Malam yang Berubah: (9) Bima Dipake Semaleman

Ada bonus foto buat kamu (tiap episode beda): 👇

Setelah hari yang semakin gila di proyek pada Episode sebelumnya, di mana Bima terang-terangan menjadi toilet kencing dan gudang pejuh para kuli, nafsunya semakin tidak terkendali. Bahkan, Bima sudah jarang sekali pulang ke kosan. Hampir dua minggu ini dia memilih tidur di bedeng kuli setiap malam dengan alasan “lebih praktis dekat proyek”. Padahal semua tahu kebenarannya: Bima sudah benar-benar ketagihan menjadi bot tetap di bedeng. Dia lebih suka bangun setiap pagi dengan lubang pantat yang masih basah dan penuh sisa-sisa malam sebelumnya daripada tidur nyaman di kasur kos yang sepi.

Malam itu, jam 11.30 malam, suasana bedeng sudah gelap dan pengap. Hanya lampu sorot kuning temaram di luar yang memberikan sedikit cahaya. Dodi, Doni, dan Putra baru saja selesai mandi air dingin di belakang bedeng. Begitu ketiganya masuk, mereka langsung disambut pemandangan yang sudah tidak asing lagi.

Bima sudah siap di tengah kasur lipat. Dia berbaring telentang, kedua kakinya diangkat tinggi dan ditarik ke dada, membuat lubang pantatnya menganga lebar menghadap ke atas seperti mangkuk terbuka yang siap diisi. Jeans lusuh bolongnya masih melekat di pinggang, tapi bagian belakang sudah robek parah sehingga seluruh pantat item kekarnya terpampang jelas. Lubangnya sudah basah dan berkedut, masih ada sisa creampie dari malam sebelumnya yang menetes pelan ke kasur.

Bima menatap ketiga kuli dengan mata penuh lapar, suaranya serak dan genit: “Malam ini gue mau kalian gilir gue sampe pagi… gue nggak mau tidur sama sekali. Kalian bertiga main giliran aja. Satu orang tidur dua jam, dua orang lain terus pake gue… gue mau dipake tanpa berhenti sampe matahari terbit.”

Dodi langsung nyengir lebar, kontolnya cepat ngaceng keras melihat posisi Bima. “Anjir Bang Bima… lo udah gila beneran ya? Lo mau kami gilir sampe pagi? Lo bukan cowok lagi, lo cuma lubang hidup sekarang! Oke, kita giliran. Gue sama Doni dulu, Putra tidur dua jam pertama.”

Doni tidak buang waktu. Dia langsung naik ke kasur, memegang paha Bima kuat-kuat dan mendorong kontolnya masuk ke lubang yang sudah menganga lebar. “Plok! Plok! Plok! Plok!” Bunyi basah dan ritmis langsung memenuhi bedeng sempit itu.

Doni menggeram sambil menghantamkan pinggulnya dengan ganas. “Plok plok plok! Liat lubang lo… udah kayak mangkuk toilet! Lo sengaja nungging gini biar kami gampang kencing dan ngentot ya, bot murahan?!”

Bima mendesah keras, tangannya memegang kedua pipi pantatnya sendiri supaya lubangnya terbuka lebih lebar. “Iya Bang Doni… entot gue… gue toilet malam kalian… kencingin lubang gue… crot di dalem… gue mau banjir sepanjang malam… jangan pelan-pelan…”

Dodi naik ke samping kepala Bima, memegang rambutnya kasar dan memasukkan kontolnya ke mulut Bima. “Glok! Glok! Glok! Isap kontol gue dalam-dalam, Bangsat! Lo minta digilir sampe pagi? Berarti lubang lo bakal diisi berkali-kali malam ini! Lo emang pelacur bedeng yang paling mesum! Ngorok yang enak, jangan cuma diam!”

Plok! Plok! Plok! Plok!

Dua jam pertama benar-benar ganas. Dodi dan Doni bergantian menghantam lubang Bima. Kadang mereka double penetration, kadang satu di lubang dan satu di mulut. Setiap kali salah satu crot, mereka langsung kencing di atas creampie yang masih hangat.

