
Bonus foto buat kamu (tiap episode beda):
Di pinggir proyek apartemen mewah yang masih dalam pembangunan, ada sebuah gang kosan sederhana yang penghuninya kebanyakan pekerja harian. Malam itu udara terasa lembab dan panas sekali, seperti badan para kuli yang baru pulang kerja.
Bima, 25 tahun, adalah salah satu kuli bangunan paling gagah di proyek itu. Tubuhnya atletis berotot keras hasil angkat besi, angkut semen, dan dorong gerobak seharian. Dada bidangnya penuh peluh, perut sixpacknya selalu basah di balik kaos oblong hitam yang sudah tipis karena sering dicuci. Wajahnya tegas, rahang kokoh, dan suaranya berat kasar seperti orang yang biasa teriak perintah di lapangan. Meski capek, nafsu seksnya selalu meledak-ledak tiap pulang malam.
Sementara itu Arsya, 21 tahun, adalah mahasiswa jurusan desain yang kos di sebelah kamar Bima. Badannya lebih ramping tapi tetap atletis, hasil gym ringan dan lari pagi. Kulitnya licin, pantatnya bulat kenceng, dan dia punya sisi liar yang jarang orang tahu. Malam ini, seperti biasa, dia memanjakan diri sendirian di kamar dengan cahaya lampu merah temaram.
Bima baru saja memarkir motornya di gang sempit. Kaosnya basah kuyup nempel di dada dan perutnya. Begitu lewat depan kamar Arsya, pintu cuma terbuka sedikit. Cahaya merah keluar bersama suara desahan yang langsung membuat darahnya mendidih.
“Ahh… fuck… dalem banget… Bima… kontol lo gede banget…”
Bima berhenti. Nafsunya langsung naik. Dia mengintip dari celah pintu.
Arsya sedang nungging di kasur, celana pendeknya sudah diturunkan sampai lutut. Dia memakai lingerie hitam super seksi: bra renda tipis yang menekan dada bidangnya, G-string kecil yang hampir tak bisa menutupi kontolnya yang tegang keras, dan stocking hitam yang membalut paha berototnya dengan sempurna. Tangan kanannya mengocok kontolnya pelan, tangan kirinya mendorong-dorong dildo besar yang masuk-keluar lubang pantatnya yang sudah mengilap oli.
“Uhh… Bima… entot gue dong… gue mau kontol lo yang bau keringet itu…”
Bima tak tahan lagi. Kontolnya sudah ngaceng keras di dalam celana pendek, menekan kain sampai nyeri. Dia dorong pintu pelan dan masuk tanpa ketuk.
“Anjir… lo emang pelacur ya, Arsya?” suara Bima berat dan penuh nafsu.
Arsya kaget sesaat, tapi langsung nyengir nakal. Dia tidak berhenti nungging, malah menggoyang pantatnya pelan sambil dildo masih nyantol di dalam lubangnya. “Pulang kerja ya, Bang? Badan lo basah keringet gini… lo ga tahan kan liat gue? Kontol lo udah ngaceng gede banget tuh, keliatan dari celana.”
Bima langsung melepas kaos dan celana dalam satu gerakan kasar. Kontolnya yang 18 cm, tebal, berurat, dan kepala jamurnya sudah belepotan precum langsung loncat keluar. “Lo sengaja ya tiap malem buka pintu gini? Biar gue ngintip dan ngaceng?”
“Iya Bang…” Arsya menjawab genit sambil menggoyang pantatnya lebih lebar. “Gue tau lo suka liat gue pake lingerie. Gue beli yang ini khusus buat lo. Liat, G-stringnya cuma nutupin ujung kontol gue doang. Lo suka ga?”
Bima naik ke kasur, tangannya langsung meremas pantat Arsya yang kenceng. Jari-jarinya meninggalkan bekas merah. “Suka banget. Lo emang jalang. Nungging pake lingerie gini nunggu kontol kuli bangunan yang bau keringet.”
Dia tarik dildo itu kasar sampai keluar dengan bunyi “plop” basah. Lubang Arsya menganga merah, masih berkedut minta diisi.
“Bang… pelan dulu…” Arsya merengek, tapi matanya penuh nafsu.
“Pelan apaan? Lo minta brutal tadi,” Bima mendengus. Dia ludahi kontolnya sekali, lalu tempelkan kepala kontolnya yang gede ke lubang Arsya. Tanpa aba-aba, dia dorong masuk sekaligus sampai pangkal.
“AAHHH! Gede banget Bang!! Robek memek gue!!” Arsya jerit kenikmatan, tangannya mencengkeram seprai.
“plok… plok… plok…” bunyi kontol Bima menghantam lubang Arsya dengan ganas. Tiap dorongan dalem banget, bolanya ngeplak pantat Arsya keras.
“Enak banget memek pantat lo, Arsya! Sempit, panas, nyedot kontol gue!” Bima menggeram sambil terus mengentot. “Lo suka ya dikasih kontol kuli yang capek kerja seharian?”
“Iya Bang! Gue suka kontol lo yang tebal dan bau keringet! Entot gue lebih kenceng… rusak lubang gue!” Arsya balas sambil goyang pantatnya ke belakang, menyesuaikan irama. “Gue mau jadi pelacur lo… tiap malem lo pulang, gue nunggu di kasur pake lingerie.”
