kental ke dalem lubang Riko. Banyak sekali, peju putih kental khas kuli muda yang jarang ngocok.
Dika tarik kontolnya pelan-pelan. Begitu keluar, lubang Riko menganga lebar, peju putih langsung meluber keluar, menetes ke lantai. Riko nungging lebih tinggi, tangannya sendiri narik kedua pipi pantat lebar-lebar. “Liatin… udah penuh peju Dika…”
Gantian Andi yang maju ke belakang. Kontolnya lebih panjang 18 cm. Dia langsung sodok tanpa nunggu lama. “Lubang lo udah penuh peju, licin banget.” Dia ngewe dengan gaya cepat dan pendek tapi kuat, setiap hentakan bikin tubuh Riko goyang. Riko masih mengisap kontol Budi di depan sambil mengerang.
Satu per satu kuli bergantian. Eko (22 tahun) dan Fajar (19 tahun) masuk tak lama kemudian, lalu disusul Galih (21), Hadi (18), dan Iwan (20). Total malam itu ada 9 kuli yang datang dan ikut serta. Mereka semua umur 18–22, badan kekar penuh otot kerja, kulit gelap, tangan kasar. Mereka semua sudah telanjang bulat, kontol tegang karena melihat pemandangan Riko yang sedang dirimming dan dikentot.
Rimming awal tadi diulang di tengah sesi. Setelah 4 creampie, Riko minta “istirahat rimming lagi”. Para kuli senang. Mereka bikin Riko nungging di bangku bench press, pantatnya diangkat tinggi. Sembilan lidah bergantian jilatin lubangnya yang sudah penuh peju. Mereka jilat peju yang meluber, hisap lubangnya, dan telan campuran peju mereka sendiri sambil ketawa kasar. “Enak rasanya peju kita campur lubang lo,” kata Andi sambil lidahnya masuk dalam.
Riko orgasme kering berkali-kali. Badannya gemetar, kontolnya menetes-netes tanpa disentuh. “Jilatin terus… bersihin bool gue dengan lidah kalian…”
Sesi kentot berlanjut hampir dua jam. Riko dipindah-pindah tempat: nungging di treadmill yang jalan pelan (dia jalan sambil dikentot), di squat rack sambil tangan diikat longgar, di leg press sambil badannya ditekan, bahkan di depan cermin besar supaya dia bisa melihat sendiri wajah mesumnya dan lubang yang semakin hancur.
Setiap creampie Riko minta ditarik pelan-pelan. “Tarik pelan… biar peju keluar banyak… gue mau liat lubang gue yang longgar ini.” Peju dari 9 muatan (beberapa kuli ronde kedua karena tenaga kuli memang kuat) membuat lubang Riko penuh banget. Saat ditarik, peju kental mengalir deras seperti susu kental manis putih, menetes ke lantai gym dan membentuk genangan besar.
Pukul 23.10, climax kencing dimulai. Semua kuli berdiri melingkar di sekitar Riko yang nungging di tengah matras utama. Lubangnya sudah sangat longgar, menganga lebar seperti mulut yang haus, peju putih masih mengalir pelan.
Dika memimpin. “Sekarang kita kencing bareng. Isi lubang satpam ini sampe penuh.”
Riko nyengir lebar, matanya penuh nafsu gila. “Iya… kencingin dalem… panasin bool gue…”
Satu per satu mereka arahkan kontol ke lubang Riko yang nganga. Kencing panas mulai muncrat deras. Dika duluan, alirannya kuat dan banyak, cairan kuning hangat masuk langsung ke dalem lubang, campur dengan peju, membuat bunyi cipratan basah yang mesum. Riko mengerang nikmat, “Ahh… panas… penuh… terus bang…”
Andi, Budi, Cakra, Eko, Fajar, Galih, Hadi, dan Iwan ikut-ikutan. Total 9 aliran kencing memenuhi lubang Riko. Perutnya agak kembung karena cairan yang masuk terlalu banyak. Kencing yang meluber menggenang di lantai matras, bau amis peju campur kencing yang tajam dan maskulin menyebar ke seluruh gym. Lantai di sekitar Riko basah total, genangan peju putih dan kencing kuning bercampur jadi satu.
Setelah kencing selesai, Riko masih nungging, lubangnya menganga lebar, campuran peju dan kencing mengalir deras ke lantai seperti air terjun kecil. Tapi malam belum selesai.
“ sekarang… bersihin bool gue,” kata Riko dengan suara serak mesum. “Bergantian jilatin lubang gue yang penuh ini. Sambil gue jilat lantai yang ketumpahan dari bool gue.”
Para kuli tertawa kasar tapi excited. Dika yang pertama jongkok di belakang Riko. Lidahnya kembali menjilat lubang yang penuh campuran. Dia hisap kuat, menelan peju dan kencing mereka sendiri, lidahnya masuk dalam membersihkan dinding lubang Riko. Riko mengerang puas.
Sementara itu Riko menunduk, lidahnya menyentuh lantai gym yang basah. Dia jilat genangan peju putih kental dan kencing kuning yang tadi meluber dari lubangnya sendiri. Rasa asin, pahit, dan amis memenuhi mulutnya. Dia jilat dengan rakus, lidahnya menjilat lantai seperti anjing haus, menelan campuran itu sambil pantatnya masih dijilati Dika.
Satu per satu bergantian. Andi jilatin lubang Riko sambil tangannya narik pipi pantat lebih lebar. Budi ikut, lidahnya lebih dalam. Cakra yang paling muda jilatin dengan semangat, matanya membelalak. Mereka semua bergantian membersihkan lubang Riko dengan lidah, menelan sisa peju dan kencing mereka sendiri.
Riko terus jilat lantai. Genangan semakin berkurang karena dia jilat habis. Lidahnya menyapu setiap tetes, menelan semuanya. “Enak… rasa peju dan kencing kalian di lantai… gue jilat semuanya…”
Sesi pembersihan ini berlangsung 25 menit. Setiap kuli sempat jilatin lubang Riko minimal dua kali. Lubang Riko akhirnya bersih, tapi tetap longgar dan menganga karena sudah dirusak sepanjang malam. Riko sendiri sudah orgasme berkali-kali, badannya lemas tapi puas.
Akhirnya, pukul 23.45, Riko bangkit pelan. Kakinya goyang karena lubang boolnya terasa sangat longgar dan sensitif. Dia jalan pelan ke depan cermin besar, masih nungging sedikit. Tangan kanannya narik kedua pipi pantat lebar-lebar sekali lagi.
“Liatin… ini hasil shift malam pertama gue,” katanya sambil nyengir mesum ke cermin dan ke kamera CCTV gym yang merekam semuanya. “Bool satpam longgar milik kuli semua. Penuh rimming, creampie, kencing, dan sekarang sudah dibersihin lidah kalian. Besok malam… siapa yang mau dateng lagi lebih awal buat rimming dulu dan numpahin tenaga?”
Para kuli ketawa kasar, tepuk bahu Riko, dan bilang mereka pasti dateng tiap malam. Beberapa bahkan sudah janji bawa teman kuli lain besok.
Riko tersenyum puas, shift malamnya baru saja dimulai, dan boolnya sudah jadi milik semua kuli di gym ini.
File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)
📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)



Users Today : 105
Users Last 30 days : 847
Total Users : 848
Views Today : 427
Views Last 30 days : 3835
Total views : 3836
Who's Online : 1