“Currrr… currrr… currrr…” Suara air kencing panas memenuhi lubang Bima yang sudah penuh.

Doni tertawa kasar sambil terus mengentot. “Currrr… minum air kencing gue di lubang lo yang penuh peju! Lo suka ya Bang? Lubang lo jadi tempat buang air besar dan kecil kami sekaligus!”

Bima hanya bisa menjawab dengan suara teredam karena mulutnya penuh kontol Dodi. “Mmmphh!! Iya… banjir gue… gue haus pipis dan peju kalian… terus… jangan berhenti… gue mau lebih…”

Jam 1.30 pagi, Putra bangun dari tidurnya. Dodi dan Doni bergantian istirahat sebentar. Sekarang giliran Putra dan Dodi yang menggilir Bima.

Putra mengangkat kedua kaki Bima lebih tinggi lagi, lalu mendorong kontol gede 21 cm-nya masuk sangat dalam. “Plok! Plok! Plok! Plok!”

Putra menggeram dengan suara berat. “Plok plok plok! Liat lubang lo udah longgar banget Bang Bima! Dua jam baru udah kayak terowongan! Lo minta digilir sampe pagi? Berarti besok lo kerja sambil lubang lo masih netes peju dan kencing kami seharian!”

Bima jerit keenakan, tubuhnya gemetar. “Plok plok plok! Iya Bang Putra!! Kontol lo paling gede… ngebor perut gue!! Gue mau diisi sampe pagi… gue pelacur kalian… rusak gue…”

Dodi yang sedang mengocok kontolnya tertawa kasar. “Lo minta fist sekarang? Oke, tunggu gue siapin.”

Dodi melumuri tangannya dengan sisa cairan yang meleleh dari lubang Bima, lalu pelan-pelan memasukkan empat jari, kemudian lima, hingga seluruh kepalan tangannya masuk ke dalam lubang Bima.

Bima menggeliat hebat, matanya mendelik karena sensasi penuh yang luar biasa. “Aaaahhh!! Tangan lo masuk… fist gue Bang Dodi!! Rusak lubang gue!! Gue cuma lubang sekarang… bukan cowok lagi!! Lebih dalem!!”

Dodi memutar-mutar kepalan tangannya di dalam sambil nyengir puas. “Liat ini… tangan gue hilang di lubang lo! Lo emang rusak parah Bang Bima! Besok lo jalan sambil lubang lo longgar kayak gini… lo suka ya dihina gini? Jawab keras, pelacur!”

Bima menjawab dengan suara gemetar penuh kenikmatan. “Iya… gue suka… hina gue lebih kasar… gue cuma lubang buang sperma dan kencing… fist gue lagi… gue mau dua tangan!!”

Doni yang baru bangun ikut maju. Dia melumuri tangan kirinya dengan cairan yang sama dan mencoba memasukkan bersama tangan Dodi. Bunyi basah “plok… plok…” terdengar saat dua tangan berusaha masuk bersamaan.

Doni menggeram excited. “Dua tangan sekarang!! Liat lubang lo melebar parah!! Lo bukan anus lagi, lo cuma lubang raksasa!! Lo minta digilir sampe pagi? Kami kasih sampe lo ga bisa jalan besok!!”

Bima menjerit campur nikmat dan sensasi penuh yang intens. “Aaaahhh!! Dua tangan!! Gue rusak!! Gue pelacur bedeng!! Terus… jangan cabut… gue mau crot cuma dari fist kalian!!”

Mereka terus menggilir Bima sepanjang malam tanpa henti. Setiap dua jam bergantian istirahat singkat. Bima tidak diperbolehkan tidur. Dia harus tetap dalam posisi ngangkang atau nungging, lubangnya selalu terbuka untuk siapa saja yang bangun.

Jam 4 pagi, semua sudah bangun. Mereka memutuskan main bertiga sekaligus.