Bima tertawa kasar. Dia angkat satu kaki Arsya tinggi, ganti posisi side doggy supaya lebih dalam. “Pelacur gue doang kan? Jangan berani kasih lubang ini ke orang lain.”
“Gak Bang… cuma kontol lo yang boleh masuk. Kontol lo gede, tebal, bikin gue ketagihan.” Arsya mendesah panjang tiap dorongan. “Ahh… dalem banget… sampe perut gue Bang… lebih kenceng!”
Bima menepuk pantat Arsya keras sampai memerah. “Minta yang bener, jalang! Bilang lo mau apa?”
“Gue mau kontol lo rusak memek pantat gue! Entot brutal… gue mau creampie panas lo yang kental! Isi perut gue Bang… gue mau hamil sama sperma kuli bangunan!!”
Bima semakin ganas. Keringatnya menetes ke punggung Arsya. “Lo emang binal. Mahasiswa pake lingerie nungging minta dientot kuli. Besok lo beli lingerie yang lebih seksi lagi. Yang ada tali di pantat, biar gue bisa robek pas mau ngentot.”
“Iya Bang… besok gue pake yang transparan…biar lo bisa gigit puting gue sambil entot.” Arsya mengocok kontolnya sendiri cepat. “Bang… gue mau crot… boleh?”
“Belum! Tahan dulu!” Bima tarik kontolnya keluar sebentar, lalu balik ke posisi doggy biasa. Dia pegang pinggang Arsya kuat-kuat dan menghantamkan kontolnya dengan ritme cepat dan kasar. “Liat pantat lo goyang… enak banget. Lubang lo nyedot kontol gue kayak memek perawan tapi udah rusak.”
“Karena cuma kontol lo yang rusakin gue tiap malem!” Arsya jerit. “Bang… crot di dalem… please… gue mau rasain sperma lo banjir di dalam!”
Bima menggeram keras. Dorongannya semakin cepat. “Mau creampie? Ngomong yang bener!”
“Crot di memek pantat gue Bang! Isi sampe meluber! Gue mau sperma lo yang banyak… gue mau lo hamilin gue kayak pelacur!!”
Dengan dorongan terakhir yang sangat dalam, Bima mencapai klimaks. “Aaaarrghh!! Terima ini, pelacur!!”
Sperma panasnya muncrat deras di dalam lubang Arsya, banjir kental dan banyak. Arsya juga orgasme bersamaan, kontolnya muncrat tanpa disentuh, membasahi kasur.
Bima tidak langsung mencabut. Dia biarkan kontolnya berdenyut di dalam sambil menikmati lubang yang berkedut. “Enak banget… memek lo penuh pejuh gue sekarang.”
Dia pelan-pelan tarik kontolnya keluar. Lubang Arsya menganga lebar, creampie putih kental langsung meleleh keluar.
“Gue ga buang-buang pejuh gue,” kata Bima sambil nyengir mesum. Dia jongkok di belakang Arsya, muka tepat di pantatnya, lalu menjilat creampie yang meleleh dengan lahap.
“Ahh… Bang… jilat lagi… bersihin memek gue pake lidah lo…” Arsya menggigil keenakan, pantatnya didorong ke belakang.
Bima menjilat dalam-dalam, lidahnya masuk ke lubang yang masih berdenyut, menghisap sperma campur cairan lubang Arsya. “Enak… rasa memek lo campur pejuh gue… manis asin gitu.” Dia telan sebagian, lalu ludahkan lagi ke lubang Arsya.
“Bang… lo mesum banget… tapi gue suka…” Arsya mendesah. “Besok lo pulang lebih awal ya? Gue mau lo entot gue di kamar mandi dulu, badan lo masih keringetan.”
Bima tertawa. Dia naik lagi ke atas Arsya, memeluknya dari belakang sambil kontolnya yang masih setengah tegang menggesek pantat Arsya. “Besok gue mau entot lagi. Lo mau gue rekam juga ga? Biar lo liat sendiri betapa binalnya lo pas di entot.”
Arsya berbalik, sekarang mereka face to face. Dia mencium bibir Bima dalam-dalam, lidah mereka saling berbelit. “Rekam aja Bang… gue mau nonton ulang pas lagi sendirian. Tapi lo janji, tiap malam kontol lo harus ngisi gue. Gue ga mau cuma dildo lagi.”
“Mau banget,” Bima menjawab sambil meremas dada Arsya. “Lo resmi jadi pelacur pribadi gue sekarang. Tiap pulang kerja, lo harus nunggu di kasur pake lingerie, lubang udah becek, siap dientot.”
“Iya Bang… gue janji.” Arsya tersenyum nakal. “Sekarang… kontol lo masih keras. Mau ronde dua?”
Bima langsung balik badan Arsya, dorong kontolnya masuk lagi ke lubang yang masih penuh creampie. “Ronde dua, tiga, sampe pagi. Malam ini kosan penuh desahan lo.”
Mereka terus bercinta ganas sampai subuh. Suara “plok plok plok ” bercampur desahan dan kata-kata mesum memenuhi kamar kecil itu. Bau sex, keringet, dan pejuh memenuhi udara. Arsya akhirnya tertidur dengan lubang pantatnya masih meleleh creampie, sementara Bima memeluknya dari belakang, kontolnya masih setengah di dalam.
File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)
📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)



Users Today : 127
Users Last 30 days : 869
Total Users : 870
Views Today : 463
Views Last 30 days : 3871
Total views : 3872
Who's Online : 2