Putra menggendong Bima di udara sambil menghantam dari depan, Dodi double dari belakang, dan Doni memasukkan kontolnya ke mulut Bima. “Plok! Plok! Plok! Plok!”

Putra menggeram keras. “Gendong dia tinggi-tinggi! Double di lubang rusak ini! Plok plok plok! Lo minta sampe pagi? Ini dia Bang Bima… kami kasih full malam!!”

Bima suaranya sudah sangat serak dan habis. “Plok plok plok!! Iya… entot gue… gue mau creampie terakhir… isi gue penuh… gue mau lubang gue banjir sampe pagi!!”

Akhirnya mereka mencapai klimaks besar bersama. Ketiganya crot hampir bersamaan di dalam lubang Bima yang sudah sangat penuh.

“Crot! Crot! Crot! Crot!”

Dodi: “Crot crot crot!! Ambil pejuh gue yang terakhir!! Lubang lo penuh banget sekarang!!”

Doni: “Gue crot di dalem juga!! Lo hamil sama pejuh kami bertiga!!”

Putra: “Crot crot!! Gue crot paling dalem!! Perut lo kembung pejuh kuli sekarang!!”

Lubang Bima menganga sangat lebar, creampie putih kental meluber deras ke kasur lipat yang sudah basah dari malam-malam sebelumnya.

Bima masih mendesah lemah: “Kencingin gue… kencingin muka gue… basahin bedeng yang udah penuh… gue mau mandi kencing terakhir…”

Ketiga kuli berdiri mengelilingi Bima yang masih ngangkang lemas. Mereka mulai kencing bersamaan.

“Currrr… currrr… currrr…”

Dodi: “Currrr… minum pipis gue di muka lo, bot!! Lo suka mandi kencing tiap pagi ya?!” Sambil kencing deras, Dodi meludah kasar ke wajah Bima. “Cuih… cuih… terima ludah gue juga, pelacur murahan!”

Doni ikut meludah ke dada dan perut Bima. “Cuih… cuih… lo basah kuyup sekarang… lo emang pelacur paling mesum di proyek!!”

Putra kencing langsung ke lubang Bima yang penuh pejuh sambil ikut meludah. “Cuih… cuih… campur semua… banjir bedeng ini!!”

Bedeng pagi itu benar-benar banjir. Lantai, kasur, dan seluruh tubuh Bima basah kuyup campuran pejuh, air kencing, dan ludah.

Setelah selesai, ketiga kuli jongkok di belakang Bima yang masih nungging lemas. Mereka berebut menjilat lubang Bima yang banjir.

“Slurp… slurp… slurp… slurp…”

Dodi: “Slurp slurp… enak banget creampie kami di lubang lo… gue telan semua… lo bot terbaik Bang Bima…”

Doni: “Slurp slurp… gue rebut… lubang lo masih berdenyut… gue hisap pejuh Putra juga… rasanya asin campur manis…”

Putra: “Slurp slurp… lo rusak parah… besok malam kita ulang lagi… lo minta digilir sampe pagi tiap malam ya? Kami kasih…”

Bima hanya bisa mendesah lemah, tubuhnya gemetar hebat, lubang pantatnya menganga lebar dan masih menetes cairan. Suaranya hampir hilang.

Bima: “Iya… tiap malam… gue mau digilir sampe pagi… gue pelacur bedeng kalian… lubang gue milik kalian…”

Matahari pagi mulai terbit di ufuk timur. Ketiga kuli bersiap-siap berangkat kerja, sementara Bima masih terbaring lemas di kasur yang basah. Tubuhnya penuh cairan, wajahnya belepotan ludah, dan lubangnya rusak parah.

Namun di wajah Bima masih tersisa senyum puas mesum. Dia tahu malam ini akan diulang lagi… dan lagi… sampai dia benar-benar tidak bisa jalan.

File tersedia dalam format .PDF (1.2 MB)

📥 DOWNLOAD FULL PDF (KLIK 2X)
Author: blue banana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *